
Hidan keluar dari kediamannya, dirinya resah saat mengingat ucapan kasarnya pada calon kakak ipar. Membuat hatinya sedikit gusar, tentu saja Hidan tak bermaksud seperti itu pada Yuuren.
Pandangan matanya tak sengaja melihat Itona yang juga berada di seberang koridor dengannya.
"Anda ingin pergi kemana yang mulia?" Tanya Itona pelan saat mereka sudah berjalan berdampingan.
"Aku sedang mencari Yuuren." Jawab Hidan nyaris berbisik.
Dahi Itona mengerut samar. "Lantas apa yang akan yang mulia katakan jika sudah bertemu dengan pangeran Yuuren?" Nada ragu tersemat didalamnya.
"Aku ingin minta maaf." Sahut Hidan pelan. Itona melihat dari sorot mata Hidan.
'Dia berkata jujur.." batinnya.
"Tapi yang mulia.. saya tidak sengaja melihat pangeran Yuuren keluar dari gerbang istana.. mungkin saja beliau ingin sendiri?" Ragu masih menyelimuti nada Itona.
Hidan tak menjawab, dirinya mengusap wajah. Khawatir tercetak jelas, ia tidak ingin hubungan Kurosawa dan Tachibana menjadi buruk karena dirinya untuk saat ini, juga seterusnya.
**
Yuuren masih mengawasi rekannya dari belakang. Dahinya mengernyit saat melihat Deidara masuk kedalam tandu yang sama dengan Temujin. "Apa yang mereka rencanakan sebenarnya?" Yuuren bergumam.
Dan tak lama, Deidara keluar dari tandu dan mengenakan pakaian Temujin. Yuuren masih memperhatikan, sebelum ia pun terjun mengikuti rencana yang Sasori ciptakan. Meski samar, Yuuren sudah tahu.
Melirik kearah prajurit kerajaan Nakamura yang tergeletak tak berdaya disampingnya, Yuuren pun langsung menyeretnya ketempat yang lebih sepi. Kemudian melucuti pakaian luar prajurit tersebut lalu memakainya. Tak lupa, Yuuren juga meniru gaya rambut prajurit kerajaan Nakamura.
Setelah merubah dirinya, Yuuren keluar dari persembunyiannya Yuuren menghampiri rekan-rekannya dan bergabung dengan mereka.
"Kenapa kalian tidak mengajakku?" Tanya Yuuren setelah Sasori berhasil menghabisi para prajurit kerajaan Nakamura.
Sasori dan Gaara saling menoleh, raut bingung tercetak jelas di wajah mereka.
"Kau mau mati ya?" Bukannya menjawab Gaara balik bertanya.
Yuuren mendengus samar, sebelum berujar. "Jadi kau mau membunuhku ehh panda??" Balas Yuuren sinis.
Panda. Satu panggilan, satu nama yang mengingatkan dirinya akan hewan itu adalah.
Yuuren!!
"Tentu saja tidak.. aku masih cukup waras untuk melakukan hal yang tak berguna itu." Gerutu sang pangeran Takahashi.
Yuuren menyeringai, sebelum kembali berujar. "Baiklah, aku akan ikut andil dalam rencana busuk kalian."
Gaara mendengus. "Aku tidak termasuk, karena aku pun korban disini." Ucapnya dengan nada menghina.
__ADS_1
Mereka pun bersiap-siap menuju kerajaan Nakamura.
***
Yukatta telah berganti pakaian yang telah disiapkan oleh para dayang istana. Jujur saja, meski dirinya diculik oleh mereka tapi Yukatta tak merasa diculik. Dirinya diperlakukan sama seperti ketika berada di istana sang Ayahanda tercinta.
Mengingatnya membuat hati Yukatta perih.
Ketukan pintu membuat lamunannya buyar. Memasang senyum culas, Yukatta membiarkan tabib istana melenggang masuk ke dalam kamar.
"Maaf mengganggu anda tuan putri, saya kemari atas perintah perdana menteri. Beliau ingin saya memeriksa kesehatan anda." Ucapnya halus.
Yukatta mengernyit. Dalam hati ia ingin mengumpat kasar.
"Baiklah.. kerjakan tugasmu." Balas Yukatta datar.
Baru saja sang tabib ingin memeriksa kesehatannya. Salah satu dayang istana datang tergopoh-gopoh menghampiri Yukatta.
"T-tuuan putri, yang mulia raja telah tiba! Anda harus ikut menyambut kedatangannya." Ucap dayang tersebut.
Yukatta hendak menolak tapi ia melihat kearah pintu dan.. Genma berada disana.
"Ikuti saja peraturan disini." Ujarnya sebelum berlalu.
"Tua bangka sialan ini!" Batin Yukatta geram.
"Wajah mereka seperti tak asing.." gumam Yukatta dalam hati.
Tatapannya tertuju pada salah satu prajurit yang menurutnya tak asing.
Bergetar.. itulah yang ia rasakan.
"Perasaanku tak salah! Dia disini! Onii-samaku!" Teriak Yukatta dalam hati.
Sedang diseberang sana. Yuuren menatap Yukatta tak berkedip. Jadi benar? Adiknya disini.
"Mereka mengambil adikku!" Rahangnya mengatup rapat. Emosi menghampirinya ketika melihat wajah pongah Genma serta anaknya.
Yuuren melihat kesekitar, dirinya baru menyadari keramaian yang ada.
Deidara turun dari kuda, baju kebesaran milik Temujin terlalu berat menurutnya.
Tersenyum tipis saat melihat mereka menyambut dirinya, yang tentu dalam wujud menyamar menjadi Temujin. Raja mereka.
"Kuharap si bodoh idiot itu tidak menunjukan kebodohannya." Batin Sasori.
__ADS_1
"Si kuning ngambang ini cukup percaya diri juga." Puji Gaara dalam hati. Tak lupa terselip hinaan.
"Yang mulia, selamat datang." Sambut Gouken, tatapannya tertuju pada sang pangeran dari kerajaan Takahashi.
Mengerti arah pandang Gouken, Deidara segera berujar. "Kami tak sengaja bertemu diperbatasan. Kebetulan pangeran dari kerajaan Takahashi ini membantu ku untuk melawan tikus - (Temujin) - dalam perjalanan pulang." Jelas Deidara panjang lebar.
Gouken mengangguk, ia percaya pada Temujin.
Bersyukur karena Gouken tak bertanya macam-macam. Namun tetap saja, Deidara harus waspada dengan iblis seperti mereka!
Gouken mengajak sang raja masuk kedalam istana untuk segera beristirahat atas perjalanan jauhnya, belum juga sang raja baru saja pulang dari medan perang.
"Ada yang aneh.. kenapa aku merasa asing saat berjalan disisi yang mulia raja?" Gouken bertanya-tanya dalam hati.
Baru saja Sasori dan Gaara ingingin dipisahkan dari Deidara. Pria kuning itu cepat-cepat mengambil tindakan.
"Saya akan membicarakan suatu hal penting dengan pangeran Gaara, saya harap kalian tidak mengganggu saya." Ujar Deidara dengan nada tegas yang kentara.
Jujur saja, Gouken sebenarnya tak suka dengan nada bicara sang raja padanya! Biasanya sang raja akan menghormati semua keputusannya!
"Aku benar-benar merasakan firasat buruk." Batin Gouken.
Gouken meninggalkan Temujin aka Deidara dengan Gaara. Sasori dan Yuuren ikut masuk kedalam kamar sang raja. Tak lupa box yang berisi Temujin asli.
Setelah menutup pintu kamar rapat, benar-benar rapat dan terkunci Deidara melepas atribut yang melekat pada tubuhnya.
Sungguh ini terlalu berat dan menyiksa!
Begitulah yang dipikirkan Deidara.
"Aku rasa mereka tidak curiga." Gumam Yuuren.
Gaara mendelik tajam. "Tidak curiga? Lalu kenapa si ikan buntal tadi tak mau beranjak barang sedikitpun!"
"Dia curiga.. tentu saja. Karena dia orang yang paling dekat dengan Temujin." Ujar Sasori santai.
Deidara mengangguk membenarkan.
"Lantas.. kemana perginya Temujin sialan itu?" Dahi Yuuren mengernyit.
Sasori membuka penutup box yang ia bawa tadi. Seketika mata bulat Yuuren terbuka lebar. Sebelum tatapannya datar kembali.
"Kalian sangat berbakat juga menjadi penjahat." Ujaran Yuuren.
Sasori mengendik tak peduli. Gaara? Jangan ditanya. Manusia es itu hanya diam. Sedang Deidara sibuk membersihkan diri dan berganti baju.
__ADS_1
Nampaknya Deidara memang menikmati perannya kali ini.