Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Aku Tunggu Kau Di Perbatasan


__ADS_3

"Sungguh, rencana yang hebat yang mulia." sindir Gaara.


Sara menatap Yuuren dengan tatapan horror.


"Ada apa Sara?" Yuuren menatap Sara bingung.


"Yang mulia, apakah orang tuaku tahu tentang pernikahan ku dengan yang mulia.."


"Tenang saja Sara, sensei tahu rencanaku." potong Yuuren cepat.


Sara menghela nafas lega lalu gadis itu melirik suaminya. "Syukurlah kalau begitu, aku tidak tau harus menjelaskannya bagaimana pada ayah."


Yuuren bergeming, ia mendengar derap langkah seseorang. "Sara, kau cepat ganti baju. Aku dan Gaara akan ke ruang baca, kau menyusul saja ke sana."


Yuuren berbalik ketika hendak membuka pintu. "Jangan lupa, panggil aku sebagai suamimu." ujarnya dengan nada tegas.


Sara mengangguk cepat, sebelum masuk ke kamar ganti untuk mengganti pakaiannya.


Sedang Gaara sendiri mengekori sahabatnya, pria itu mendengus pelan mengingat kata-kata Yuuren tadi. Entah kenapa perasaannya berubah ketika ia sudah menikahi gadis berambut perak tersembut.


Ada rasa tak suka saat Yuuren menyuruh istrinya untuk memanggil sahabatnya itu dengan panggilan suami. Gaara tidak habis pikir, padahal dulu tatapannya hanya pada Yuuren. Apakah ini bisa disebut sebagai cinta? Pikirnya.


Mereka berhenti didepan pintu ruang belajar.


"Lapor yang mulia, Jendral Shikamaru menunggu anda didalam." ujar pengawal yang menjaga tempat tersebut.


Tanpa berkata apapun Yuuren langsung masuk kedalam, diikuti oleh Gaara. Mereka langsung bertatapan dengan pria berkuncir nanas tersebut.


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Yuuren setelah duduk di kursi.


Shikamaru menguap sebelum menjawab. "Mereka sudah ku bebaskan yang mulia, seperti yang anda minta. Mereka bebas sebelum sadar." ujarnya dengan nada malas.


Yuuren tidak mempermasalahkan sikap tangan kanannya, sebab Yuuren sudah mengenal pria berkuncir nanas tersebut sedari kecil. Ia juga putra dari senseinya, Aoki Shikaku.


Yuuren mengangguk puas mendengar laporan dari Shikamaru. "Kerja bagus." pujinya.


Shikamaru membuang pandangannya pada Gaara. Namun pria bertato ai itu hanya balas menatap datar dirinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya pamit undur diri yang mulia." pamitnya sebelum pergi.


Yuuren mengangguk sekilas, lalu membuang nafasnya perlahan. "Kapan kau kembali ke kerajaanmu Gaara?" tanya Yuuren sambil menatap sahabat merahnya.


Bukannya ia tidak suka sahabat merahnya berada di sini. Hanya saja, ada sesuatu yang harus Gaara urus. Yakni pemakaman Sasori.


Gaara bersidekap, ia melirik sahabatnya. "Sekarang juga bisa, hanya saja.." ucapan Gaara sedikit menggantung.


Yuuren paham, Gaara tidak mungkin kembali sendiri ke kerajaannya bukan? Ia harus membawa Sara. Tapi dirinya belum naik takhta. Yuuren berpikir keras, setelah mendapatkan solusinya. Ia kembali menatap sahabat merahnya.


"Aku dan Sara akan menghadiri pemakaman Sasori. Dan saat itulah, kau dan Sara bisa menikah di kerajaanmu Gaara. Namun, kalian harus tetap merahasiakan pernikahan itu." ucap Yuuren.


Pria bertato ai itu sama sekali tidak keberatan dengan keputusan Yuuren. Ia tahu, posisi sahabatnya dalam bahaya. Yah, hanya sebentar menjalani hubungan jarak jauh. Tidak sulit baginya.


"Kau memikirkan semuanya seperti biasa, baiklah. Aku pamit sekarang. Aku tunggu kedatangan kalian di Takahashi."


Yuuren mengernyitkan alis, bingung. "Kau tidak menunggunya dulu Gaara?" tanyanya heran.


"Aku pikir, akan terlambat jika aku menunggunya. Lagi pula, kalian akan menyusulku bukan?" Balas Gaara sambil bertanya balik.


Gadis berambut cokelat mengembungkan pipinya kesal. "Ya ya, terserahmu sajalah." ujarnya kesal. Hilang sudah kesopanan ketika menghadapi sahabat merahnya ini.


"Kalau kau mencari dia, dia sudah pergi." celetuk Yuuren setelah mendapati sahabatnya hanya berdiri di belakang pintu.


Sang putri mahkota memerah malu mendengar kata-kata dari Yuuren. Gadis itu memutuskan duduk didepan Yuuren.


"Sara, besok kita berangkat ke kerajaan Takahashi untuk memperingati kematian Sasori." Yuuren menatap sahabatnya.


"Kau.. mau kan?" tanya Yuuren hati-hati.


Sara mengangguk pelan. "Ya yang mulia, saya ingin melihat Sasori-kun untuk yang terakhir kalinya."


Yuuren mengangguk, lalu kembali menulis surat. "Tunggu aku untuk menyelesaikan ini, kita akan menghadap Otou-sama setelah ini." gumam Yuuren disela kegiatan menulisnya.


Sara mengangguk pelan, itu bukan masalah baginya.


Sedang di luar, tepatnya di aula istana. Para pejabat kerajaan masih merayakan pesta pernikahan Yuuren dan Sara. Meskipun pasangan pengantin itu tidak ada diantara mereka namun pesta masih tetap berlangsung, disana mereka dijamu oleh Raja dan Permaisuri Tachibana.

__ADS_1


Namun seseorang merasa kesal karena lagi dan lagi, rencana membatalkan pernikahan Yuuren dan Sara telah gagal karena dirinya ketiduran di kediamannya. Genma murka, pasti seseorang sudah membius dirinya agar tidak mengacau di upacara pernikahan Yuuren. Bahkan Hayate pun ikut tertidur, dan Genma semakin yakin jika seseorang merencanakan hal ini.


Bisa saja putra mahkota sendiri pelakunya, tapi Genma saat ini masih bisa menahan amarahnya. Ia akan bermain dibalik layar seperti biasa, agar perbuatannya tidak dicurigai oleh siapa pun. Seperti saat dirinya membawa Yukatta ke kerajaan Nakamura dulu.


'Mungkin aku gagal lagi hari ini, tapi kalian harus menerima akibatnya.' batin Genma geram.


Raido yang melihat wajah jelek adiknya menjadi khawatir. Ia takut jika adiknya akan kembali berbuat jahat pada si kembar.


Permaisuri tak kalah khawatirnya dengan Raja, ia berusaha menenangkan suaminya dengan menggenggam tangan suaminya erat. Sambil berbisik. "Yang mulia, mereka pasti baik-baik saja." ucapnya dengan nada lirih. Permaisuri bukan hanya menenangkan Raja, namun ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Sedang Yukatta kini tengah menemani calon suaminya ditengah perjamuan. Ia tetap berada disisi Hidan. Pria berambut perak itu menatap Yukatta ragu, namun tetap memantapkan hatinya karena rasa penasaran yang sangat besar.


"Putri, kemarin aku mengutus salah satu tangan kananku untuk menjagamu. Dimana kah dia sekarang?" tanya Hidan dengan nada rendah. Ia takut seseorang akan mendengar suaranya.


Yukatta sendiri terkejut ia tidak menyangka Hidan sampai mengirim seseorang untuk menjaga dirinya, padahal ia sudah mempunyai pengawal sendiri.


Yukatta menatap Hidan tidak mengerti. "Yang mulia, anda berbicara apa? Tidak ada seorang pun yang datang menemui saya kemarin." jawabnya jujur.


Mendengar jawaban Yukatta, Hidan jadi merasa heran. Tidak biasanya sahabat merahnya ini bermain-main dengan pekerjaannya. Ini seperti bukan Sasori.


Setelah mendengar jawaban Yukatta, Hidan pamit pada Raido dan Kurenai.


Pria berambut perak itu meninggalkan ruang perjamuan.


Yukatta tentu saja mengikuti kemana calon suaminya pergi. Bagaimana pun Hidan adalah tamu di kerajaannya.


Tidak disangka, di koridor Hidan dan Yukatta berpapasan dengan Yuuren dan Sara.


"Selamat atas pernikahanmu putra mahkota." ujar Hidan memberi selamat pada Yuuren.


"Terimakasih yang mulia." balas Yuuren sambil tersenyum. Tangannya masih menggenggam tangan Sara. Lalu Yuuren teringat dengan Sasori. Sahabatnya adalah salah satu sahabat Hidan juga.


Yuuren berbisik pada calon adik iparnya. "Besok, aku tunggu kau diperbatasan." ujarnya sebelum masuk ke ruang perjamuan.


Kata-kata dari Yuuren membuat Hidan penasaran. Menagapa putra mahkota Tachibana ingin berbicara diluar? Pikirnya heran.


**

__ADS_1


Note : Halo semuanya, maaf atas keterlambatan update.


Semoga kalian makin suka dengan ceritanya.. jangan lupa like, komen, share and votenya! Terimakasih!😉


__ADS_2