Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Jaga Sara Untuku Gaara


__ADS_3

Tayuya menyeringai saat melihat Sasori muntah darah beberapa kali. Tayuya melihat ke arah kawanannya yang berhasil memanah pria berambut merah tersebut.


"Misi berhasil." gumam Tayuya.


Setelah memastikan Sasori tak lagi bergerak, rombongan Tayuya pergi meninggalkan tempat tersebut.


Tak lama setelah Tayuya pergi, Sasori mengangkat kepalanya. "Beraninya kalian.... akan kubalas nanti." Rasa pening dikepalanya membuat Sasori jatuh pingsan.


Tubuhnya perlahan membiru, efek racun yang berada di anak panah yang tertancap di punggungnya.


**


Upacara pernikahan putra mahkota akan digelar besok, berita pernikahan putra dan putri mahkota telah menyebar ke penjuru negeri. Namun para rakyat agaknya kecewa karena putra mahkota menolak dengan tegas untuk perayaan hari bahagianya itu.


Tapi rakyat kerajaan Tachibana masih bisa menghormati keputusan putra mahkota, karena sejauh ini Yuuren selalu bersikap baik pada mereka.


"Huft.. sayangnya kita tidak bisa ikut merayakan pernikahan putra mahkota."ucap salah satu pedagang.


"Tapi yang mulia memberikan kita banyak uang untuk berpesta di luar istana." seru yang satunya lagi.


"Wah kalau begitu, aku tidak keberatan jika tidak ada pesta di istana kerajaan." celetuk yang lain.


Obrolan tersebut tidak luput dari ayah dan anak. Genma menyeringai, berita ini bisa menjadi bomerang bagi keponakannya, Yuuren.


"Lihat saja, siapa yang akan menduduki tahta. Yuuren atau aku." desis Pangeran Genma.


**


Rombongan dari kerajaan Takahashi sudah mencapai setengah perjalanan. Sang putra mahkota memutuskan untuk beristirahat sejenak. Namun baru saja ingin memejamkan mata, Gaara dikejutkan dengab suara kakaknya.


"Gaara!" teriak Kankurou.


Gaara pun menoleh dan mendapati wajah Kankurou yang berubah menjadi pias. Tak lupa warna merah yang berada dipangkuan Kankurou.


"Nii-sama.." panggilnya lirih. Persaan sesak menghampiri dadanya. Bukannya Gaara berpikir negatif, namun hanya sedikit orang yang mempunyai warna rambut seperti dirinya.


Gaara dengan cepat menghampiri Kankurou. Dan apa yang dikhawatirkan terjadi.


Sasori, Takashi Sasori terbaring lemah dengan semua kulit membiru. Didepan matanya.


"Nii-sama, bangunlah!" teriak Gaara histeris. Kankurou yang mendengarnya terasa sesak. Baru kali ini ia melihat adiknya menangis.


Dengan kesadaran yang hampir nihil, Sasori membuka matanya.


Melihat Sasori sadar, Gaara tersenyum. Namun senyuman itu pudar melihat gerak bibir Sasori.


"Jaga Sara untukku Gaara."

__ADS_1


Gaara menggeleng lemah, ia tidak mau Sasori meninggalkan mereka. Kakak sepupunya sudah cukup menderita, mengapa takdir begitu kejam padanya?


"Tidak, kau harus menjaganya sendiri! Nii-sama, dia sangat mencintaimu.. pikirkanlah kau akan terus bisa bersamanya!" gertak Gaara.


Kepala Sasori menggeleng. Racun yang ada ditubuhnya sudah merambat luas keseluruh tubuh. Ia meminta pada Gaara, bahwa itu adalah permintaan terakhirnya.


Setelah mengatakan kalimat terakhir, Sasori menutup matanya rapat.


"Tayuya, dia yang melakukan ini padaku. Balaskan kematianku Gaara."


Gaara menyeringai setan, lalu tertawa setelahnya. "Aku bersumpah Nii-sama, aku akan membalaskan dendammu."


"Itulah janjiku, dan aku berjanji.. aku akan menjaga Sara untukmu." gumam Gaara lirih.


Kankurou menepuk pundak adiknya. Membuat pria bertato ai itu menoleh padanya. "Bagaimana dengan jasadnya? Kau ingin menghadiri pernikahan Yuuren bukan?" tanya Kankurou serius.


Benar, mereka berniat menghadiri pernikahan Yuuren. Namun sesuatu yang tak terduga terjadi pada mereka, menemukan jasad Sasori di tengah hutan bukan kehendak Gaara maupun Kankurou.


"Kita kirim jasad Nii-sama pulang, tapi aku akan tetap menghadiri pernikahan Yuuren. Dan kau, kau kembali ke kerajaan Nii-san. Sampaikan maaf pada Temari, maaf tidak bisa menjaga Sasori."


Kankurou menunduk, ya walaupun Sasori kakak sepupu mereka. Namun Temari sangat menyayangi Sasori. Berita kematian Sasori pasti memukul telak Temari.


"Aku pergi dulu Kankurou." ujarnya sebelum pergi meninggalkan Kankurou juga rombongannya. Gaara berniat pergi sendiri ke kerajaan Tachibana.


"Tunggu pembalasanku Tayuya." geram Gaara.


**


Sasuke beranjak bangun, lalu pria bermata merah itu kembali mengenakan topengnya.


"Kerja bagus Tayuya, singkirkan siapa saja yang berada di samping Yukatta." ucap Sasuke lirih.


"Baik yang mulia." balas Tayuya lirih.


Kemudian para bawahannya itu menghilang dari tatapan matanya. "Sebentar lagi, aku akan mendapatkanmu Hime."


Tatapan matanya tertuju pada rombongan Putri Yukatta yang tengah asyik memilih kain dan baju.


Sasuke bergerak keluar dari penginapan, lalu mendekati Yukatta. 'Sekarang raja Uban itu sudah tidak lagi di sini. Aku bisa bebas untuk mendekati putri Yukatta.' batin Sasuke senang.


Tanpa disengaja, tangan putri Yukatta dan pangeran Sasuke saling bersentuhan.


"Ah!" Yukatta terlebih dahulu sadar dan menarik tangannya.


"Maafkan saya nona, saya telah lancang." ucap Sasuke dengan wajah bersalah.


Para dayang tersentak, mereka beranjak mendekati tuan putri mereka. Menyadari para dayangnya bertindak melindunginya. Yukatta melambaikan tangan, kode bahwa tindakan mereka tidak perlu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa tuan, lagi pula itu tidak di sengaja." balas Yukatta dengan nada tenang. Tak menampik, di dalam hati Yukatta sudah mengagumi pesona pria bermata merah didepannya ini.


Sasuke yang mengetahui gadis didepannya tampak mengaguminya pun memberi senyum miring. "Nona, senang bertemu denganmu." ujar Sasuke lirih. Sebelum berbalik menjauhi Yukatta.


Yukatta menatap punggung tegap Sasuke, lagi dan lagi ia merasa kehilangan saat Sasuke pergi menjauh darinya.


"Aku belum tau namamu tuan." gumam Yukatta lirih.


drap


drap


drap


"Putri, awas!" teriak para dayang.


Yukatta terkejut saat seekor kuda berlari kearahnya.


Sedangkan Gaara, penunggang kuda tersebut menarik pelana kudanya dengan erat. Membuat kuda yang ditumpanginya berhenti seketika.


"Maafkan aku Yukatta, aku hampir membuatmu celaka." ucap Gaara setelah turun dari kudanya.


Yukatta terkesikap melihat putra mahkota dari kerajaan Takahashi tersebut. "Yang mulia." salam Yukatta akhirnya.


Gaara hanya berdehem pelan. Lalu melirik dayang Yukatta. "Kau sedang apa, berkelian di luar?"


Yukatta menjawab dengan gugup, ia memainkan jarinya dengan gelisah. "Hanya sekedar jalan-jalan saja yang mulia."


Gaara menganggukan kepalanya. "Apa kau mau ikut denganku?"


Yukatta memiringkan kepalanya. "Maksud yang mulia pangeran?"


Gaara tersenyum. "Kau tidak mau kembali ke istana?"


"Mou! Gaara-Nii, aku tentu saja akan kembali ke istana!" dengan kesal, Yukatta meninggalkan Gaara bersama kudanya.


Pria berambut merah itu terkekeh pelan, meski hanya sebentar. Ia sudah mendapatkan petunjuk walaupun sedikit.


Ada sosok Tayuya ketika ia mendekati Yukatta, Gaara mengulum senyum. 'Tampaknya aku tahu, kenapa Nii-sama terbunuh.' batin Gaara.


Gaara menyamakan langkahnya dengan Yukatta, sedang kudanya ia berikan pada para dayang untuk mereka urus.


"Aku belum mempunyai kado untuk kakak mu itu." Gaara mencoba memulai obrolan. Bagaimana pun Yukatta adalah kembaran Yukari, sahabatnya.


Yukatta menoleh, menatap pangeran berambut merah. "Aku juga belum mempunyai kado untuk Nii-sama, sedari tadi aku sibuk memilih. Namun belum bertemu dengan yang pas."


"Kau tau apa yang cocok untuknya?" tanya Gaara dengan nada main main.

__ADS_1


Gaara melebarkan seringaiannya melihat putra mahkota Shibuya itu menatapnya tajam.


__ADS_2