Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Amanah Sasori


__ADS_3

Upacara pernikahan telah selesai, Gaara menghela nafasnya lega. Pria berambut merah itu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Setelah ini ia harus kembali ke kediaman sahabatnya untuk bertukar tempat.


Gaara tidak bisa menjamin, bahwa jika dirinya bertahan disini terlalu lama tidak akan mendapatkan masalah nantinya. Oleh sebab itu, pria bertato ai itu menggandeng istrinya ke kediaman sahabatnya. Tentunya Gaara melakukan semua itu setelah berbicara pada ayah mertuanya.


Sedangkan para menteri sibuk berbisik-bisik lantaran Gaara sang putra mahkota meninggalkan tempat yang menjadi saksi pernikahannya tadi. 'Persetan dengan mereka, aku harus kembali ke kediaman Yuuren. Sebelum dua pria menyebalkan itu menggangguku nanti.' batin Gaara jengah.


Yuuren sendiri tengah tersenyum puas setelah ia berhasil menangkap Genma dan Hayate. Yuuren yakin, sebentar lagi sahabatnya pasti akan datang mencarinya.


Yuuren menatap Aoki Shikamaru, tangan kanannya. "Shikamaru, tolong awasi mereka." titahnya sebelum pergi.


Pria berkuncir nanas itu menguap lebar. "Hah... mendukusai.. na.."


Pria berkuncir nanas itu duduk tidak jauh dari Genma dan Hayate yang tengah hilang kesadaran. "Aku tidak habis pikir, bagaimana kedua orang ini tertangkap." gumamnya dengan nada malas.


Ya, Shikamaru sendiri terkejut saat datang melihat kedua pria didepannya sudah terikat dengan kuat disebuah gudang.


Pria berkuncir nanas itu kini memejamkan matanya.


Yuuren bergegas menuju kediamannya, karena hari ini hari pernikahannya. Semua pelayan dan pengawal pun berjaga disana. Dengan cepat Yuuren masuk ke dalam kamarnya.


Setelah Yuuren masuk ke kediamannya, Gaara pun masuk setelah beberpa saat Yuuren tiba.


"Yang mulia..." Sara meringis menahan sakit, tidak biasanya Yuuren bersikap kasar padanya. Tapi, kekhawatirannya kini mulai terasa jelas. Sosok yang ia nikahi beberapa saat lalu terasa asing bagi Sara. Ketakutan Sara mulai terjadi dan terbukti.. setelah mereka masuk kedalam kamar Yuuren. Ternyata putra mahkota Tachibana itu tengah duduk di meja kerjanya.


"Yang mulia.." Sara menatap Yuuren dengan nanar. Sara menuntut penjelasan dari pangeran juga sahabatnya itu.


"Apa maksud anda?" tanya Sara dengan nada lirih. Sungguh, ingin rasanya Sara menangis saat ini juga.


Yuuren menatap Sara dengan tatapan lembut, lalu ia mendekati sahabatnya. "Sara, tolong jangan marah dulu. Aku bisa jelaskan semuanya." Yuuren menatap sahabat berambut merahnya.


"Gaara, ganti pakaianmu dulu." titahnya pada pria berambut merah.


Sara tercengang, gadis itu membuka mulutnya. "Yang mulia.. maksud anda.. dia.. aku.." Sara sampai kebingungan melihat situasi ini.


Yuuren menuntun Sara untuk duduk, ia membantu sahabatnya melepas perhiasan dirambut peraknya. "Tenanglah dulu Sara, aku jelaskan pelan-pelan." pinta Yuuren dengan nada lirih.

__ADS_1


"Kau tau bukan? Pernikahan adalah sebuah ikatan yang sakral. Dan kau tau jelas, kita tidak bisa melakukannya. Karena kita sama-sama perempuan." ujar Yuuren dengan nada tenang.


"Aku meminta Gaara untuk menggantikan posisiku saat upacara pernikahan, agar pernikahanmu sah didepan Kami-sama." lanjutnya kemudian. Ia terlihat menghela nafas berkali-kali.


"Sara, Gaara menggantikanku bukan karena kemauanku saja. Tapi itu juga sebuah amanah." Sara tiba-tiba berbalik. Menatap putra mahkotanya dengan tatapan tidak mengerti.


"Amanah? Maksud anda?"


"Sara, dalam perjalanan kemari. Gaara menemukan mayat Sasori." jelas Yuuren.


Sara membelalakkan matanya tak percaya. Gadis itu menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak mungkin, Sasori-kun.. dia masih hidup yang mulia. Anda jangan bercanda."


Tangis gadis itu pecah, ia sampai jatuh bersimpuh didepan Yuuren. Kakinya tidak bisa menahan berat tubuhnya.


Mendengar kabar Sasori tiada membuat hatinya hancur.


"Sasori-kun.. hiks.. tidak mungkin. Tidak mungkin! Anda pasti bohong yang mulia." teriaknya pada Yuuren.


Beruntung, kediaman Yuuren jauh dari istana kerajaan. Yuuren merendahkan tinggi badannya. Ia menghapus air mata sahabatnya. "Sara, aku tau Sasori adalah belahan jiwamu. Namun, kau harus membuka hatimu untuk Gaara." ucap Yuuren tegas.


Yuuren menatap Sara penuh permohonan. "Sara, dia juga sahabatku. Kau sahabatku juga, bahkan Gaara. Aku selalu ingin melihat kalian berbahagia. Sara, aku mohon.. terimalah amanah dari Sasori. Dia sudah tenang Sara."


"Katakan aku egois, tapi aku bersumpah. Aku memohon padamu untuk ini.. aku memang menjanjikan sebuah pernikahan padamu. Aku sudah berjanji akan melepasmu setelah menikahimu.. dan sekarang, para rakyat dan anggota kerajaan mengira kita sudah menikah. Sara aku.." Yuuren terkesikap saat Sara memeluknya erat.


"Cukup yang mulia, kau bisa melukai hatiku lebih dalam lagi jika diteruskan. Aku sudah berjanji akan membantu anda, bahkan nyawa pun akan aku berikan." Sara menghela nafas. Sungguh dadanya terasa sesak.


"Aku akan menerima amanah dari Sasori-kun.." putusnya kemudian.


Yuuren tersenyum ia menatap sahabatnya dengan penuh rasa terimakasih. "Sara, terimakasih kau sudah mau menerima amanah dari Sasori."


Sara menggelengkan kepalanya, ia yang harus berterimakasih karena Yuuren memberikan pernikahan padanya. "Tidak yang mulia, aku harus berterimakasih. Anda sudah memberikan sebuah pernikahan untukku."


"Jadi, kau sudah setuju." Ujar Gaara setelah lama terdiam di pojok ruangan.


Sara menghapus lelehan air mata dipipinya, Yuuren sendiri hanya menganggukkan kepala. Ia membantu Sara bangun.

__ADS_1


"Aku sudah menjelaskan padanya." ujar Yuuren memberitahu pria berambut merah itu.


"Ya aku mendengar semuanya." balas Gaara enteng.


Yuuren mendelik kesal pada sahabatnya.


Gaara menatap Sara dengan tatapan rumit, lalu beralih lagi menatap Yuuren. "Apa rencanamu setelah ini?" tanyanya serius.


Yuuren menatap Sara dan Gaara bergantian. "Sara akan tetap bersamaku sampai aku naik tahta. Gaara, aku mohon padamu. Aku pinjam istrimu dulu."


ctak!


"Ittaiii..." ringis Yuuren sambil memegang kepalanya.


Sara memukul kepala Yuuren karena kesal. Sementara Gaara tertawa pelan. Pria berambut merah itu mendekati Sara lalu memeluknya.


"Yang mulia!" Sara terkejut dengan tindakan Gaara yang tiba-tiba.


"Kenapa? Apa salahku?" tanya Gaara dengan nada bingung yang dibuat-buat. Yuuren menatap mereka kesal.


"Yaya, pengantin baru." Cibirnya pelan.


Gaara memberi senyum mengejek pada sahabatnya, sedang Sara berusaha mengimbangi sikap Gaara yang berubah hangat padanya.


"Rencana akan tetap berjalan sesuai arah dariku. Mungkin kedepannya, aku akan merepotkan kalian." ujar Yuuren dengan nada yang tidak enak.


Sara tiba-tiba teringat dengan Genma dan Hayate. "Yang mulia, sepanjang upacara pernikahan tadi, saya tidak melihat pangeran Genma dan putranya."


Yuuren menahan tawa ketika mengingat paman dan sepupunya. "Dia aku sembunyikan, jadi tidak mengganggu acara pernikahan kalian kan?" ucap Yuuren dengan nada puas.


Sara meringis, membanyangkan Genma dikurung di tempat yang kotor oleh Yuuren. Mengingat sahabatnya ini sangat membenci sang paman.


"Sungguh rencana yang hebat yang mulia." sindir Gaara.


Sara membatu, ia menatap Yuuren dengan tatapan horror.

__ADS_1


"Ada apa Sara?"


__ADS_2