Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Rencana Raja Kurosawa


__ADS_3

Kerajaan Kurosawa


Hidan melangkahkan kakinya menuju perpustakaan kerajaan yang letaknya di sebelah timur dari kediamannya.


Baju kebesarannya berkibar mengikuti langkah,  sedang sang penasehat selalu mengekorinya sedari tadi.


"Bisakah kau tinggalkan aku sendiri Itona?" tanya Hidan dengan nada kesal.


Sang penasehat-Itona hanya tersenyum tipis,  lalu menggelengkan kepalanya.


"Maaf yang mulia, saya tidak bisa." jawab Itona pelan.


"Aku butuh privasi Itona dan suda kubilang berapa kali. Jangan memanggilku seperti itu jika tidak ada orang lain di sekitar kita." ujar Hidan sambil menatap jengkel kearah sahabatnya.


"Maaf yang mulia, saya tidak bisa, anda adalah seorang raja. Raja patut untuk dihormati." jawab Itona kalem.


Hidan mendengus mendengarnya,  entah mengapa ia sangat kesal pada Itona.


"Baiklah terserah kau saja." kata Hidan pelan.


Mereka kembali melanjutkan langkah yang tertunda, sampai  ketika tiba di tempat yang mereka tuju.


Pengawal yang berdiri didepan pintu membukakan untuk untuk sang raja.


Hidan pun menoleh mencari keberadaan sahabatnya yang lain,  lorong demi lorong ia cek untuk menemukan keberadaan mereka.


"Kami disini yang mulia." ucap seseorang.


Hidan menoleh ketik mendengar suara tersebut, sebuah senyum tipis terbit di bibirnya.


"Kalian sudah kembali?" tanya Hidan pada sosok sahabatnya.


"Seperti yang kau lihat, kami sudah kembali." jawab salah satu dari mereka.


Kini Hidan duduk diantara mereka, dengan dirinya sebagai penengah.


"Jadi ada kabar apa kali ini." tanya Hidan dengan nada serius, ia memandang sahabatnya secara bergantian.


"Ini lebih buruk dari yang kau bayangkan teman." jawab Sasori kalem, Hidan menaikan sebelah alisnya heran sekaligus penasaran.


"Jelaskan lebih rinci." titahnya.


"Kerajaan Nakamura, Kazahana dan Ameyuri menyimpang Kerajaan Kurosawa. Nakamura Temujin yang tak lain adalah Raja dari kerajaan Nakamura memerintahkan pada menteri luar kerajaan untuk memata-matai kerajaan Kurosawa. Sedang Kazahana juga tengah menyiapkan kejutan untuk menyerang Kurosawa secara langsung, dengan dalih karena mereka malu saat kau menolak perjodohanmu dengan putri Kouyuki meski masih belum diketahui kapan tepatnya mereka akan menyerang. Ameyuri berhenti bekerja sama dengan kerajaanmu, mereka juga melarang perdangan senjata yang selama ini bekerja sama dengan kerajaan Kurosawa. Intinya  mereka bergabung menjadi satu karena ingin melengserkan pemerintahan yang kau pimpin sekarang." jawab Sasori panjang lebar.


"Musuh dalam selimut eh?" Ujar Hidan sinis.


Sasori mengendikan bahunya cuek, sekilas memang seperti  tak peduli. Namun dipikirannya, bagaimana cara menghentikan mereka?


"Soal perjodohan itu, bukankah itu sudah lama? Mengapa baru kudeta sekarang?" tanya Kei bingung.


"Soal perjodohan itu hanya untuk pengalihan saja, karena alasan itulah yang memperkuat untuk memberontak menurut Kazahana. Mereka menyerang kita sekarang karena mendiang Raja Tobirama sudah tiada, jika beliau masih hidup tidak mungkin mereka memberontak seperti ini." jelas Itona tenang. Semua mengangguk mengiyakan, karena jawaban Itona benar adanya.


"Tapi kita harus bersyukur, setidaknya mereka belum mendapatkan informasi apapun dari kerajaan kita ini." ucap Deidara yang sedari tadi hanya menyimak.


"Lalu, apa sudah ada tanda pergerakan dari mereka?" Tanya Hidan pada Lin.


"Belum ada pergerakan yang berarti, mungkin saja mereka menunggu informasi yang lebih lengkap."


"Begitu ya? Apa ada hal lain?" Tanya Hidan tanpa minat,  entah mengapa kepalanya mendadak pening. Padahal pemberontakan belum terjadi.


"Ada." jawab Kei singkat, semua mata kini tertuju padanya. Kei tersenyum kecil melihat respon sahabatnya.


"Kerajaan Saito ak-"

__ADS_1


"Kenapa dengan Saito ini hm?" Kei kesal karena kalimatnya terpotong oleh Deidara. Ia menatap tajam pada sahabat pirangnya.


"Jangan memotong kata-kataku pirang." ujar Kisame kesal.


"Terserah aku ikan!" balas Deidara


"Lanjutkan" titah Hidan,  mengabaikan pertikaian yang dibuat sahabatnya tadi.


"Mereka memang bekerja sama,  namun saling menjatuhkan. Saito ingin menguasai Shibuya, mereka menganggap Shibuya adalah halangan terbesar mengingat Shibuya juga mempunyai seorang putra mahkota."


"Tunggu! Ini sangat melenceng dari topik yang kita bahas" ujar Yamaguchi menyela, Kei mendetglare Yamaguchi karena kata-katanya terpotong lagi.


"Ini tidak melenceng,  dari informasi yang kudengar kerajaan Saito ingin memperluas wilayahnya. Bisa dikatakan bahwa Raja Saitama ingin melengserkan beberapa kerajaan, agar kerajaannya semakin luas dan besar seperti Kurosawa, Tachibana dan Takahashi." ujar Kei.


"Intinya Kei." celetuk Koharu,  satu-satunya wanita di antara mereka.


"Saito dan Shibuya akan berebut putri Yukatta dari kerajaan Tachibana,  dengan kata lain Saito ingin memanfaatkan kerajaan Tachibana untuk mendukung kerajaanya."


"Lalu apa hubungannya dengan Shibuya?" tanya Deidara bingung.


"Shibuya juga menginginkan hal yang sama, mereka ingin memperluas wilayah. Tapi sepertinya Shibuya ceroboh, hingga informasinya bocor begini." ucap Kei pelan.


"Setahu ku Shibuya yang pertama mengirim surat pinangan untuk putri Yukatta, namun sayang sang putri belum menjawabnya." ujar Yamagichi setelah lama terdiam.


"Bukankah putra mahkota kerjaan Shibuya terkenal karena ketampanan dan kepintarannya? Mengapa putri Yukatta belum menjawabnya?" tanya Konan pada Yamaguchi.


"Mana aku tahu?!" jawab Yamaguchi bingung.


"Lagi pula, seseorang tidak harus memandang luarnya kan? Mungkin si putri ingin tahu dalamnya?" ujar Kei.


"Kau benar,  bisa saja dia busuk didalam." balas Sasori.


"Hm"


Hidan menghela nafasnya pelan, sebelum seringai terbit di wajah tampannya.


"Tentu saja aku takkan membiarkan hal itu terjadi. Benarkan Itona?" Ujar Hidan datar.


"Ya yang mulia." jawab Itona seadanya.


"Tunggu apa kau punya rencana?" tanya Sasori sambil menaikan sebelah alisnya.


"Ya, tentu saja. Aku tak mungkin membiarkan calon permaisuri ku diambil oleh mereka kan?" jawab Hidan tenang, namun raut mukanya datar.


"Sepertinya tidak." ucap Deidara enteng.


"Mangka dari itu, kalian harus membantuku." ujar Hidan pada sahabatnya.


"Tentu kami akan membantu anda yang mulia." jawab mereka minus Lin dan Itona .


"Hmm, arigato" gumamnya pelan, pikirannya berkecamuk. Dalam hati ia bertanya, apakah aku tidak pantas menjadi Raja hingga mereka melakukan pemberontakan?


Hening,  tak ada percakapan lagi setelah pembahasan tadi.


*****


Yuuren melengkah dengan tergesa menuju kediaman sang raja, Hakama nya berkibar mengikuti langkahnya.


Dalam hati ia merutuk, bagaimana bisa Sara lupa memberitahunya untuk menghadap sang ayah?


Flashback


Yuuren dan Sara masih menikmati pemandangan yang ada didepannya,  kolam ikan yang dikelilingi bunga memanglah indah. Sampai ketika Yuuren melihat Sara  yang bangkit sambil memekik tiba-tiba.

__ADS_1


"Astaga! Bagaimana ini." pekik Sara sambil beranjak berdiri.


"Ada apa?" tanya Yuuren pelan ia  merasa de javu.


"Yang mulia pangeran,  maafkan saya yang lalai ini." ucapnya dengan penuh sesal.


"Katakanlah ada apa Sara." tanya Yuuren dengan raut cemas yang tercerak jelas.


"Saya lupa menyampaikan pesan dari yang mulia Raja."


"Apa pesannya?"


"Yang mulia pangeran harus pergi menghadap yang mulia Raja, beliau ingin membicarakan hal penting."


"Penting?"


"Yya pangeran, sekali lagi maafkan saya." ucap Sara lirih, ia benar-benar menyesal.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang sayang." Yuuren langsung bergegas menuju kediaman ayahnya, meninggalkan Sara yang masih larut dalam sesalnya.


Flashback off


Yuuren telah sampai di kediaman ayahnya,  ia memberitahu pengawal untuk menyampaikan kedatangannya pada sang Raja.


"Yang mulia pangeran datang berkunjung" ujar pengawal tersebut. Setelah itu Yuuren langsung masuk kedalam.


"Yang mulia Raja." salam Yuuren sambil membungkuk setelah memasuki kediaman ayahnya.


"Kenapa kau baru datang sekarang? Kau tau, aku menunggumu?" tanya Raido pelan, matanya masih fokus pada dokument kerajaan.


"Maafkan saya, Sara lupa memberitahu." jawab Yuuren lirih.


Raido meletekan dokumennya di meja, sang raja menatap putrinya. Ada perasaan ragu didada, namun ia harus menyampaikan.


"Yukari." panggil nya pelan. Yuuren atau Yukari mendongak menatap ayahnya, ia tersenyum manis.


"Hai"


"Apa kau tahu tentang perjodohan Yukatta?" tanya Raido hati-hati.


"Hai, Yukatta memberitahu saya tadi pagi." jawab Yukari tenang.


"Begitu"


"Yang mulia"


"Ya?"


"Saya harap yang mulia tidak pilih kasih."


"Apa maksudmu?"


"Yukatta juga menginginkan kasih sayang dari anda yang mulia, dia berpikir jika yang mulia hanya memikirkan saya. Dia sampai ingin menangis, dia berpikir karena saya laki-laki anda lebih menyayangi saya." ucap Yukari sambil menahan air matanya.


Raido termenung setelah mendengar ungkapan Yukari, ia tidak tahu putrinya yang lain menuntut haknya. Selama ini ia sudah berusaha untuk adil pada kedua putrinya. Namun hal itu belum cukup juga.


"Aku selalu berusaha adil pada kalian, tapi masih belum cukup juga?"


"Saya pikir Yukatta hanya salah paham, anda tidak memberitahu nya kan?" tanya Yukari pelan. 


"Bagaimana pun ini rahasia kerajaan, sebuah rahasia tidak boleh diungkap dengan sembarang. Ada waktunya untuk membuka rahasia itu. Bersabarlah, Tou-san yakin kau pasti bisa melewati semua ini. Ingatlah, Tou-san dan Kaa-san selalu ada di sampingmu" ujar Raido lembut.


Yukari merenung, sabar? Apakah aku bisa? Apakah aku akan kuat menangani hal ini?

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2