Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Pria Bermata Merah


__ADS_3

Yuuren menatap Sara dengan rasa bersalah. Namun secepat kilat Yuuren mengubah ekspresi wajahnya.


"Mungkin tadi memang suara kucing, tapi aku sekilas melihat mata merah itu."


Yuuren langsung mendekati ke arah gerbang tadi, berniat untuk memeriksa apa dirinya salah lihat atau memang benar-benar dia?


**


Sasuke menyeringai saat tatapan matanya bertemu dengan Hidan. Ternyata teman kakaknya itu sadar bahwa sedari tadi ia mengikuti mereka. Mendengus pelan, Sasuke akhirnya pergi dari tempat tersebut. Putra mahkota dari kerajaan Shibuya itu melangkah mencari penginapan terdekat.


Awalnya, namun langkah kakinya terhenti sejenak mendengar suara Yukatta dan Yuuren yang tengah berbincang. Walaupun tembok kerajaan Tachibana cukup tinggi, tapi Sasuke masih bisa mendengar kata-kata yang diucapkan Yukatta di balik tembok tersebut.


Sasuke melihat ada sedikit celah, ternyata saat didekati celah itu ternyata gerbang kecil yang terhubung dengan kediaman putra mahkota Tachibana.


Sasuke sibuk memperhatikan sikembar, tanpa memedulikan sekitarnya lagi.


Sedang sang raja dari Kurosawa geram, melihat Sasuke tengah mengintai calon istrinya. Meski Yukatta disana tidak sendirian hanya saja, menurut Hidan tindakan Sasuke tidak lah pantas. Apalagi Sasuke adalah calon Raja berikutnya.


"Lancang sekali.. beraninya dia mengintai calon istriku."gumam Hidan saat melihat tingkah putra mahkota didepannya.


Sasuke menyeringai mendengar gumaman Hidan, lantas pria itu dengan cepat berbalik. "Kenapa? Kau marah?" tantang Sasuke terang-terangan.


Hidan mengepalkan tangannya erat. Sebelum berdecih pelan. "Ya, tindakanmu itu sungguh tidak sopan."


Sasuke semakin melebarkan senyumannya. "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan mendapatkannya."ujar Sasuke sebelum pergi.


"Cih, dasar bocah kurang ajar." gerutu Hidan pelan.


Pada saat yang tepat, tatapan mata mereka bertemu. Yuuren mematung beberapa saat, sebelum ia menyadarkan dirinya.


"Yang mulia, anda sedang apa? Disini..?" tanya Yuuren dengan nada canggung. Yah, Yuuren sempat berpikir aneh ketika mendapati Raja dari Kurosawa itu tengah berdiri didepan gerbang kediamannya.


Yang ditanyai malah salah tingkah, Hidan sampai tak berkutik karena mencari jawaban yang tepat.


"Aku disini? Hanya jalan-jalan saja." jawabnya asal. Hidan bahkan merutuki mulut bodohnya.

__ADS_1


Yuuren menahan tawa mendengar alasan Hidan, ia tidak habis pikir. Raja didepannya ini terlihat konyol. "Apa anda yakin yang mulia?" tanya Yuuren sekali lagi.


Hidan merasa malu sekarang, mendengar pertanyaan yang sama dari putra mahkota sekaligus calon kakak iparnya. "Ya.."


Yuuren mengangguk pelan, lalu berbalik. "Istirahatlah adik, besok kau harus melewati perjalanan yang panjang." gumam Yuuren lirih.


Ya, kali ini dirinya menasehati Hidan sebagai calon kakak ipar. Hidan menahan senyum mendengarnya. Ya, Hidan mengatakan kata-kata itu sewaktu 5 tahun yang lalu, Saat Yuuren dan Gaara keluar secara diam-diam dari asrama pelatihan.


Hidan tidak menyangka kata-kata itu bahkan berbalik padanya malam ini.


"Yang mulia putra mahkota, sebenarnya apa yang menarik dari dirimu. Hingga saat ini pun aku tidak bisa mengalihkan tatapan mataku darimu." gumam Hidan sambil menatap punggung Yuuren yang perlahan menjauh.


Samar, namun Yuuren jelas mendengarnya. 'Aku pun tidak mengerti, mengapa takdir berputar seperti ini.' batin Yuuren.


Namun dengan cepat Yuuren menepis kata-kata dari lubuk hatinya. "Ingat, Kau seorang putra mahkota. Dia seorang Raja. Kalian tidak mungkin bisa bersatu." tegasnya dengan nada kejam.


Yuuren dengan cepat masuk ke dalam kediamannya. Membuat seseorang terpaku dengan sosoknya yang semakin menghilang dari pandangan matanya.


"Yang mulia.." tegur Itona.


Hidan berbalik menatap sang penasehat kerajaan juga sahabatnya. "Itona, kau tahu adikmu ada disini?"


Hidan tersenyum miring. "Hanya ada satu kemungkinan alasan putra mahkota Shibuya datang kemari." gumam Hidan dengan nada misterius.


Itona membelalakkan mata menyadari kata-kata Hidan.


"Benar bukan, Itona?".


**


Keesokan Harinya.


Semua orang sudah berkumpul di halaman utara, mengantar kepergian sang raja Kurosawa. Yuuren sendiri bergegas dengan langkah lebar untuk mencapai ke sana.


"Yang mulia, tolong pelanlah sedikit." ucap Sara lemah.

__ADS_1


Yuuren sontak menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Sara yang terengah menyamai langkah dengannya. "Putri, maafkan aku. Mari, biar aku menuntunmu." ucap Yuuren.


Sara pun tersenyum, ia mengambil uluran tangan putra mahkota. Mereka pun sampai di halaman utara kerajaan Tachibana dengan berpegangan tangan.


"Maaf kami terlambat." ucap Yuuren setelah tiba disana.


Hidan tersenyum tipis melihat kehadiran putra mahkota Tachibana tersebut. "Saya mengerti, anda sangatlah sibuk yang mulia putra mahkota."


Yuuren melirik sinis pada Hidan, ia tahu raja dari Kurosawa itu tengah mengejeknya. 'Bagaimana mungkin aku menyukai pria seperti dia. Lebih baik si panda.' bathin Yuuren.


Sedang Takahashi Gaara bersin seketika. "Apa ada orang yang membicarakanku?" gumam Gaara lirih.


Setelah lama berbincang, rombongan dari kerajaan Kurosawa pergi dari kerajaan Tachibana.


Yuuren menatap punggung Hidan dengan tatapan rumit, sebelum berbalik dan mendapati gurunya tengah menatapnya tajam.


"Putri mahkota, aku akan menghabiskan waktu dengan latihan. Kau kembali lah." ucap Yuuren dengan nada pelan.


Setelahnya Yuuren mengikuti langkah Kakashi.


"Yang mulia, saya sudah mengingatkan anda beberapa kali. Namun sepertinya anda masih.."


"Guru, aku bahkan sudah memperingati diriku sendiri. Aku bahkan mendoktrin otakku. Hanya ada Sara disana. Jangan menekanku kembali, aku mohon Guru." sela Yuuren cepat. Ia lelah, bagaimana pun dirinya seorang perempuan. Ia tidak bisa menolak pesona Hidan didepan matanya.


Yukari pikir ia sudah menutupinya dengan baik, tapi Kakashi terlalu menekannya. Mungkin ini memang demi kebaikan kerajaan, tapi tidakkah Kakashi berpikir, jika ia melakukan hal itu akan menyakiti hatinya?


Yukatta tersenyum tipis setelah tidak lagi melihat rombongan Hidan. Ia berniat untuk pergi jalan-jalan.


"Hm? Apa aku bisa bertemu dengan pemuda itu lagi? Mengapa ia membuatku penasaran? Dengan topeng diwajahnya, matanya yang merah menyala... siapa pemilik mata merah di kerajaan ini?" Di sepanjang jalan, Yukatta terus bergumam tentang Sasuke.


"Apakah aku bisa menemukannya? Apakah dia salah satu anak dari bangsawan?" Yukatta menghentikan langkahnya ketika ia sadar berada di tempat umum. Ia menoleh dan mendapati wajah dayang-dayangnya.


Seketika Yukatta menghela nafas lega, setidaknya ia keluar tidak sendiri. Tapi ada yang menjaganya. Yukatta pun kembali melangkah. Dan sibuk memikirkan pria bermata merah.


Yukatta tidak tau, bahwa pria bermata merah sedari tadi tersenyum karena mendengar kata-katanya. "Jadi kau mencariku putri?" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Pria bermata merah itu terus mengikuti kemanapun Yukatta pergi. Setelahnya Sasuke duduk di kedai yang dijumpainya kemarin. "Aku tidak menyangka, kau begitu memikirkan identitasku."


"Aku penasaran, bagaimana reaksimu jika kau tau aku begitu mendambakan dirimu putri.." ucap Sasuke sambil menyeringai.


__ADS_2