Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Perang 2


__ADS_3

Perjalanan Sasori dan Yuuren terasa sangat singkat, pandangan mereka kini menatap keseluruh arah. Dimana banyak para prajurit yang telah  gugur, sedangkan perang masih berlangsung.


Yuuren segera turun dari kuda yang di tunggangi oleh mereka tadi, disusul oleh Sasori.


Yuuren melihat pedang di dekat tempatnya berdiri, ia langsung mengambil pedang yang tergeletak ditanah tersebut kemudian ia mendengus samar. Andai saja ia membawa pedang kesayangan nya pasti ia akan menyerang mereka dengan membabi buta.


Tapi ia berpikir lagi, ini bukan perangnya. Kerajaan Nakamura menyerang Kurosawa. Sedangkan Tachibana tidak terlibat. Niat dihati ingin sekali membantu mereka tapi didalam hatinya masih ragu, bagaimana jika Nakamura menyerang Tachibana setelah perang ini selesai? Ia tidak mau itu terjadi, ia lebih suka perdamaian.


"Kenapa anda tampak ragu pangeran?" tanya Sasori heran, meski bibirnya mengukir sebuah seringai.


"Apa maksudmu?" jawab Yuuren sambil bertanya balik.


"Jika anda ingin membantu Kurosawa, maka bantulah tak perlu ragu atau anda takut pada peperangan?" ujar Sasori sambil tersenyum mengejek.


Tepat sasaran, Yuuren menyipitkan matanya tak suka setelah melihat seringaian Sasori.


"Aku sudah mengikuti perang beberapa kali, jangan remehkan aku perdana menteri. Dan perlu kau ingat, aku bukan takut pada peperangan namun aku membencinya" ujar Yuuren lantang dan tegas, matanya mengilat tajam, ia tak suka diremehkan.


"Kalau begitu, tunggu apalagi? prajurit mereka masih banyak-" kalimat Sasori terpotong.


"Prajurit bukan levelku" tandas Yuuren cepat.


"Dasar sombong" ejek Sasori.


"Terimakasih atas pujiannya"


Setelah mengatakan kalimat tersebut Yuuren langsung memasuki arena perang. Bau anyir melingkupi penciumannya, kalau boleh jujur Yuuren lebih suka menjadi rakyat biasa.


Yuuren sudah memantapkan hatinya untuk membantu Kurosawa, jika bukan karena adiknya ia takkan mau ikut campur begini.


Perang bukanlah mainan yang bisa kapan saja manusia memainkannya.


Ia menebas musuh yang mengahalangi jalannya. Tujuannya hanya satu, habiskan musuh kemudian ia bisa membawa adiknya pulang ke Tachibana.


Langkahnya sangat ringan, meski banyak lawan yang mengerubunginya.


Prajurit satu persatu tumbang karena telah menghalangi jalannya, kini tiba dimana ia saling berhadapan dengan panglima dari kerajaan Nakamura, Morino Hidate.


Yuuren menatap datar Hidate yang berdiri angkuh didepannya, ia menyipitkan matanya curiga ketika seringgai mengejek hadir diparas sang lawan.


"Sebuah kehormatan saya bisa melawan anda Yang Mulia" ucap Hidate sinis. Ia tak menyangka Putra Mahkota dari kerajaan Tachibana ikut andil dalam perang ini.


Yuuren tak menanggapi ucapan Hidate, ia hanya menatap datar dan memasang kuda-kuda untuk menyerang.


'Mungkin ini akan lebih menarik' ujar Hidate dalam hati.


Yuuren merasakan ada yang tidak beres dengan lawannya, tapi ia dengan segera menepis perasaan itu.


"Mari kita mula, lihat saja siapa yang akan menang" ujar Hidate sambil tersenyum misterius.


"Kita lihat saja nanti " jawab Yuuren tenang ia akan mencoba  melawannya, semampu ia bisa.


Yuuren tak pernah meremehkan lawannya, karena jika kau meremehkan lawanmu, maka bukan kemenangan yang kau dapat. Melainkan kekalahan.


Hidate maju dan menyerang Yuuren, tapi serangannya berhasil di tepis. Ia mengernyit heran, sekuat apa pangeran yang ada didepannya ini.


Hunusan pedang tak terelakan, baik Yuuren dan Hidate tak ada yang kalah. Mereka sama-sama kuat.

__ADS_1


Yuuren hampir kualahan saat Hidate terus menyerangnya, ia menyerong kan pedang dan...


Zraaaassshhh


Yuuren berhasil mengenai pundak Hidate, darah segar mengalir di pedangnya. Hidate menatap nya murka dan sekarang ia tahu. Takkan bisa bebas semudah itu di tangan sang panglima.


Tak jauh dari mereka dari mereka, Sasori kini tengah melawan beberapa prajurit yang mencoba menyerang Hidan dari belakang.


Prajurit bukanlah lawannya yang imbang, tapi jika mereka dibiarkan hidup. Mereka yang akan membuat kehidupan kita menjadi mati.


Sasori menengok mencari dimana sang sahabat, ia mengeryit saat melihat Yuuren yang kualahan melawan Hidate, namun tak berapa lama Yuuren mengalahkan lawannya dengan cepat.


Sasori hanya bisa berdoa untuk keselamatan kawannya itu. Ia melihatnya dari jauh dengan tatapan sendu namun sebuah seringai  terpapar dibibirnya yang tipis.


**


Yukata tak menduga kunjungannya ke kerajaan Kurosawa akan diselingi perang seperti ini. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah sembunyi, ia takut tentu saja. Ia  bukan Yuuren yang bisa mengikuti perang, ia hanya bisa berdoa untuk keselamatannya serta calon suaminya.


Sebelum Yukata sembunyi, ia menyempatkan diri untuk mengirim surat pada sang ayah.


Surat itu berisi tentang perang ini, ia juga tak lupa meminta bantuan pada sang ayah.


'Sebenarnya apa yang terjadi' gumam Yukata gelisah.


'Onii-san, tolong aku' ucapnya kemudian.


Air matanya lolos begitu saja, andai kakaknya ada disini, ia pasti tak ketakukan sebegininya.


Jeritan para dayang menggema di telinganya, Yukata semakin mengeratkan tangannya yang menutupi telinga.


"Yang Mulia"


Yukata mendongak saat mendengar suara seseorang didepannya, ia membuka matanya.


Seketika ia terkejut saat melihat siapa yang memanggilnya.


"Jii-san? Bagaima-hmmpt!!!" kalimat Yukata terpotong


karena mulutnya di bekap dengan kain. Ia menatap tajam sang paman yang tengah menyeringai kejam padanya.


"Tidurlah Tuan Putri, mimpilah yang indah" ujarnya pelan.


Pandangan Yukata pun menggelap.


"Anak yang manis khekhekhe"


****


Kerajaan Takahashi


Gaara memijit pelipis nya yang mendadak  pening, ia sudah mencari keseluruh tempat di kerajaanya. Tapi ia tak berhasil menemukan sahabatnya dimana pun.


Dan bukan sahabatnya saja, kakak sepupunya pun menghilang.


'Jangan-jangan mereka...' pangeran Gaara menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin jika Sasori akan menyakiti sahabatnya, tapi..


"GAARAAA!!?"

__ADS_1


seruan Kankuro menyadarkannya dari lamunan.


"Ada apa Nii-san?" tanya Gaara heran.


Kankuro tidak langsung menjawab karena ia tengah mengatur nafasnya yang tampak terengah.


"Aku menemukan ini di dekat istal kuda" jawab Kankuro setelah menghela nafasnya beberapa kali. Ia juga mengulurkan secarik kertas pada Gaara yang semakin menatapnya bingung.


"Apa itu?" tanya Gaara lagi.


"Baca saja" jawab Kankuro yang mulai tak sabar.


Gaara membulatkan matanya ketika ia selesai membaca isi kertas itu.


"Sudah kuduga.. Tapi apa yang dilakukan anak itu?!" ucapnya sedikit frustasi.


*****


Kerajaan Tachibana


Berbeda dengan Gaara, Raido menatap cemas perkamen yang tengah ia pegang.


Tulisan ini ia sangat mengenalinya, Yukata. Yukata yang mengiriminya surat.


Ia menatap perkamen itu lagi


Pasalnya, perkamen itu bukan perkamen biasa. Isinya tentang penyerangan Nakamura pada Kurosawa dan putrinya berada disana.


Perasaan cemas dan takut mulai menghinggapi Raido, bagaimana keadaan putrinya disana.


Ia segera melangkah menuju tempat latihan, ia akan menemui Kakashi.


Sebelum ia sampai di tempat Kakashi, ia bertemu dengan Shikaku dan anaknya Shikamaru.


"Shikaku bisa kita bicara sebentar?" ujar Raido pelan.


"Tentu yang mulia, silahkan" ucap Shikaku sedikit heran.


"Siapkan pasukan, kita akan berperang sekarang" ujar Raido yang membuat Shikaku sedikit terkejut.


"Tunggu dulu Yang Mulia, maaf jika saya lancang tapi perang mendadak tanpa rencana itu tidak baik ki-" kalimat Shikaku terpotong.


"Keselamatan putriku lebih penting Shikaku, siapkan saja pasukannya. Kita akan membahasnya nanti di perjalanan" tandas Raido cepat, ia sangat hawatir dengan keselamatan putrinya.


"Baiklah yang mulia, saya mengerti" ujar Shikaku lirih.


"Shikamaru, ayo bantu ayah" ajak Shikaku pada anaknya.


"Baik ayah"jawab Shikamaru pelan.


'Perang yang merepotkan'


Gumam Shikamaru sambil menguap malas.


"Jaga sikapmu bocah malas" tegur Shikaku saat sikap tidak sopan anaknya keluar.


"Hai-hai" medokusai keluhnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2