Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Pertemuan Yang Manis


__ADS_3

Genma dan Hayate saat ini ada dikediamannya, setelah menahan rasa kesal karena bertemu dengan Yuuren di Aula istana membuat mereka kini melampiaskan amarah dengan membanting beberapa buku dan cawan.


"Anak itu benar-benar menyusahkan, mengapa susah sekali menyingkirkan mereka?" ujar Genma kesal.


Hayate beranjak bangun, lalu ia memegang bahu sang Ayah. "Ayah, mohon untuk bersabarlah sebentar. Tepat saat waktunya tiba. Dia tidak akan bisa memperlakukan kita seperti ini." Hayate tersenyum melihat perubahan sikap ayahnya, pria itu kembali berkata.


"Penobatan seorang raja, akan sah bila mereka sudah resmi menikah. Kita hanya perlu menggagalkan pernikahan Yuuren dan Sara."


Senyum Genma melebar mendengar kata-kata dari puteranya. "Kau pintar juga, sekarang kita hanya perlu membuat rencana baru untuk mereka." gumam Genma pelan, pria itu mengambil papan Shogi dan membukanya. "Mereka tidak lain hanya pion yang bisa ku mainkan sesuka hati." ujar Genma sambil memainkan Shogi ditangannya.


Hayate tersenyum, lalu berubah tegang ketika mendengar derap langkah dari halaman kediamannya. Membuat Hayate diam tak berani mengeluarkan suara lagi.


Karena mereka masih harus menyembunyikan rencananya dari Raido juga dunia sekalipun.


**


Riuh suara pengunjung di kedai tidak membuat Sasuke merasa risih, ia bahkan masih betah berada disana dengan dalih memata-matai pujaan hatinya yang tengah menikmati makan siang bersama dengan tunangannya.


Jika dipikir lagi, tindakannya ini memang terlihat seperti pria bodoh yang menunggu seseorang yang jelas-jelas milik orang lain. Tapi putra mahkota Shibuya itu tengah jatuh cinta, kebanyakan orang yang tengah jatuh cinta tanpa sadar bertindak semau mereka.


Sasuke menatap Yukatta lama, pria itu sengaja memasang sorot matanya yang tajam namun lembut disaat bersamaan. Juga Sasuke membentuk senyuman kecil yang bertengger di bibir tipisnya. Membuat wanita mana pun pasti akan tertarik pada dirinya.



Yukatta tanpa sadar menatap kearah Sasuke. Entah kenapa ada desir aneh saat menatap mata merah pria yang kini tengah menatap ke arahnya juga. Dengan cepat Yukatta memalingkan wajah, ia tidak mau terlalu tenggelam dalam pesona yang dimiliki oleh pria beraura kelam itu.


Yukatta menundukkan kepalanya, berpura-pura menikmati hidangan yang ia pesan.


Membuat Sasuke yang melihat tingkahnya terkekeh pelan. "Manis sekali." batinnya.


Hidan yang merasa aneh dengan tunangannya pun menegur Yukatta. "Hime, apa kau baik-baik saja?" tanya Hidan dengan nada lembut.


Yukatta langsung mendongak menatap calon suaminya. "Ya yang mulia, saya baik-baik saja." Mereka pun melanjutkan acara makan mereka. Berhubung mereka sedang menyamar sebagai bangsawan biasa jadi mereka aman makan di kedai biasa seperti ini.


"Kalau kau lelah, sebaiknya kita kembali ke istana." gumam Hidan disela makannya.


"Maaf membuat yang mulia tidak nyaman dengan sikapku. Tapi aku tidak bermaksud sama sekali." jelas Yukatta.


Hidan tersenyum tipis. "Hime, aku selalu nyaman saat bersama denganmu."

__ADS_1


"Jadi, apa kita lanjutkan acara jalan-jalannya?" tanya Hidan dengan nada tenang.


Yukatta menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


**


Hari mulai gelap Yuuren beranjak dari duduknya. Ia berniat keluar untuk menghirup angin segar. Namun betapa terkejutnya ia melihat rombongan dari adiknya juga calon adik iparnya.


deg..


Rasa tak mengenakan itu datang lagi ketika melihat Hidan tersenyum pada adiknya. Yuuren marah melihat adegan romanris dihadapannya.


"Tenang, kau seorang pria Yuuren. Jangan membuat malu dirimu sendiri." kalimat itu terus terulang bagai kaset rusak dalam pikiran Yuuren.


"Kakak!" teriak Yukatta sambil mengangkat bajunya. Yuuren tersentak, refleks ia memasang senyuman tipis demi menjaga wibawanya.


"Adik, kamu sudah dewasa. Bersikaplah sewajarnya." tegur Yuuren halus.


Yukatta merona malu mendengar teguran dari sang kakak. Gadis itu menunduk menyembunyikan ekspresinya.


"Tapi saat ini hanya ada kakak dan aku. Untuk apa aku menjaga sikap?" protesnya dengan nada kesal.


"Oh iya! Aku punya sesuatu untuk kakak." ucap Yukatta tiba-tiba.


"Hm? Apa itu?" tanya Yuuren penasaran.


"Kejutan!" teriak Yukatta.



Kedua mata Yuuren terbelalak. Terkejut melihat hadiah yang dibawa oleh adiknya. "Ini sangat indah.." gumam Yuuren setelah terpaku beberapa detik.


Yukatta tersenyum, merasa dirinya berhasil membuat sang kakak senang dengan pemberiannya.


Yuuren menghela nafas pelan setelah angin dingin membelai kulitnya. "Yukatta, sebaiknya kau pergi istirahat sekarang. Besok calon suami mu akan kembali pulang ke kerajaannya, apa kau tidak mau pergi mengantarnya besok?" ujar Yuuren panjang lebar.


"Ah! Itu benar, terimakasih kakak sudah mengingatkanku!" Yukatta segera berlari setelah pamit pada Yuuren secara terburu-buru.


Yuuren menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya. Sang putra mahkota pun membalikan badan, berniat untuk masuk kembali ke kediamannya. Namun siluet seseorang membuatnya waspada.

__ADS_1


'Siapa dia?' tanya Yuuren dalam hati. Sosok itu, Yuuren merasa pernah melihatnya.


Sedangkan sosok yang dilihat Yuuren tadi berusaha bersembunyi dengan sebaik mungkin.


"Celaka, aku tidak boleh ketahuan oleh putra mahkota."gumam Sasuke lirih.


Karena rasa penasaran, Yuuren melangkah mendekati gerbang kecil yang terletak tidak jauh dari kediamannya.


'Apa dia seorang mata-mata? atau..?' Yuuren sibuk menebak siapakah orang yang ada dibalik tembok kerajaan.


"MEOWWW!"


Yuuren mengelus dadanya karena terkejut. "Ternyata hanya kucing, sepertinya aku terlalu waspada." gumam Yuuren lirih.


"Yang mulia.."


Yuuren berbalik, lalu menatap Sara heran. "Sara, kau disini?"


"Anda harus membantu saya yang mulia." ucap Sara cepat. Sang putri mahkota menyeretnya kedalam kediaman.


Yuuren menatap Sara, meminta penjelasan. "Jelaskan apa maksudmu Sara.."


"Yang mulia, saya harap anda tidak marah dulu." Sara mengatur nafas perlahan. "Saya mendengar kalau.. Pangeran Genma dan anaknya merencanakan sesuatu. Mereka ingin menghancurkan rencana pernikahan kita." Sara merasa gelisah memikirkan hal ini.


Yuuren tidak terkejut mendengar rencana pamannya, ia sudah menduga akan hal ini.


"Sara tenanglah, aku sudah punya rencana untuk mereka. Kau tenang saja, aku tidak mungkin membiarkan mereka merusak rencana kita Sara." Yuuren menggeggam tangan Sara menatap sahabatnya dengan tatapan lembut.


"Mereka hanya akan membuat rencana yang sia-sia Sara."


Sara mengangguk pelan, yah. Yuuren sudah memiliki rencana, jadi.. ketakutan yang dirasakannya tadi mungkin hanya perbuatan yang sia-sia. Hanya saja, Sara hampir lupa bahwa tunangannya adalah seorang putra mahkota.


Orang yang berpengaruh dikerajaan selain Raja. Jadi, Yuuren tidak mungkin tidak memiliki rencana apapun untuk membalas para musuh yang tidak menyukainya.


"Pergilah beristirahat, aku harus menyelesaikan sesuatu dulu." ujar Yuuren pelan.


"Baiklah, maaf sudah menganggu anda yang mulia." Ucap Sara lirih. Kemudian sang putri mahkota meninggalkan Yuuren sendiri di halaman kediaman.


Yuuren menatap Sara dengan rasa bersalah. Namun secepat kilat Yuuren merubah ekspresi wajahnya. "Mungkin tadi memang suara kucing, tapi aku sekilas melihat mata merah itu."

__ADS_1


__ADS_2