
Yukatta menoleh, menatap pangeran berambut merah. "Aku juga belum mempunyai kado untuk Nii-sama, sedari tadi aku sibuk memilih. Namun aku belum menemukan yang cocok untuk Nii-sama." ucapnya dengan nada kesal.
Gaara terkekeh melihat adik dari sahabatnya menggerutu. Gaara jarang melihat ekspresi Yukatta yang seperti ini. "Kau tau apa yang cocok untuknya?" tanya Gaara dengan nada main-main.
Yukatta menatap pria berambut merah tersebut dengan rasa penasaran. "Apa?"
Gaara melebarkan seringaiannya melihat putra mahkota Shibuya itu menatap tajam dirinya. Gaara membisiki Yukatta, membuat gadis itu mengangguk antusias dengan ide baiknya.
Hal itu membuat Sasuke merasa cemburu, putra mahkota Shibuya itu berbalik. Tak ingin melihat kedekatan antara Yukatta dan Gaara.
Sedang pria berambut merah itu tersenyum miring. Senang rasanya berhasil membuat rivalnya marah. 'Semakin kau marah, kau akan mengirim oara bawahanmu.'
'Dan aku akan membalaskan dendamku.' batin Gaara.
**
Yuuren menatap pantulan dirinya dicermin, gadis itu menghela nafas berkali-kali setelah mencoba pakaian pengantin untuk besok. 'Aku tidak pernah membayangkan, pakaiannya akan seberat ini.' keluhnya dalam hati.
Matanya menatap jengah pada dayang yang tengah merapihkan pakaiannya.
"Yang mulia permaisuri tiba.." teriak kasim dari luar.
Reflek Yuuren segera berdiri tegap, lalu dirinya memerintahkan para pelayannya untuk keluar.
Kurenai dengan anggun memasuki kamar putranya. "Yuu-chan.." panggilnya lirih.
Yuuren membungkuk, memberi hormat pada ibundanya. "Hormat saya, yang mulia permaisuri."
Kurenai menyentuh wajah putranya, tanpa bisa dicegah. Air matanya luruh menatap ketegaran putri sulungnya. "Anakku.." Kurenai memeluk Yuuren, mengusap punggung tegap putri sulungnya.
Yuuren hampir saja menangis, namun ia harus tetap tegar. Besok adalah hari pernikahannya, juga medan perang baginya. Yuuren harus kuat untuk melawan Genma besok.
"Kaa-sama, jangan bersedih. Aku mohon, berdoa lah untukku.. aku tidak ingin mendengar tangisanmu Kaa-sama."
Kurenai segera menghapus air matanya. Benar, mengapa dirinya malah menangis didepan putrinya? Ini akan membuat Yuuren lemah untuk menghadapi para musuhnya besok.
"Maafkan Kaa-san, Kaa-san janji tidak akan menangis dihadapan mu lagi nak."
Yuuren mengecup tangan ibunya. Sang putra mahkota menatap ibunya lembut. "Percayakan semuanya padaku Kaa-sama."
Kurenai mengusap kepala putri sulungnya. "Kaa-san selalu percaya padamu nak, Kaa-san selalu mendoakan yang terbaik untukmu." ucapnya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Kurenai beranjak bangun, ia harus segera pergi dari kediaman Yuuren. Takut ada mata-mata yang mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. "Yuu-chan, Kaa-san harus pergi."
Yuuren mengangguk pelan, aktivitas mereka benar-benar terbatas. Bukannya Yuuren takut, tapi ia tidak mau semua yang ia rencanakan gagal.
"Aku mengerti Kaa-sama."
Yuuren menatap kepergian Kurenai dengan pilu. "Tunggu saatnya tiba, aku janji kita akan bahagia." ucapnya dengan penuh tekad.
krieek...
Yuuren berbalik menatap pria berambut merah yang kini berada didalam kamarnya. Yuuren mendengus pelan, pria bertato ai itu selalu datang seenaknya saja.
"Kapan kau tiba Gaara..?" tanya Yuuren setelah duduk di kursi bacanya.
Gaara berjalan, lalu menyender didekat ranjang. "Sudah setengah hari aku sampai." jawab Gaara dengan suara datar.
Gerakan tangan Yuuren berhenti, lalu mendongak pada sahabatnya. "Lalu kau baru datang menemui ku?"
Gaara tersenyum dingin, lalu duduk di ranjang milik Yuuren. "Semuanya tidak seperti yang kamu bayangkan, kau tau.. Sasori.. dia telah tiada." ujar Gaara dengan nada pelan.
Yuuren terkesikap, ia menatap Gaara meminta penjelasan.
Gaara menatap Yuuren pilu. "Dia menitipkan Sara padaku."
Yuuren merasa sesak, dadanya seperti terhimpit batu. "Lalu, apa kau tau siapa pembunuhnya?" tanyanya setelah tersadar dengan rasa terkejutnya.
Gaara mengepalkan telapak tangannya, ia mengangguk pelan. "Ya, aku tau siapa pelakunya."
Yuuren mengepalkan tangan. "Aku akan membantumu untuk membalaskan dendamnya."
Tekadnya sudah bulat, ia akan melakukan apapun untuk Gaara sahabatnya. Apalagi, Sasori salah satu sahabatnya juga.
Yuuren tidak yakin, kabar ini pasti membuat Sara sangat terpukul.
"Sara.. bagaimana aku harus menjelaskan padanya nanti?" gumam Yuuren lirih.
"Yuuren, dia pasti mengerti dengan kondisinya. Ini bukan kemauan kita." ujar Gaara pelan.
Ya, kematian Sasori bukan kemauan mereka. Tapi ini sudah takdir dari yang maha kuasa.
Kemudian Yuuren teringat dengan rencananya besok. "Gaara, Sasori menitipkan Sara padamu kan?" tanya Yuuren lurus.
__ADS_1
Pria berambut merah itu mengangguk pelan. "Ya?"
Yuuren semakin melebarkan senyumannya. Rencananya pasti akan berhasil besok. Yuuren sangat yakin.
Keesokan Harinya.
Para pelayan di kerajaan Tachibana sibuk mempersiapkan untuk upacara pernikahan putra mahkota mereka.
Sedang di kediaman Yuuren, Gaara tengah menatap tajam pada sahabat baiknya. Namun Yuuren tampak tidak perduli akan hal itu. "Gaara, ingat. Sasori sudah menitipkan dia padamu. Ini adalah salah satu cara untuk mengikat kalian agar tidak ada yang bisa menyakiti Sara secuil pun." ujar Yuuren dengan nada enteng.
Pria berambut merah itu menghela nafasnya berkali-kali. Lalu menghembuskannya.
Yuuren berhasil mendandani Gaara, gadis itu terlihat puas dengan kerja kerasnya. "Lagi pula, kau sendiri tahu. Kalau aku..."
Kali ini Gaara benar-benar pasrah dengan rencana sahabatnya. Ia berdoa dalam hati, agar ia tidak akan ketahuan nanti.
"Baiklah, aku hanya berdoa tidak akan ada satu orangpun yang menyadarinya."
Yuuren sendiri sudah berdoa berkali-kali. Agar rencana yang disiapkannya berhasil. "Aku akan sangat berterimakasih padamu sobat." ujar Yuuren merasa bersalah. Yuuren menutup wajah Gaara agar tidak terlihat oleh satu orang pun. Lalu ia merapihkan pakaian pengantin yang dipakai oleh sahabatnya.
Yuuren menatap Kakashi yang baru tiba, pria bersurai abu itu tampak kebingungan melihat dua mempelai pria dalam satu kamar.
Yuuren pun menghela nafasnya, lalu menceritakan rencananya pada sang guru. Awalnya Kakashi menolak tegas rencana Yuuren.
Tapi setelah Yuuren meyakinkan Kakashi, bahwa ini amanah mendiang Sasori. Kakashi tidak bisa berkata-kata, ia tidak menyangka jika Mentri dari kerajaan Kurosawa itu begitu mencintai putri semata wayangnya.
Setelah menjelaskan pada Kakashi, Yuuren menyuruh kedua pria itu untuk segera ke tempat dimana upacara pernikahan akan digelar. Dengan langkah gontai, Gaara dibantu Kakashi untuk sampai disana.
Sedang Yuuren menunggu di kediamannya sampai upacara itu selesai.
"Kami-sama, semoga upacaranya lancar." doa Yuuren dalam hati.
Gaara dan Sara duduk didepan Raja dan Permaisuri. Kakashi dan Naomi pun ikut mendampingi putri mereka. Pernikahan mereka pun dilangsungkan dengan lancar, dan disaksikan oleh matahari.
Sedangkan Hidan duduk dengan gelisah, ditengah acara pernikahan putra mahkota Tachibana ia tidak menemukan Sasori dimana pun. Bawahan sekaligus sahabatnya itu menghilang tanpa jejak. Sejak ia ditugaskan untuk calon istrinya. "Kemana dia pergi?" bathin Hidan bertanya-tanya.
Note :
Halo semuanya, terimakasih sudah mendukung karya saya. Semoga kalian tetap menyukainya.
Insya Allah, update tiap hari. Mohon dukungannya!
__ADS_1