Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Sebuah Petunjuk


__ADS_3

A-apa?!"


Deidara menganggukan kepalanya, tanda informasi yang didapatnya tadi memanglah benar.


"Benar Danna, aku sengaja menyuruh salah satu burung yang aku punya untuk mengawasi tuan puteri. Dan aku menemukan ini." Ujar Deidara menyodorkan sapu tangan pada Sasori. Disana terukir nama Genma.


"Aku.. aku masih tidak percaya. Bukankah dia paman dari tuan puteri sendiri?" Ujar Sasori pelan. Takut ada seseorang mendengar pembicaraan mereka.


"Bukan hanya itu danna, kau mengerti obat-obatan bukan? Sapu tangan itu beraroma aneh. Tadi aku mencoba menghirup sedikit. Alhasil kepala ku memberat tiba-tiba." Jelas Deidara.


Ah.. Sasori mengerti atas penjelasan Deidara.


"Lain kali kau bicarakan padaku dulu. Siapa tau itu racun. Kenapa kau langsung menghirupnya dasar bodoh." Gumam Sasori.


"Lalu bagaimana?" Tanya Deidara tak sabar. Tidak memperhatikan kata-kata Sasori yang mengatai dirinya bodoh. Mereka tidak mungkin hanya diam begini saja kan?


"Tentu saja kita akan menyusul mereka, kita akan menyelamatkan calon istrinya rambut uban itu." Sahut Sasori. Seringai keji hadir di paras tampan sang menteri.


"Tapi ingat.. hanya beberapa saja yang menyusul. Aku tidak mau dicurigai saat diperjalanan. Sekarang kita bersiap!"


"Baik!"


Mereka pun kembali ke ruangan, menyiapkan segala sesuatu yang akan dibutuhkan nantinya.


___________________________________


Yuuren kini tengah menatap ragu pintu kediaman Hidan. Jujur, rasa khawatir hinggap dihatinya saat melihat Hidan terluka di medan perang tadi. Meski rasa takut kehilangan Yukatta lebih besar dibandingkan rasa khawatir pada Hidan.


"Masuklah yang mulia, raja pasti senang di jenguk oleh anda." Ujar Itona yang baru saja keluar dari kediaman Hidan.


Yuuren terkejut, namun ia tetap berekspresi datar pada mantan putera mahkota kerajaan Shibuya.


"Bagaimana keadaan yang mulia?" Tanya Yuuren.

__ADS_1


"Anda akan tahu sendiri jika masuk kedalam." Ucap Itona sebelum berlalu dari hadapan Yuuren.


Bukannya tak sopan, hanya saja Itona sedang terburu-buru karena ia mendapat kabar dari Deidara.


Yuuren hanya melihat punggung lebar Itona yang semakin menghilang ditelan gelapnya malam.


Matanya beralih pada para prajurit yang tersisa. Mereka membersihkan sisa perang dan darah kotor yang melingkupi istana. Ada juga yang menggendong jasad prajurit yang gugur, kemudian di kumpulkan di satu tempat.


Menghela nafas pelan, Yuuren akhirnya masuk ke kediaman Hidan.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu." Ujar Yuuren setelah duduk di kursi yang telah disiapkan.


"Tentu saja tidak pangeran. Maaf saya belum bisa menemukan tuan putr-"


"Tak apa, saya akan mencarinya. Anda tidak perlu memikirkan hal ini. Fokuskan saja dengan penyembuhan luka yang ada pada tubuh anda yang mulia." Ujar Yuuren pelan.


"Bagaimana saya tidak memikirkan dia? Sedangkan dia saja calon istriku.. wahai calon kakak ipar." Sahut Hidan geram.


"Ya! Hanya saja. Melihat kondisimu yang sekarang. Aku jadi ragu kau akan menemukannya dengan cepat." Ucap Yuuren sinis. Kemudian ia beranjak keluar dari kediaman Hidan.


Hidan yang terkejut dengan sikap Yuuren terdiam.


'Ya Tuhan..'


____________________________________


Genma dan Hayate beserta puteri Yukatta telah sampai di kerajaan Nakamura.


Para menteri yang tahu kedatangan Genma segera menghampiri untuk menyambut.


"Kenapa hanya bertiga? Dimana yang mulia raja?" Tanya Gouken heran dengan kedatangan Genma tanpa raja mereka.


"Yang mulia raja masih dalam perjalanan." Jawab Genma ringan. Gouken mengangguk sebelum membawa mereka ke kamar yang telah di sediakan.

__ADS_1


"Yang mulia pasti senang karena puteri Yukatta berhasil kau bawa." Ucap Gouken di selingi tawa kecil. Tawa yang menurut Genma sangat memuakkan.


Hayate menatap datar Gouken, ia tak suka saat melihat pria itu. Apalagi menyangkut pautkan Yukatta dengan raja mereka. Memikirkannya saja, membuat Hayate jengah.


"Ayah.." panggil Hayate pada Genma. Ayahnya menoleh, Hayate menghela nafas.


"Aku mau satu kamar dengan Yukatta." Ujar Hayate tanpa ragu.


Gouken yang mendengarnya mendelik tajam pada Hayate. Ia tak suka dengan keinginan Hayate yang menurutnya sangat aneh.


"Kami saudara... lagi pula keberadaanku dikamar Yukatta hanya untuk mengawasi. Berjaga-jaga, siapa tahu saat Yukatta bangun dari tidurnya dia akan lari dari kerajaan ini." Jelas Hayate.


Genma terkekeh. Ia kagum pada putera semata wayangnya.


Tanpa ragu Genma menyetujui usul anaknya. Meski Gouken tak mempercayai alasan Hayate sepenuhnya.


"Mungkin sebentar lagi raja akan sampai." Gumam Genma.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Gouken.


"Ah.. tidak-tidak. Mungkin anda salah dengar." Jawab Genma. Ia melirik kesal kearah Gouken.


'Sialan..' umpat Genma dalam hati.


____________________________________


Sasori dan Deidara berangkat. Mereka hanya berdua, ya mereka hanya berdua jika melaksanakan misi.


Tapi ini bukan resmi, raja tak memerintah mereka untuk pergi keluar istana. Namun ini keinginan mereka sendiri untuk mencari puteri Yukatta.


Tanpa mereka tahu.. kepergian mereka yang diam-diam. Diikuti oleh seseorang.


Next chapter...

__ADS_1


__ADS_2