
Yuuren mengepalkan tangannya erat, jujur ia gugup saat ini. Ia takut jika nanti para petinggi kerajaan akan memberontak diacara penobatannya. Namun saat mengingat wajah Genma dan Hayate, Yuuren mengepalkan tangannya kuat. Rasa kesal, marah, dan benci menjadi satu. Ia memantapkan hatinya agar sang paman tidak bisa mengambil alih kerajaan dari dirinya maupun sang ayah.
"Aku yakin, aku akan menghancurkan keinginanmu paman." desisnya tajam.
Yuuren melirik sahabatnya, Gaara sudah datang sejak pagi buta. Pria bersurai merah itu datang untuk mendukung sahabat baiknya.
"Kau tenang saja Yuuren, aku dan Shikamaru yang akan mengawasi pergerakan mereka."
Yuuren tersenyum tipis lalu menepuk bahu sahabatnya. "Terimakasih Gaara, hingga detik ini pun kau selalu ada untuk membantuku."
"Ini bukan apa-apa, dari bantuan yang kamu berikan dulu." balas Gaara dengan nada lirih.
Yuuren terdiam, bukan ia bermaksud untuk mengusik luka lama. "Maafkan aku Gaara, aku tidak bermaksud mengusik luka lama."
Sara berdiri dari duduknya, gadis berambut perak itu tampak cantik dengan balutan Kimono berwarna merah. Hiasan burung phoenix menghiasi rambut peraknya. "Yang mulia, sudah saatnya kita keluar." ucap Sara mengingatkan.
Yuuren mengangguk pelan, benar mereka tidak bisa berlama-lama disini. Yuuren dan Sara pun keluar dari kediaman putra mahkota, mereka berjalan menuju aula istana. Yuuren meluruskan pandangan matanya, tekadnya sudah bulat. Apalagi setelah perjuangan mereka selama bertahun-tahun.
'Aku tidak mungkin mengecewakan Otou-sama.' batin Yuuren.
"Yang mulia Putra dan Putri mahkota telah tiba!" seru pengawal yang berjaga didepan pintu.
Tiba mereka di aula istana kerajaan, para petinggi kerajaan sudah berkumpul disana. Termasuk Genma dan Hayate. Mereka menatap tidak suka padanya. Mungkin masih mempunyai dendam saat tragedi penculikan di hari pernikahannya waktu itu. Yuuren terkekeh geli dalam hati.
Kini ia berhadapan dengan sang ayah dan ibundanya. Yuuren dan Sara membungkuk memberi salam.
Raido dan Kurenai berdiri melihat putra dan menantunya membungkuk padanya.
"Bangun putraku." titah Raido tegas.
Yuuren dan Sara bangun, berdiri dihadapan Raido dan Kurenai.
Raido menatap keseluruh sudut ruangan, menatap para petinggi kerajaan. "Hari ini saya umumkan, putra mahkota Tachibana Yuuren dinobatkan menjadi Raja Tachibana!" teriak Raido
"Hidup yang mulia Raja Yuuren!" teriak Kakashi.
"Hidup!" teriak mereka serempak.
__ADS_1
Yuuren tersenyum tipis ia juga telah menerima mahkota dari sang ayah. Sorak sorai menyebut namanya memenuhi aula istana kerajaan.
Sara melirik sahabatnya, bibirnya tersenyum. Ia bahagia melihat Yuuren berhasil menjadi Raja.
"Yang mulia.." gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
**
Setelah acara penobatan sang kakak, Yukatta memutuskan untuk menjauh dari kerumunan. Ia pergi ke kediamannya. Semua orang sibuk merayakan penobatan Yuuren.
Pandangannya linglung, ia merasa tak terarah sejak Sasuke mengambil mahkotanya yang paling berharga. "Aku harus minum ramuan, agar aku tidak mengandung bayi dari iblis itu." pikir Yukatta.
Kedua tangannya mengangkat Kimono yang dipakainya, Yukatta berlari kecil untuk sampai di kediamannya.
hah
hah
"Putri, kenapa anda lari?" tanya salah satu pelayan.
Yukatta mendelik padanya. "Cepat tinggalkan aku sendiri."titahnya.
"Baik Tuan Putri." semua pelayan meninggalkan Yukatta sendirian di kediamannya.
Yukatta beranjak bangun, ia menutup pintu kamarnya. Tiba-tiba sepasang lengan melingkari perutnya, membuat tubuh Yukatta menegang. Perlahan, Yukatta menolehkan kepalanya. Melihat siapa pemilik sepasang lengan tersebut. "Kau.." ucapnya geram.
Sepasang netra berwarna merah menyambut tatapan dingin Yukatta. Sasuke tahu, wanita yang ada dipelukannya ini telah membencinya sampai mati. Sasuke bisa melihat dari matanya, binar yang dulu polos sekarang meredup. "Aku datang karena merindukanmu sayang." bisik Sasuke dengan mesra.
Yukatta berjengit. Ia meronta dalam pelukan Sasuke. Baru saja ia berpikir untuk meminum ramuan agar yang terjadi saat itu tidak membuahkan hasil. Namun Sasuke kini malah datang menemuinya lagi.
"Tapi aku tidak merindukanmu, iblis." desisnya tajam.
Seringaian Sasuke melebar melihat pemberontakan Yukatta. "Kau suka main kasar ternyata." setelah mengatakan kalimat tersebut, Sasuke ******* Kimono Yukatta.
"B*****! pergi dari kamarku!" teriak Yukatta.
Sasuke tersenyum miring, ini suatu keberuntungan karena tidak ada seorang pun disekitar sini. Para pelayan pun sudah diusir oleh Yukatta. "Kau miliku seorang, yang boleh menyentuhmu hanya aku."
__ADS_1
Yukatta berdecih, kedua tangannya masih berusaha menutupi tubuhnya yang terekspos. "B**i****!"
Sasuke dengan cepat menghampiri Yukatta yang tengah kesulitan menutupi tubuhnya. Dengan cepat, Sasuke menarik Yukatta ke ranjangnya. "Sudah aku bilang, kau miliku. Untuk apa kau menutupi tubuhmu? Aku sudah melihat semuanya!"
Yukatta tersentak saat sesuatu menembus miliknya. "Br***se* kau.. Sasuke." ucapnya dengan nafas terputus-putus.
"Sebutlah terus namaku sayang." ucap Sasuke senang.
Mereka kembali memadu kasih, walaupun awalnya Yukatta terus memberontak dibawah kungkungan Sasuke.
**
Yuuren dan Sara duduk dikursi Raja dan Permaisuri. Saat ini mereka tengah berada di perjamuan, para petinggi kerajaan pun menghadiri perjamuan tersebut.
Gaara sedari tadi mengawasi, entah kenapa perasaannya tidak enak. "Atau mungkin hanya perasaanku saja." gumamnya dalam hati.
Selang beberapa waktu, Sara dan Yuuren datang menghampirinya. "Kenapa Gaara? Aku lihat sedari tadi kau gelisah." tanya Yuuren setelah berada dihadapan sahabatnya.
"Tidak apa-apa, apa kalian akan pergi beristirahat?" tanya Gaara balik.
Yuuren mengangguk. "Dia terlihat kelelahan, aku jadi tidak tega." ucapnya dengan nada bercanda.
Gaara tersenyum tipis, ia menatap Sara sekilas. Pria berambut merah itu merasa tidak bebas. Akhirnya Yuuren, Sara dan Gaara meninggalkan aula istana yang masih ramai. Yuuren sudah menyerahkan mereka pada Raido dan Kurenai.
Saat melewati kediaman Yukatta, Yuuren merasa aneh. Tidak biasanya kediaman adiknya begitu sepi. Yuuren melirik pelayan Yukatta yang berjejer didepan kediaman Yukatta. Karena rasa penasaran, Yuuren menghampiri mereka.
"Kenapa kalian semua berada disini?" tanya Yuuren pada mereka.
"Salam yang mulia, kami berdiri disini karena Tuan Putri menyuruh kami keluar dari kamarnya." jawab ketua pelayan Yukatta.
Yuuren mengernyit, heran dengan perbuatan adiknya. "Kenapa?"
Pelayan itu gelagapan. "Hamba tidak tahu yang mulia. Putri terlihat kesal, dan saya benar-benar tidak tahu alasannya."
Sara merasa janggal, diam-diam ia pergi menyusuri kediaman Yukatta. Tidak ada yang tahu dia pergi. Sara merasa cemas, bagaimana pun ia mengenal Yukatta seperti ia mengenal Yuuren. Mereka tumbuh bersama sejak kecil, ini terasa aneh baginya.
Langkah kaki Sara terhenti ketika mendengar desahan seseorang. Sara terpaku, ia bukanlah anak kecil ataupun remaja. Tetapi, dalam pikirannya. Siapakah yang melakukan hal tersebut..
__ADS_1
"Yukatta.." batinnya miris. Sedih karena Sara tidak bisa menjaga adik dari sahabatnya.
Karena sibuk dengan pemikirannya, Sara tidak sadar saat seseorang kini berada dihadapannya. "Lebih baik kau bungkam! Jika kau membuka mulutmu, aku akan membunuh suamimu! Ingat itu!" ancamnya.