Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Permintaan, Atau Perintah?


__ADS_3

Yuuren mendongak menatap sahabat berambut merahnya. "Gaara, kau harus menikah denganku!"


Pria bertato ai itu menaikan sebelah alisnya, dahi pria itu mengernyit mendengar perintah dari sahabatnya. "Kau ini sedang melamarku, atau memberi perintah padaku?" tanyanya.


Sang raja muda mendengus pelan, ia mengurai pelukan sang ayah. "Tentu saja itu sebuah lamaran untukmu! Apakah kata-kataku kurang jelas?" balasnya dengan nada mengejek.


Pria bertato ai bersidekap, menantang sang raja muda didepannya. "Bagaimana kalau aku tidak mau?" tantangnya.


Beda dengan Gaara yang menantang, Yuuren malah bergerak maju dan menarik kerah Hakama yang dipakai pria itu. "Tentu saja kau harus mau sahabatku, karena ini perintah mutlak dariku. Berpikir untuk menolakpun kau tidak boleh!" ujarnya sambil tersenyum sadis.


"Kalau begitu ini pemaksaan. Kau ini egois sekali." ucap Gaara tidak setuju. Niat hati hanya ingin bercanda, Gaara tidak menyangka Yuuren akan akan menangis dalam diam sambil menatapnya. Pria bertato ai itu seketika panik.


"Maafkan aku, aku tidak.."


"Salahkah jika aku egois sedikit saja?" tanya Yuuren dengan nada lirih. Ia menghapus air matanya dengan kasar, ia tidak boleh menangis lagi. Ia seorang raja, Yuuren harus kuat. Itulah kata-kata penyemangatnya dikala sedih.


"Yuuren, aku ingin bertanya satu hal." ucap Gaara dengan nada serius.


Yuuren menatap sahabatnya dengan mata berair. "Hal apa yang ingin kau tanyakan disaat seperti ini?" balas Yuuren kesal.


Gaara menghela nafasnya pelan, pria itu menatap Ibu Suri dan raja Raido bergantian. "Bagaimana yang mulia? Apa anda mengizinkan saya untuk menikahinya?" tanya Gaara dengan sopan.


Raido melirik istrinya sebentar, lalu menatap pria yang lebih muda darinya. Ia telah lama mengenal Gaara, putri sulungnya pasti akan baik-baik saja bersama pria bertato ai itu. "Aku memberi izin untukmu, pangeran."


"Tapi.." Raido menggantung ucapannya. Pria itu terlihat sedikit cemas.


Yuuren mendekati ayahnya, menggenggam tangan pria yang selalu menjadi panutan bagi dirinya. "Apa yang Tou-sama khawatirkan?" tanyanya lembut.


Raido tersentak, "Akan lebih baik kalian tidak terburu-buru, apa kata mereka nanti. Sara.."

__ADS_1


"Tou-sama, bagaimana pun posisi permaisuri tidak boleh kosong. Mengenai Sara, aku masih sangat menghargainya sebagai sahabatku. Kalau Otou-sama merasa sungkan terhadap sensei, maka aku sendiri yang meminta izin darinya." ucap Yuuren bersungguh-sungguh.


"Tou-san terlalu khawatir padamu ternyata, tidak kusangka anakku tumbuh se-dewasa ini." gumam Raido lirih.


Pria bertato ai terkekeh pelan melihat ekspresi wajah sahabatnya. "Baiklah, aku akan menikahimu." ujarnya seraya tersenyum.


Senyum Yuuren merekah mendengar jawaban Gaara, walau beberapa saat lalu dirinya merasakan patah hati. Namun entah kenapa sekarang terasa lega rasanya, seakan beban hidupnya terasa terangkat. Yuuren tersenyum kearah Gaara, kemudian mengucapkan kata terimakasih pada sahabatnya itu.


Keesokan harinya, pernikahan mereka berdua dilaksanakan. Awalnya para petinggi istana kerajaan menolak keras keputusan Yuuren yang akan menikah dengan putra mahkota Takahashi. Karena mereka semua menganggap ini sebagai aib bagi kerajaan mereka.


Karena tidak ada dalam sejarah kedua pria yang saling terikat dalam pernikahan tentu saja sebuah hal yang tabu.


Namun saat dihari pernikahannya, Yuuren mengenakan pakaian pengantin wanita. Juga memakai hiasan seperti pengantin wanita pada umumnya, mereka seakan tersihir oleh kecantikan Yuuren.


Melihat Yuuren memakai pakaian pengantin wanita membuat mereka semua terdiam. Yuuren benar-benar cantik, membuat mereka mendesah iri dengan kecantikan yang Yuuren miliki.


"Sayang sekali yah? Mereka sesama pria." celetuk salah satu dari anak perdana mentri.


Namun kesenangan pria berambut merah hanya terbatas di situ, ia mendadak kesal dan ingin cepat menyelesaikan upacaranya.


"Padahal permaisuri Sara belum lama meninggal, tapi yang mulia malah menikah lagi? Bahkan tanpa segan yang mulia menikah dengan sahabat laki-lakinya." ucap Karin dengan nada culas. "Aku jadi curiga, kalau meninggalnya yang mulia permaisuri rencana dari mereka." sambungnya kemudian.


Karin tidak terima jika sepupunya mendapat perlakuan seperti ini. Karena Karin pikir Kakashi sudah banyak membantu raja terdahulu, tapi tidak adq balasan yang baik untuk keluarga mereka. Karin tidak tahu saja, mereka membantu Yuuren dengan sungguh-sungguh. Karin hanya kesal, mengapa saingannya justru seorang pria. Itu sama saja meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita.


*


Dua bulan berlalu, setelah upacara pernikahannya. Yuuren atau Yukari menjalani kehidupannya sebagai perempuan kebanyakan. Meski awalnya itu terasa sulit, namun Yuuren membiasakan dirinya agar terbiasa mengenakan pakaian wanita, yang memang seharusnya dari dulu ia kenakan.


Dan bukan berarti kehidupannya pun damai, bagaimana pun karena baik rakyat maupun pejabat istana mereka protes. Merasa ditipu oleh Yuuren sekian lama.

__ADS_1


Namun dengan tegas Yuuren mengatakan. "Memangnya kenapa kalau seorang wanita menjadi pemimpin?" ucapnya dengan nada tinggi. Begitu Yuuren menyerukan pertanyaan tersebut, Genma langsung mendekatinya.


"Harusnya yang mulia turun dari takhta, sejauh sejarah kerajaan Tachibana tidak pernah dipimpin oleh seorang wanita. Dan itu jika anda seorang wanita." cibirnya. Genma kesal, ia sudah mengetahui identitas Yuuren saat Yuuren melamar Gaara di aula istana. Pria itu diam-diam bersembunyi dan mendengarkan apa yang mereka katakan.


Yuuren menaikan sebelah alisnya, ia menatap Genma tajam. "Kau tahu sendiri kan? Tentang identitasku?"


Genma pun mundur, merasa dirinya telah kalah melawan keponakannya. Karena ia tidak bisa naik takhta, sekeras apapun ia merebut kursi kebesaran itu dengan Yuuren. Alhasil nyawa putra sematawayangnya pun melayang.


Hayate sudah mengatakan padanya dulu, bahwa perbuatan mereka hanya akan sia-sia saja. Genma yang seorang anak dari selir tidak bisa naik takhta.


puk!


Tepukan dibahunya membuat Yuuren tersadar dari lamunannya, seketika ia menoleh dan mendapati pria bertato ai yang tengah tersenyum kearahnya.


"Memikirkan apa? Mengapa terasa sibuk sekali, sehingga aku harus menepuk bahumu dulu." tanya Gaara dengan nada lembut.


Yuuren memeluk suaminya, entah kenapa perhatian sekecil apapun yang dibuat Gaara terasa manis baginya. "Banyak hal yang aku pikirkan, terkadang membuatku lelah jika mengingatnya."


Sang pria mengusap punggung istrinya pelan, ia paham apa yang Yuuren keluhkan padanya. "Lalu kenapa kau masih terus bertahan? Bukankah aku sudah berjanji padamu, aku akan mengurus Tachibana dengan baik."


Diam-diam Yuuren tersenyum, ia menengadah melihat wajah tampan suaminya. "Kau sudah memikul beban yang berat dipundakmu, aku tidak mungkin menambah beban yang kau pikul."


"Kita suami-istri, kita harus sama-sama sling membantu bukan? Dan apakah itu beban? Bagiku, hal yang kaitannya denganmu bukan beban sama sekali. Justru aku selalu merasa bahagia ketika aku bisa membantumu." ucap Gaara pelan.


Yuuren selalu menganggap dirinya sebagai beban bagi orang lain. Dan Gaara benci hal itu.


"Gaara.."


"Hm?"

__ADS_1


"Bagaimana dengan Sara dan Sasori?"tanya Yuuren lirih. Sedang pria berambut merah menatap istrinya lekat, jujur baik keduanya belum bisa memaafkan diri sendiri karena saat iru, ia memeluk Yuuren.


"Mereka sudah bersatu disurga sana, seperti kita berdua." bisik Gaata mesra


__ADS_2