Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Rasa Gelisah


__ADS_3

Yuuren memutuskan untuk istirahat sejenak, ia menoleh pada rombongan pelayan dan pengawalnya. "Kita istirahat sebentar." ucapnya dengan nada tegas. Yuuren tahu, mereka pasti lelah karena sebelumnya mereka melewati perjalanan menuju kuil yang menjadi saksi pernikahan kedua sahabatnya. Dan sekarang mereka harus kembali ke istana. Itu sebabnya ia memutuskan beristirahat sejenak.


Sang putra mahkota turun dari kudanya, kebetulan mereka berhenti tidak jauh dari penginapan. Disebelah penginapan ada kedai, Yuuren mengajak Sara untuk mengisi perut mereka.


"Apa tidak apa kita makan ditempat seperti ini?" tanya Sara lirih.


Yuuren masuk kedalam kedai sambil menggandeng Sara, putra mahkota Tachibana mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kedai. "Aku rasa tidak apa-apa. Lagi pula pelanggannya sedikit. Kita bisa makan dengan nyaman." ucapnya dengan nada pelan. Yuuren menarik Sara ke pojok ruangan, ia tersenyum kecil.


Mereka yang sedang makan tidak memperhatikan siapa yang datang. Yuuren merasa posisinya aman saat ini.


Sara duduk disamping Yuuren. Gadis itu sekarang lebih banyak diam sejak kembali dari kerajaan Takahashi.


Yuuren yang sadar pun memilih diam sejenak, setelah Yuuren selesai memesan makanan. Ia menatap Sara. "Kau melamun terus sedari tadi, merindukan suamimu eh?"


Sara terkesikap, lalu balas menatap suami - pura-puranya - "Bagaimana aku bisa merindukan suamiku, sedang dia saja berada disampingku?" balas Sara dengan senyuman miring.


'Syukurlah jika dia baik-baik saja.' batin Yuuren sambil tersenyum miring.


"Tapi yang mulia, jujur aku penasaran." Sara mengungkapkan rasa penasarannya. Gadis berambut perak itu menatap pangeran didepannya. "Siapa pembunuh Sasori-kun, kenapa dia membunuhnya? Dan..."


Yuuren menegang, dengan cepat ia melirik kearah sudut ruangan. 'Kenapa terasa aneh? Seperti ada yang mengawasi kami.' batin Yuuren gelisah.


Sara terdiam, ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya mendapati Yuuren bertingkah gelisah. "Y-yang mulia?" Sara mengusap lengan Yuuren pelan. Membuat sahabat sekaligus suaminya itu menoleh. "Ada apa?"


"Mungkin hanya perasaanku saja, aku merasa ada yang mengawasi kita." gumam Yuuren lirih. "Sudahlah, kita makan dulu saja."


Sara melihat keseluruh sudut ruangan. Namun matanya terhenti saat melihat sosok pria yang kini melihat kearah mereka. 'Aneh, kenapa pria itu menatap kearah kami. Lagi pula.. Mata merah itu.' Sara terkesikap dengan gerakan yang dibuat oleh pria bermata merah. Dirinya melihat ke luar kedai.


"Sara, kenapa kau melamun lagi? Apa aku harus memanggil Gaara kemari?" ejek Yuuren di sela makannya.

__ADS_1


Sara pun tersadar, ia kembali meraih beberapa daging panggang yang berada didepannya kemudian bergumam. "Ittadakimassu.." keduanya pun sibuk dengan makanan masing-masing.


Sementara diluar, Sasuke berjalan di tengah kerumunan. Bibir pria bermata merah itu menyeringai kecil. "Aku tidak menyangka, mereka begitu semangat untul menguak siapa pembunuh Sasori."


"Hah.. Tampaknya permainan ini semakin menarik saja. Sayang, aku akan mendapatkanmu dulu, dan kalian.. Takkan tahu siapa pembunuh Sasori, dan siapa dalang dibalik semuanya." ucap Sasuke senang. Pria itu menghilang ditengah keramaian kota.


Sara menyudahi acara makan siangnya. Ia melirik Yuuren yang sudah selesai lebih dulu. "Apa kita akan pergi sekarang?"


"Sebentar lagi putri, aku ingin menyelidiki sesuatu dulu."


Sara mengernyit, ia menatap bingung sahabatnya. "Menyelidiki soal apa?"


"Aku merasa tadi ada seseorang yang mengawasi kita, tapi saat aku memastikannya lagi. Orang itu sepertinya sudah meninggalkan kedai ini." ucap Yuuren setengah ragu.


Sara mengedarkan pandangannya ke seluruh kedai, namun ada tempat yang sudah kosong. Tempat pria bermata merah. 'Apa jangan-jangan, dia yang dimaksud yang mulia?' tanya Sara dalam hati.


"Sara, ayo kita kembali." ucap Yuuren setelah membayar pesanan mereka tadi. Sara pun menurut, ia mengikuti langkah Yuuren. Lagi-lagi Yuuren menggandeng tangannya, meskipun sudah biasa mereka saling bergandengan namun ia tetap saja merasa malu.


Mereka pun melanjutkan perjalanan ke istana kerajaan.


**


Yukatta sibuk mondar-mandir di kamarnya, gadis itu tengah gelisah, bingung juga. "Duhh.. sebenarnya apa yang aku pikirkan." kesalnya. Sesaat gadis itu merasa marah, marah karena kini Sasuke bisa mengancamnya kapan pun. Kesal, karena Yukatta tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Dan kini yang ada dipikirannya hanya ada Sasuke, putra mahkota dari kerajaan Shibuya.


Padahal, dengan Hidan ia tidak merasakan semua hal ini. Karena Hidan pria yang sopan dan tidak bertindak seenaknya.


Tunggu.. mengapa sekarang dirinya malah membandingkan Sasuke dengan Hidan? Jelas, dari segi sikap. Hidan jauh lebih baik, Sasuke itu pria yang buruk. Semena-mena terhadap dirinya, juga pria paling mesum yang ia temui.


'Sasuke ******!' makinya dalam hati.

__ADS_1


Yukatta mendudukkan dirinya diranjang, sungguh ia dibuat kalut karena pria bermata merah. Seruan dari pengawal mengejutkan Yukatta. "Nii-sama sudah pulang?" gumamnya. Yukatta bangun dari duduknya, ia keluar dari kediamannya.


"Putri hati-hati." pesan pelayan pribadinya.


"Ah. iya, aku terlalu senang Nii-sama sudah kembali." ucap Yukatta setelah memelankan langkah kakinya.


Dari kejauhan, Yukatta melihat Yuuren baru saja turun dari kudanya. Bibir Yukatta mengukir senyum. Ia berdiri dipinggir koridor istana.


Yuuren membantu Sara turun dari kereta, sikapnya sukses membuat para pelayan mendesah iri bahkan Yukatta juga. Gadis itu kini tengah mengembungkan pipinya kesal.


Pasangan suami-istri itu kini menghampiri Yukatta yang tengah menunggu mereka. "Kau menyambut kedatangan kami?" tanya Yuuren basa basi.


Yukatta mengangguk pelan, dirinya membungkuk memberi salam. "Selamat datang kembali Nii-sama, Nee-sama." ucapnya.


Yuuren mengusap kepala adiknya pelan. "Terimakasih sudah menyambut kami dengan baik."


"Nii-sama, aku pikir Nii-sama akan sedikit lama berkunjung disana." ucap Yukatta heran.


Mereka kini menuju kediaman Raja dan Permaisuri. "Hah.. aku masih ingin tinggal sebenarnya, namun aku tidak bisa meninggalkan tugasku lebih lama."


Yukatta memeluk lengan Sara. Wajahnya mengembung kesal. "Nee-sama, kau sangat tidak beruntung mendapatkan suami seperti dia. Bagaimana mungkin pria itu lebih memilih pekerjaannya dibandingkan menghabiskan waktu lebih banyak denganmu?"


Sara menahan tawanya mendengar ucapan adik iparnya yang begitu jengkel terhadap Yuuren. "Adik, bagaimana mungkin aku bisa lari darinya. Jika bukan aku, mungkin gadis lain tidak akan ada yang mau." ucap Sara mengompori.


Yukatta mengangguk antusias mendengar balasan dari kakak iparnya. "Kau benar Nee-sama.." setelahnya mereka berdua tertawa pelan.


Yuuren yang melihat itu tersenyum sambil menggelengkan kepala. Jika soal menjatuhkan harga dieinya, mereka cepat dan kompak.


Mereka bertiga diam setelah sampai dikediaman Raja dan Permaisuri.

__ADS_1


"Eh? Kenapa kita kesini?"tanya Yukatta heran.


Yuuren tak habis pikir, bagaimana mungkin adiknya tidak sadar saat perjalanan kemari? Lagi-lagi Yuuren menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik.


__ADS_2