
"Nii-sama, kau tau? Mungkin tidak ada pemuda yang mau menikahi aku yang sudah rusak ini." gumam Yukatta lirih.
Sang kakak terdiam, ia menatap adiknya prihatin.
"Kau tau Nii-sama, hanya dia harapanku satu-satunya. Mengapa Nii-sama menghukum mati calon ayah dari anaku. Siapa yang akan menikahiku kelak?!" pekik Yukatta tertahan.
Mendengar ucapan Yukatta, Yuuren tercengang. Perasaan kesal dan marah begitu cepat bergelung dihatinya. "Apa kau bilang?!" tanyanya marah.
Yuuren melangkah maju dan mencengkeram bahu Yukatta. Matanya menatap tajam pada adiknya. "Bisa kau katakan sekali lagi? Kata-kata menyebalkan yang keluar dari mulutmu itu? Kau bilang pria br****** seperti dia hanya menjadi harapanmu satu-satunya?!"
Yukatta bergetar ketakutan melihat kakaknya murka, ia tidak pernah melihat Yuuren semarah ini. Ia menalan ludah ketika tatapan Yuuren semakin tajam padanya.
"Kau seorang Putri kerajaan Yukatta, kau bebas menikah dengan siapa yang kau mau. Dengan kekuasaanku. Aku bisa menikahkanmu dengan pangeran atau Raja dari kerajaan lain." ujar Yuuren tajam.
"Ka-Kau bercanda Nii-sama? Dengan kondisiku yang sudah kotor, apa mereka akan mau menerimaku? Bahkan menatap mata mereka saja aku tidak berani." Yukatta berkata jujur.
Gaara yang merasa kasihan pada Yukatta, menarik Yuuren untuk menjauh dari adiknya sejenak. "Kendalikan dirimu Yuuren." peringati Gaara.
Yuuren menghela nafas, ia memejamkan mata untuk mengontrol emosinya. "Ingat kata-kataku Yukatta, aku akan mencarikan suami yang terbaik untuk adikku." ucapnya dengan nada getar. Yuuren masih menahan emosi.
Sejak kematian Sara, Yuuren berubah menjadi sosok yang dingin. Bahkan pada Gaara pun ia bersikap demikian. Sungguh ia sama sekali tidak menyalahkan sahabatnya. Namun Yuuren menghukum dirinya sendiri, dengan cara begini. Ditambah dengan masalah Yukatta yang membuatnya semakin tertekan.
Ia tidak akan merasa sakit jika bukan orang yang berarti dalam hidupnya yang pergi, seperti Hayate misalnya.
Yuuren tersenyum miring, ia melihat wajah adiknya sebentar lalu memanggil kasim Han. "Panggil Jendral Aoki Shikamaru kemari."
"Baik yang mulia." Kasim Han pun pergi, melaksanakan perintah dari rajanya.
Pria berambut merah menatap sahabatnya penuh selidik. "Yuuren, apa yang kau rencanakan kali ini?"
__ADS_1
Yuuren tersenyum. "Aku akan melakukan tugasku sebagai seorang raja." ujarnya sambil menatap Yukatta.
"Kakak kenapa dia menatapku begitu? Apa dia akan menghukumku?" tanya Yukatta dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Kasim Han kembali dengan Jendral Aoki Shikamaru, beserta Raja terdahulu juga ibu Suri. Mereka masuk kedalam kediaman Yuuren.
Yuuren menarik napas, melihat semua orang yang ditunggunya sudah berkumpul. Termasuk kedua senseinya. "Aku mengumpulkan kalian disini bukan tanpa alasan, sudah saatnya aku mepaksanakan tugas sebagai kakak dan raja yang baik." Yuuren melihat adiknya yang kini tengah gelisah.
"Aku menurunkan dekrit pernikahan untuk Putri Yukatta dan Jendral Aoki Shikamaru." ucap Yuuren dengan nada tegas.
Raido dan Kurenai terkejut, mengapa Yuuren memutuskan pernikahan Yukatta dengan Shikamaru? Lalu bagaimana dengan Hidan?
Yukatta membelalakan matanya tidak percaya. "Nii-sama?" Yukatta ingin menolaknya, namun.
Jujur, pria berkuncir nanas pun terkejut dengan keputusan rajanya. Namun Shikamaru masih bisa menjaga ekspresinya. "Terimakasih yang mulia, saya menerimanya." ujar Shikamaru dengan nada malasnya yang khas.
Sedang Shikamaru menatap malas pada sang putri kerajaan. "Lalu mau bagaimana lagi? Kalau yang mulia sudah menentukan, apapun akan aku lakukan." sungguh bukan jawaban yang diinginkan Yukatta, tapi Raido dan Kurenai menatap putranya keberatan.
"Yuuren, bukankah saat ini adikmu masih berstatus tunangan dari Raja Hidan? Mengapa kamu menurunkan dekrit pernikahan untuk Yukatta dan Jendral Shikamaru?" pertanyaan ibu Suri Kurenai mewakilkan dari semua orang yang hadir disana.
Sang Raja menghela nafas. "Ibu Suri, saya menurunkan dekrit pernikahan itu atas dasar yang saya inginkan. Sebagai kakak yang baik, saya memilih Jendral Shikamaru untuk menjadi pendamping hidup adik saya, putri Yukatta." Yuuren melirik adiknya sebentar. "Lagi pula, Putri Yukatta sudah membatalkan pernikahannya dengan Raja Hidan."
"Tapi Yuuren..." Ibu Suri tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ia sudah terlanjur kecewa pada Raja. Beliau pun keluar dari kediaman sang Raja. Melihat istrinya pergi, Raja terdahulu pun mengikutinya.
Semua orang yang tersisa disana terdiam, tiba-tiba Yukatta mendekati sang kakak. "Mengapa Nii-sama melindungiku?" tanyanya tak mengerti. Padahal, Yuuren bisa saja membongkar aibnya. Namun sang kakak malah diam dan membuat ibu mereka malah kecewa pada putranya.
Yuuren tersenyum simpul. "Mengapa? Tentu saja bagaimana pun kau saudaraku, keluargaku, meskipun kau bersikap buruk. Aku sebagai keluarga tidak akan membeberkan aibmu begitu saja. Maka dari itu, menikahlah dengan Shikamaru. Dan jika benar, didalam perutmu ada nyawa dari lelaki itu. Kau akan aku kirim ke desa terpencil, dimana tidak ada yang mengenal kalian. Sebelum bayi itu lahir, kau tidak boleh kembali ke kerajaan." ujarnya panjang lebar.
Yukatta terdiam mendengar kata-kata dari Yuuren. "Maksud Nii-sama, aku diasingkan?" tanyanya tak yakin.
__ADS_1
Sang raja berbalik, ia tidak mau melihat wajah sedih adiknya. Ia harus tegas, anggap saja ini hukuman ringan untuk adiknya.
"Itu lebih ringan bukan? Dari pada kau akan dianggap sebagai penghianat. Dan kau akan dianggap berkomplot dengan pembunuh Hayate."
Baik Gaara maupun Yukatta tidak berpikir jauh sampai kesana.
Yukatta menghela nafasnya, ia menyerah dan memutuskan untuk menerima hukuman dari kakaknya. "Baik, aku menerima dekrit pernikahan darimu Yang Mulia." ucapnya tegas. Tentu saja, Yukatta berpikir ulang dengan apa alasan Yuuren mengirimnya dalam pengasingan. Ia tidak mau dipenjara, apalagi dalam keadaan berbadan dua.
Mereka tersenyum lega, akhirnya permasalahan Yukatta telah berakhir. Besok mereka akan menikah, Yuuren sengaja mempercepat pernikahan Yukatta. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah kepergian Shikamaru dan Yukatta, Yuuren duduk dikursinya. Gadis itu memijit pelipisnya yang terasa pening. "Aku tidak menyangka, menjadi seorang Raja begitu memusingkan."
Perkataannya mampu membuat pria berambut merah tersenyum geli. "Jadi kau menyerah? Dan membiarkan takhta itu direbut oleh pamanmu?" tanya Gaara dengan nada gurau.
Seketika Yuuren mendelik tidak terima padanya. "Bagaimana dengan nasib rakyatku jika dia yang menjadi raja? Sungguh membayangkannya saja aku pun tidak bisa."
Gaara pun tak bisa menahan tawanya kali ini. Namun pria berambut merah bersyukur, sahabatnya telah kembali seperti semula. "Aku harap kau tidak dingin lagi padaku." ucapnya dengan tulus.
Sang raja memalingkan wajahnya. "Maaf Gaara, aku tidak bermaksud memusuhimu."
"Yah aku tau, kita sama-sama tidak menginginkannya pergi. Tapi jika kita terlalu larut dalam kesedihan, Dia pun tidak akan merasa tenang disana." gumam Gaara lirih.
Gaara benar, aku tidak bisa terus menyalahkan diri dan tidak mengikhlaskan dia pergi. Tapi tetap saja hati ini masih kecewa. Mengapa Kami-sama begitu cepat mengambilnya dari ku. ucap Yuuren dalam hati.
Pria berambut merah mendekati sahabatnya. "Lebih baik kau memikirkan caranya, agar si uban tidak marah padamu karena calon pengantinnya menikah dengan pria lain."
Yuuren menatap sahabatnya jengkel. "Kau harus membantuku memikirkan hal ini."
"Hei, kenapa aku juga terlibat?!" pekik Gaara tidak terima.
__ADS_1