Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Misi Berhasil


__ADS_3

Sasori melebarkan senyumnya ketika Hidan sampai di kerajaan. Dengan langkah yang terburu-buru pria pria berambut merah itu menghampiri rajanya. "Selamat datang yang mulia." ucap Sasori.


Hidan hanya mengangguk pelan untuk menjawabnya, kemudian ia memberi kode pada pria berambut merah tersebut. Seketika Sasori paham dengan maksud rajanya. Bahwa ia ingin membicarakan sesuatu padanya, Sasori pun langsung mengikuti langkah Hidan.


'Kira-kira ada apa?' batin Sasori.


Saat sampai di kediamannya, Hidan menyuruh para pelayannya keluar. Hanya tersisa Itona dan Sasori disana.


Hidan duduk di kursi. Diikuti oleh kedua sahabatnya. Aura di ruangan tersebut mendadak menjadi misterius. "Sasuke, belakangan ini dia terus berada di kerajaan Tachibana. Kau sadar kan Itona?" ujar Hidan setelah mereka terdiam beberapa menit.


Itona terkejut, kemudian menatap mata merah milik sahabatnya. "Ya yang mulia."


Sasori mengernyit, kemudian menatap Hidan. "Apa dia mengincar sesuatu? Tidak biasanya bocah itu singgah disatu titik." Sasori menyuarakan isi pikirannya.


Hidan mendengus, hanya ada Yukatta lah dalam benaknya. Ia tidak menyangka jika Yukatta menarik banyak pria dari kerajaan lain. Meski Yukatta tidak berbuat apapun. Hanya saja, kecantikannya membuat para pria saling berebut ingin memilikinya.


"Aku berpikir, kalau dia menginginkan Yukatta." gumam Hidan akhirnya.


Sasori menyeringai. "Yang mulia, bisakah anda mengutus saya untuk menjaga tuan putri?"


Hidan mengernyit, lalu menoleh pada pria berambut merah. "Lalu bagaimana tugasmu disini? Apa kau sengaja ingin melalaikan tugas eh?" Hidan mendengus tak suka.


Sasori terkekeh pelan, lalu melirik Hidan. "Itu bisa diatur, anda tenang saja."


Pria berambut silver itu memijit pelipisnya. "Baiklah, kalau kau bisa mengatasinya, aku akan membuatkanmu surat perintah untuk pergi ke sana."


Sasori tersenyum miring. "Terimakasih yang mulia."


**


Yuuren menaruh kembali pedangnya, baru saja ia menyelesaikan latihan. Yuuren berbalik berniat mengambil jubah yang disampirkan di dekat gazebo.


"Yang mulia."


Yuuren menoleh, menatap Sara yang berdiri canggung disampingnya. "Putri mahkota, ada apa?"


Sara mengulurkan sebuah surat. "Ada surat untuk anda yang mulia."


Yuuren mengambil gulungan surat yang terulur padanya. "Hm?" Yuuren membuka gulungan surat tersebut. Lalu membaca isinya.


"*Untuk sahabatku Yuuren, undangan yang kau kirim sudah sampai di kerajaan Takahashi. Aku cukup terkejut kau mempercepat pernikahanmu. Aku akan datang, kau jangan khawatir."


"Gaara*."

__ADS_1


Yuuren tersenyum tipis. "Putri, apa persiapannya sudah selesai semua?" tanya Yuuren.


Sara mengangguk. "Ya yang mulia, semuanya sudah siap. Hanya tinggil melaksanakan upacaranya saja." jawab Sara dengan tegas.


Yuuren tersenyum miring, melangkah mendekati Sara. "Saat upacara pernikahan itu berlangsung, kau harus tetap bersamaku apapun yang terjadi." bisik Yuuren tepat didepan Sara.


Sang putri mahkota sempat bergidik ngeri. Mendengar nada suara Yuuren yang rendah. "Saya mengerti yang mulia." ucapnya dengan lirih.


Yuuren tersenyum simpul melihat Genma dan Hayate pergi. Entah ia harus bertahan berapa lama lagi untuk menghadapi mereka.


"Karena bisa saja hal yang terburuk terjadi ketika mereka datang ke upacara pernikahan kita, Sara. Aku memilihmu, karena aku yakin.. kau bisa menjadi pendamping yang baik." Ucap Yuuren lirih. Tak ada seorang pun yang mendengar kecuali mereka berdua.


Sara sendiri terpaku, ia dibuat tak bisa berkata-kata karena kalimat Yuuren. "Saya menjamin, anda tidak akan kecewa telah memilih saya yang mulia."


Yuuren mengambil jubahnya, lalu dibantu oleh Sara memakai jubah tersebut. "Terimakasih Sara." ujar Yuuren setelah memakai jubahnya.


Sara tersenyum tipis, ia melihat tangannya yang digandeng oleh putra mahkota.


para dayang atau pengawal melihat mereka dengan tatapan kagum. Mereka seperti ditakdirkan untuk bersama dan sudah direstui oleh surga.


Namun, tanpa mereka ketahui. Bahwa sang putra mahkota menyembunyikan identitas yang sebenarnya.


**


Mata jadenya menatap sang kakak yang ada disampingnya.


"Kankurou, aku akan pergi ke kerajaan Tachibana besok." ujarnya datar.


Kankurou yang tengah menjalankan tugas pun terkejut. "Apa? Besok? apakah tidak terlalu cepat Gaara?" tanya Kankurou dengan beruntun.


Gaara melirik kakaknya malas, ia meninggalkan ruang belajarnya beserta tumpukan perkamen yang berisi catatan penting kerajaan Takahashi. "Aku ingin berlibur sebentar."


Kankurou mengerjapkan mata, apa katanya? Apa dirinya tidak salah dengar? Adiknya ingin mengambil cuti? Bukankah ia baru beberapa hari ini kembali dari kerajaan Nakamura?


"Bocah merah itu.. membuatku marah saja!" ujarnya kesal.


Di perjalanan, Sasori dengan gagah menunggangi kudanya. Pria bermambut merah bata itu terus memacu kudanya dengan cepat.


Selain menjalankan misinya, Sasori juga bisa bertemu dengan Sara, kekasih hatinya.


Memikirkannya saja, membuat Sasori tersenyum sendiri. Mungkin jika ia ikut kembali ke kerajaan Tachibana saat Yuuren dan Yukatta pulang, ia pasti sudah bertemu dengan Sara.


Namun karena ia dan Gaara memutuskan untuk berpisah dipersimpangan, perbatasan Takahashi dan Tachibana.

__ADS_1


Membuat ia tidak bisa memutuskan begitu saja, apalagi saat itu Gaara selalu menatapnya tajam, seolah jika ia masuk kedalam Tachibana, ia bisa saja dibunuh oleh sepupunya itu.


"Padahal bertemu sebentar juga tidak masalah, hanya mengobati rasa rindu." gumam Sasori saat itu.


Sasori terkejut ketika kudanya tiba-tiba mengikik! Pria berambut merah itu berusaha menenangkan kudanya. Tanpa turun dari kudanya, Sasori masih bersikap waspada.


"Siapa disana." teriak Sasori menggema di hutan.


"Selalu waspada dan cerdik. Itulah cirimu. Sasori." ujar Seorang wanita berambut merah muda.


Sasori mengetatkan rahangnya, ia memberi tatapan membunuh pada lawannya kali ini. "Aku tidak punya urusan denganmu bocah. Jangan menghalangi jalanku!"


Gadis berambut merah muda itu terkekeh pelan, lalu mengacungkan pedang pada Sasori. "Kau bisa lewat, saat aku sudah menjadi mayat." gertak Tayuya.


'Sialan, dia pasti benar-benar dengan ucapannya.' umpat Sasori.


"Baiklah, aku terima tantanganmu!" teriak Sasori kesal. Pria berambut merah itu lantas turun dari kudanya, menarik pedang yang sedari tadi berada dipinggangnya.


Tayuya menyeringai melihat lawannya sudah turun dari kuda. Gadis itu maju menerjang Sasori dengan pedangnya yang tajam.


Sasori masih berdiam menunggu serangan Tayuya, hinga mata caramelnya melihat Tayuya berlari kearahnya sambil mengayunkan pedang.


traaang!


trang!


Bunyi dentuman pedang saling beradu, Sasori beberapa kali menangkis serangan Tayuya yang membabi buta. Sasori melihat celah, dan ia membuat pedang Tayuya terbang. Membuat Tayuya berdiri tanpa senjata.


"hhuh.. kau sudah kalah, sebaiknya kau mundur dan jangan menghalangi jalanku." gertak Sasori.


Tayuya memiringkan kepala, tersenyum remeh setelahnya. "Kau yakin? Ini hanya permulaan Sasori." ujarnya dengan nada remeh.


Membuat Sasori mendecih kesal mendengarnya. "Lalu, apa lagi yang kau.."


jleb!


jleb


jleb


"Uhuk!"


Tayuya menyeringai melihat Sasori muntah darah beberapa kali. Ia menatap kawanannya yang berhasil memanah pria berambut merah tersebut.

__ADS_1


"Misi berhasil." gumam Tayuya.


__ADS_2