Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Rasa Rindu


__ADS_3

Yuuren sedang duduk berdiam diri ditaman setelah pembagian kelompok tadi, pikirannya menerawang jauh sambil menatap langit yang berawan. Hari  kian mulai petang, terbukti dari senja yang kini berganti malam.


"Yuka-chan" gumamnya lirih, baru sebentar saja ia sudah merindukan saudara kembarnya apalagi ia harus berada disini selama sebulan? Tanpa mengabari satu sama lain? Ia pasti akan sangat merindukan ayah, ibu dan saudaranya.


Ia menghela nafas kecil, teringat dengan pertemuan yang di hadirinya tadi. Ia akan belajar disini selama sebulan, memang Kakashi ada bersamanya meskipun ditempat yang berbeda namun ia bersyukur setidaknya ada seseorang yang ia kenal di kerajaan asing ini.


Ya bagi dirinya ini adalah kerajaan asing, karena dirinya baru pertama kali menghadiri atau mengikuti pelatihan seperti ini.


Malam kian larut, namun Yuuren masih betah dengan posisinya.


"Yang mulia?" panggil seseorang.


Yuuren tersentak dari lamunannya ketika mendengar suara tersebut, ia tersenyum lega saat orang yang memanggilnya adalah Kakashi.


Ia merutuk dalam hati bagaimana bisa dirinya melamun ditempat sepi seperti ini? Bagaimana jika ada seseorang yang akan mencelakainya?


"Yang mulia." panggilnya lagi, Kakashi hawatir karena sang  pangeran tak kunjung memberi respon.


"Ya sensei?" jawabnya pelan.


"Anda sudah makan?"


"Sudah" jawab Yuuren singkat, bohong. Sebenarnya ia belum makan setelah pertemuan dilaksanakan, ia hanya makan waktu di perjalanan saja.


Ia mengalihkan pandangannya ke atas pura-pura melihat sang rembulan yang tampak malu-malu menunjukan dirinya, padahal ia menghindari tatapan dari gurunya yang seperti mengintimidasi.


"Saya tahu anda berbohong pada saya yang mulia." ujar Kakashi lirih.


Yuuren yang mendengarnya tersenyum tipis, ia tahu Kakashi mengenal baik dirinya tapi untuk sekarang ia tidak mau bertemu dengan orang itu dulu.


Ia belum siap, apalagi besok ia harus satu kelompok dengannya.


"Saya tidak merasa lapar sensei." jawab Yuuren datar, ia melirik sang guru lewat ekor matanya.


"Tapi yang mulia, anda harus makan malam dengan para pangeran lainnya juga. Ini adalah cara bersosialisasi dengan kelompok anda,  agar yang mulia bisa mengenal baik teman satu kelompok anda." ucap Kakashi panjang lebar.


"Saya ingin sendiri sensei tolong mengertilah." balas Yuuren tak kalah lirih.


Kakashi menghela nafasnya, memang sangat susah membujuk sang pangeran jika sedang dalam suasana hati yang buruk.


"Baiklah aku akan kesana" ujar Yuuren pelan setelah berkelut dengan peikirannya.


"Tapi yang mulia-"


"Ada apa sensei?" tanya Yuuren pelan.


"Memang sudah sangat terlambat jika anda kesana sekarang."


"Memangnya mengapa sensei?"


"Jam makan malam pun telah usai." jawab Kakashi pelan.


Yuuren tertegun sejenak, selama itukah ia berada disini? Sampai ia melewatkan jam makan malam? Namun dalam hati ia bersyukur karena tak melihat orang itu. Setidaknya untuk sekarang, walaupun besok ia harus bertemu dengan orang itu.


Menghela nafas sejenak sebelum beranjak berdiri, ia melihat bulan sekali lagi lalu menatap Kakashi yang masih setia di tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Lalu mengapa sensei menyuruhku makan malam dengan mereka padahal sensei tahu jam makan malam telah usai." ujar Yuuren sambil menatap gurunya kesal.


"Saya hanya ingin membujuk anda agar segera masuk ke kamar anda yang mulia, udara malam tak baik untuk kesehatan anda"


Yuuren berpikir sejenak, memang apa yang dikatakan Kakashi ada benarnya. Ia harus menjaga kesehatannya selama masa pelatihan.


"Saya sarankan agar yang mulia cepat beristirahat, malam semakin larut dan anda harus bangun pagi untuk latihan pertama anda." saran Kakashi bijak.


Yuuren hanya mengangguk mengiyakan, dirinya juga lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Apalagi dirinya belum istirahat sama sekali, kecuali duduk di bangku taman tadi.


Setelah itu mereka beranjak dari taman menuju kamar Yuuren, Kakashi mengantarkan sang pangeran sampai di kamarnya. Ia hawatir, takut ada seseorang yang mencelakai pangerannya.


Yuuren menatap heran pada senseinya karena mengikuti sampai di depan kamarnya.


Kakashi yang menyadari itu segera tersenyum tipis kemudian berujar pelan.


"Saya hanya hawatir dengan keselamatan anda yang mulia."


Yuuren tampak tidak suka dengan jawaban Kakashi, namun ia terlalu lelah untuk menegur.


Dan ia hanya mengangguk untuk menanggapi, ia pun masuk kedalam dan mengganti Hakamanya dengan yukatta polos yang biasa ia gunakan untuk tidur.


Tak perlu waktu yang lama sampai ia terlelap, melangkah menuju alam mimpi.


Sedang Kakashi kembali ke tempatnya, ia datang kemari hanya untuk mengecek keadaan sang pangeran.


****


Malam semakin larut namun tak mampu membuat para pemuda untuk segera lekas beristirahat, mereka yang kini tengah berada di perpustakaan untuk membicarakan satu hal yaitu rencana untuk pelatihan besok. Koharu sosok perempuan sendiri di kelompok ini memutuskan untuk tidur karena malam yang semakin larut, sedang mereka para pemuda masih bersikeras  terjaga termasuk putra mahkota kerajaan Kurosawa sendiri.


"Apa maksudmu dengan kata jadi tersebut?" jawab Hidan dengan sebelah alis terangkat heran.


Sasori mendengus samar, ia tak habis pikir dengan jalan pikir sang sahabatnya yang satu ini.


"Kelompokmu dari kerajaan mana saja?" tanya Sasori pelan.


"Tachibana dan Takahashi." jawab Hidan datar.


Sasori menautkan alisnya heran, ia tidak salah dengar kan?


Hidan yang tau Sasori terdiam malah menepuk bahunya pelan sekedar mengecek ke konsentrasian Sasori, namun sahabatnya masih bengong.


"Kenapa kau tampak tak percaya?" tanya Hidan yang masih terheran dengan ekspresi dari Sasori.


"Tidak apa, aku hanya terkejut." sanggahnya kemudian.


Hidan mengangguk mengiyakan, ia menoleh kearah Deidara setelah mendengar kalimat yang terlontar dari pemuda berambut pirang tersebut.


"Aku tak percaya ini, bagaimana bisa kita disuruh ikut pelatihan juga" kata Deidara dengan wajah kesal dan bercampur jengkel.


"Jadi kau keberatan hm?"


"Sebenarnya sih iya, tapi tetap saja aku tak bisa menolak perintah yang keluar langsung dari bibir yang mulia pangeran kan?" jawabnya kalem namun dengan nada nyelekit.


"Jangankan kau, aku sendiri masih heran, bukankah kita sudah bukan anak kecil yang harus belajar beladiri? Kita bahkan sudah mahir itu sebabnya kita digabung menjadi salah satu pasukan khusus di kerajaan ini." ujar Kei dengan wajah congkaknya.

__ADS_1


"Kita memang sudah menguasai semua sistem yang ada, namun apa salahnya jika kita mengikuti kembali pelatihan ini? Hitung-hitung latihan saja, selama ini kita hanya latihan dengan lawan yang sudah kita hapal cara menyerangnya. Dengan ini kita akan tahu musuh yang akan kita hadapi nanti. Tak ada salahnya kan?" ucap Itona kalem, terus terang saja dirinya tidak suka dengan kata-kata yang keluar dari sahabat birunya.


"Ya Itona benar, kau jangan lupa masih ada seseorang yang lebih hebat ketika ada orang yang mengakaui bahwa dirinyalah yang terhebat." ucap Lin dengan nada datarnya yang khas.


"Apa kalian sudah membagi kelompok?" tanya Hidan berusaha mengalihkan pembicaraan yang sempat memanas.


"Ya" jawab Sasori setelah lama terdiam.


"Siapa saja?" tanyanya lagi.


"Aku dengan Deidara. Koharu, Nato dan Pein, Itona dengan Kei. Kakoru, Tobi dan Yamaguchi." ujar Sasori pelan dan tenang, tak ada satupun yang menolak karena ucapannya yang tadi sudah disutujui terlebih dahulu sebelum sang pangeran ikut bergabung dengan mereka.


"Baguslah kalau begitu" jawab Hidan tenang.


"Baiklah, malam mulai larut sebaiknya kalian istirahat untuk besok" ujar Hidan sambil beranjak diikuti para sahabatnya.


Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan badan, agar saat latihan esok mereka akan mengikutinya dengan baik.


*****


Raido menatap istrinya lembut, ia tahu Kurenai hawatir pada Yuuren anak mereka ia juga hawatir namun menutupinya dengan raut datar dan dinginnya.


"Yang mulia, apakah anda tak hawatir pada Yukari?" tanya Kurenai pada sang suami, nadanya lirih saat menanyakan hal itu.


"Jujur saja aku juga hawatir pada Yukari, namun kita harus tetap mendukungnya aku yakin dia akan baik-baik saja apalagi ada Kakashi yang akan menjaganya selama disana. Dan hilangkan sikap formalmu padaku saat kita hanya berdua saja." jawab Raido panjang lebar.


"Gomen.." ujarnya lirih.


Kemudian mereka dikejutkan dengan kedatangan Yukatta anak bungsu mereka.


Setelah sang pelayan memberi tahu kedatangan sang putri ke kediamannya Kurenai menghapus air matanya yang sempat menetes tadi.


"Yang mulia putri Yukatta datang berkunjung." ucap pelayan memberi tahu kedatangan Yukatta.


Yukatta masuk kedalam kamar sang ibu, ia tersenyum manis kepada kedua orang tuanya.


"Apa aku mengganggu Otou-san? Okaa-san?" tanyanya pelan pada sang ayah dan ibunya.


"Tidak putriku, Kau tidak mengganggu sama sekali." jawab Kurenai dengan lembut dan menarik Yukatta kedalam pelukannya yang hangat, saat ini ia seperti memeluk Yukari. Kurenai semakin mengeratkan pelukannya tatkala rasa rindu kembali datang, ia heran baru juga satu hari Yukari meninggalkan kerajaan namun terasa seperti setahun berlebihan memang tapi itulah kenyataannya.


Baru satu hari ia sudah begini, apalagi satu bulan tanpa kabar apapun dari putrinya.


"Boleh aku menginap disini okaa-san? Aku tidak bisa tidur dengan tenang tadi" ucap Yukatta pelan sambil membenamkan wajahnya pada sang ibu.


Kurenai yang mendengarnya tersenyum simpul, kemudian ia menoleh pada Raido untuk meminta persetujuan.


Raido sadar istrinya kini menatap kearah nya, ia juga mengerti oleh sebab itu ia mengangguk menyetujui permintaan putri bungsunya.


Mereka pun beranjak tidur, dengan Yukatta yang berada ditengah-tengah mereka.


Dalam hati mereka ingin berkumpul seperti biasa, namun Yukari tak bisa hadir disini untuk sementara ya hanya sementara sampai masa pelatihan itu selesai mereka akan dengan sabar menunggu Yukari pulang.


Merekapun terlelap setelah Yukatta terlelap.


Mereka tidak tahu bahwa orang yang mereka rindukan ternyata merindukan mereka juga.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2