
Yuuren mencari tempat yang nyaman untuk mereka duduki. Dan setelah lama mencari, akhirnya ia menemukannya, di bawah pohon pinus. Yuuren duduk sejenak mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah, tindakan Yuuren di ikuti oleh Yukatta.
Kini pandangan Yuuren bergerak menyapu sekitarnya, lalu menemukan beberapa kayu bakar. Yuuren pun mengambil ranting pohon yang ada didekatnya, mungkin ia akan membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka dimalam yang dingin ini.
Saat ini si kembar tepat berada di perbatasan. Yuuren sengaja berjalan cepat menuju tempat ini, agar esok hari ia tak perlu berjalan lagi untuk bertemu dengan Gaara.
Selesai membuat api unggun, Yuuren kembali menghampiri adiknya. Tangannya terulur menaruh kepala Yukatta agar bersandar nyaman pada bahunya yang tegap.
"Tidurlah. Aku tau kau lelah." Bisiknya lembut.
Yukatta mengeratkan pelukannya pada lengan sang kakak.
"Bagaimana aku bisa tidur onii-sama, apalagi ditempat terbuka seperti ini." Gumamnya lirih.
Pandangan Yukatta meneliti dengan tatapan ngeri, hutan ini benar-benar gelap. Sungguh menakutkan baginya.
Yuuren menghela nafas pelan, jika dipikir lagi. Ini pertama kalinya bagi Yukatta tidur ditengah hutan.
Wajar bila adiknya itu merasa takut, tapi mau bagaimana lagi? Yuuren tidak punya pilihan lain, apalagi sejak tadi ia tak menemukan gua untuk peristirahatan mereka.
Dan karena mereka sedang menghindari orang-orang. Tidak mungkin Yuuren mencari penginapan di daerah kekuasaan milik kerajaan Nakamura?
Itu sama saja dengan memenggal kepalanya sendiri.
"Saat ini kita sedang dalam pelarian. Tidak mungkin kita mencari penginapan di daerah sini. Itu sama saja kita menyerahkan diri pada musuh adik. Dan sama saja usaha kita keluar dari sana akan sia-sia. Aku harap kamu mengerti." Yuuren menatap adiknya lembut.
"Kau jangan khawatir Yukatta, aku akan menjagamu selagi kau tidur." Ujar Yuuren berusaha meyakinkan adiknya.
Kata-kata Yuuren memang ada benarnya. Ia harus menuruti Yuuren, lagi pula, Yuuren juga sudah berjanji akan menjaganya.
"Baiklah.."
Yuuren tersenyum saat Yukatta menuruti perintahnya. Ia mendongakkan kepala, menatap langit malam yang kelam.
"Semoga saja tidak turun hujan." Batinnya gelisah.
Yuuren menumpukan kepalanya diatas kepala Yukatta.
Ia tak menyangka jika adiknya benar-benar diculik oleh kerajaan Nakamura.
Padahal Tachibana tidak pernah membuat masalah dengan kerjaan manapun.
"Sebenarnya apa yang mereka rencanakan? Apa waktunya sudah sedekat ini?" Gumam Yuuren lirih.
Apakah ia akan selamat sampai pertemuan para calon raja yang digelar beberapa bulan lagi?
*
*
Sasori, Deidara dan Gaara masih tertahan di kediaman Temujin. Ketiga pria tersebut masih sibuk berunding.
__ADS_1
Temujin menatap mereka penuh sangsi.
"Lalu apa untungnya perang yang ku menangkan kemarin huh?"
"Itu salahmu sendiri, kenapa kau menyerang kerajaan Kurosawa?!" Balas Deidara sengit.
Dahi Temujin berkerut tak suka.
"Itu karena mereka selalu mendesakku!" Ujarnya geram
Sasori pening jika berlama-lama dengan Temujin atau Deidara. Mereka itu sama saja, sama-sama cerewet.
"Mereka siapa?" Tanyanya penasaran.
Temujin memiit pelipisnya yang berdenyut sakit.
"Genma dan Gouken." Bisiknya lirih. Selama ini memang ialah rajanya. Tapi Temujin seperti boneka yang dikendalikan Genma.
Rencana penculikan Yukatta pun Genma lah dalang dibalik semuanya. Dan Gouken... ia yang menghasut Temujin untuk merebut Kurosawa dari sepupunya sendiri.
Sasori menyeringai, entah apa yang tengah dipikirkan olehnya.
"Sekarang kami akan kembali ke kerajaan masing-masing. Jika kau ingin bekerja sama denganku. Kau ikuti saja permainan kami." Ujar Sasori dengan nada dingin.
Deidara dan Gaara hanya menatapnya datar. Tak berminat memyumbang ide satu pun.
Lagi pula pria dingin seperti Gaara mana mengerti soal percintaan?
Deidara pun sama halnya dengan Gaara, ia hanya tau tentang peperangan. Membuat senjata, dan strategi penyerangan.
Sasori tersenyum puas setelah permasalahan mereka selesai.
Tinggal ia memikirkan bagaimana keluar dari kerjaan ini tanpa dicurigai oleh Gouken.
*
*
Pagi telah menjelang, Yuuren membuka matanya perlahan.
Disampingnya Yukatta sudah terbangun dari tidur. Menguap pelan, Yuuren tidak menyangka dirinya bisa jatuh tertidur. Padahal ia sudah berjanji akan menjaga Yukatta semalaman.
"Oni-sama, bisakah kau mengantar ku ke sungai?" Pinta Yukatta lirih.
Yuuren tersenyum, "Tentu saja Yukatta, mungkin aku juga ingin membasuh wajah tampan ku ini." Yuuren terkekeh setelah mengatakannya.
Apalagi saat Yukatta mencubit lengannya keras.
"Kau tidak tampan sama sekali." Cibir Yukatta ketus.
Mereka pun beranjak menuju sungai, tapi sebelum itu. Mereka malah bertemu dengan rombongan Gaara dan Sasori.
__ADS_1
Yuuren melirik Deidara yang berwajah masam.
"Kenapa dengannya?" Tanya Yuuren pada sahabat pandanya.
Gaara mengendikkan bahu, "Mungkin dia masih kesal karena tak lagi menjadi raja." Jawabnya asal.
Deidara memutar bola matanya jengah.
"Kau akan pergi kemana pangeran?" Tanya Deidara penasaran.
Yuuren tersenyum, lalu menjawab. "Aku akan mengantar adikku ke sungai, kalian jangan ikut." Ujarnya dengan nada mengancam.
Ketiga pria itu mengangguk kaku, mereka masih sayang nyawa jika melanggar titah dari Yuuren.
*
*
Sedang di seberang sana, Hayate tengah mengadu pada sang ayah tentang keberadaan Yukatta yang mendadak hilang.
Genma menatap tajam anaknya, kehilangan Yukatta sama saja ia kehilangan pion untuk mengancam tahta sang raja.
"Bagaimana bisa dia lari dari sini? Dan.. kenapa pula kau tidak tahu?! Bukankah kau sudah ku tugaskan untuk menjaganya!" Ucap Genma murka.
Hayate mengalihkan pandangannya, dalam hati ia meringis. "Aku memang tidak tau Tou-san, dan aku tak bisa terus menjaganya sepanjang waktu!" Ucapnya kesal.
Ia juga punya urusan pribadi.
"Aku yakin, kedatangan mereka pasti ada kaitannya dengan menghilangnya Yukatta." Ujar Genma yakin.
Hayate menatap ayahnya bingung.
"Mereka siapa Tou-san?"
"Siapa lagi kalau bukan dua kepala tomat itu."balas Genma kesal saat mengingat Gaara dan Sasori.
Kedatangan mereka saja sudah mencurigakan! Apalagi selama ini kerajaan Iblis tak bekerja sama dengan Kerajaan Sabaku.
Tangan Genma mengepal erat. "Beraninya kalian bermain api denganku." Batinnya geram.
**
Yuuren menarik pelana kudanya agak keras agar berhenti. Sekarang mereka telah sampai di kerajaan Tachibana. Yuuren turun terlebih dahulu dari kudanya. Setelah itu ia membantu Yukatta.
Raja Raido tersenyum tipis melihat kondisi anak kembarnya baik-baik saja dan Hidan menatap datar kearah mereka.
"Selamat datang putra-putri ku.." sambut sang Raja dengan hangat. Yuuren membungkukkan tubuhnya memberi hormat. Lain halnya dengan Yukatta yang menghampiri sang ayah lalu memeluk pria paruh baya tersebut dengan erat.
"Syukurlah nak, kalian baik-baik saja. Ayah sangat mengkhawatirkan kalian." Ujar raja Raido penuh syukur.
Kurenai menangis diam-diam, ia senang si kembar kembali dengan selamat. Kalaupun mereka belum kembali. Ia akan mencarinya sendiri, itu janjinya.
__ADS_1
Kurenai tak sanggup jika harus berpisah dengan si kembar.
Mereka adalah hidupnya.