Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Hukuman


__ADS_3

Gaara menaikan sebelah alisnya. "Dia?" tanyanya. Pria bertato ai itu melihat sahabatnya menganggukkan kepala.


"Maksudmu?" tanyanya lebih jelas.


Yuuren menghela nafas, ia mengingat seseorang yang mencegat mereka didepan kamar Yukatta. Gadis itu sangat mencurigakan menurut Yuuren.


Dan lagi, saat ia melihat jasad adik sepupunya. Ia melihat gadis itu ikut mati bersama Hayate. "Aku tak bisa mengatakannya disini."


"Kita akan bicara nanti, setelah Sara.." ucapan Yuuren menggantung. Yuuren masih tidak bisa kehilangan sahabatnya. Kepalanya tertunduk.


"Aku mengerti." ucap Gaara setelah melihat ekspresi Yuuren.


"Kau tidak boleh menundukkan kepalamu yang mulia, kau seorang raja."


Yuuren mengerjapkan mata mendengar suara yang begitu merdu terdengar ditelinganya. Ia melirik sahabat berambut merahnya, jelas tidak mungkin Gaara mempunyai nada seperti itu.


Pintu rumah duka berderit pelan, sosok Kakashi dan Naomi masuk kedalam. Yuuren memberi salam pada mertuanya. Ia menelan ludah ketika Kakashi menatapnya datar.


"Aku memang bersalah, tolong maafkan aku ayah mertua. Maaf aku tidak bisa.. menjaga putrimu dengan baik."


Kakashi menghela nafas, tak tega melihat muridnya begitu menderita karena kepergian sahabatnya. Namun perkataan Sara terus terngiang dibenaknya, bahwa apapun yang terjadi padanya kelak. Kakashi tidak boleh mengampuni raja muda didepannya ini.


Disatu sisi ia telah berjanji pada putrinya, dan disisi lain didepannya seorang murid juga menantunya sendiri tengah bersedih. Tidak mungkin dirinya malah menambah beban Yuuren yang seorang raja.


"Saya akan memaafkan anda Yang Mulia, jika anda berhasil menguak siapa yang membunuh permaisuri." ucap Kakashi dengan nada dingin.


Yuuren tersentak, namun dengan segera ia mengiyakan permintaan Kakashi. "Baik ayah mertua, aku akan mencari dalang dibalik pembunuhan Permaisuriku."


Kakashi tersenyum puas mendengar perkataan Yuuren. "Saya pegang janji anda Yang Mulia." ujar Kakashi sebelum keluar dari rumah duka.


Sang raja muda mengepalkan tangannya erat, ia berjanji akan menemukan bukti pembunuhan Sara secepatnya.


Pria bertato ai sedari tadi hanya terdiam mendengarkan pembicaraan mertuanya dengan sahabatnya. Pria bertato ai itu ingin sekali berbicara dengan Kakashi namun waktunya sangat tidak memungkinkan untuk hal itu.


Alhasil, pria bertato ai itu memutuskan untuk mengirim surat setelah pemakaman Sara selesai.

__ADS_1


**


Penjara Bawah Tanah.


Seorang pria bermata merah dan memakai topeng menyeringai mendengar kematian Permaisuri dan Anak dari pangeran Genma.


"Tayuya, ternyata kau memilih mati untuk merahasiakan identitasmu." gumamnya pelan.


"Sayang sekali. Padahal masih banyak yang belum kau ketahui." sambungnya kemudian.


Kedua pengawal datang menghampiri Sasuke, pria itu mengernyit melihat Yuuren berdiri dibelakang mereka. "Aku tidak menyangka yang mulia sendiri yang datang kemari mengunjungi ku." ucapnya dengan nada sarkas.


Yuuren mengepalkan tangannya erat, lalu menyuruh kedua pengawal itu pergi. Sekarang ia hanya didampingi oleh sahabat berambut merahnya. "Hentikan omong kosongmu, aku tahu kau dalang dibalik kekacauan ini." balas Yuuren sengit.


Putra mahkota Shibuya melukis senyum miring, menatap Yuuren dengan sorot mata yang benar-benar dingin. "Atas dasar apa yang mulia menuduhku seperti itu, apa yang mulia mempunyai buktinya?"


"Tentu saja, aku punya. Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku. Kau merusak adikku, dan kau sengaja menghalangi jalanku dengan mengirim gadis itu." Yuuren mendecih, "Karena tidak ingin ketahuan, kau menyuruhnya untuk membunuh dirinya sendiri. Dan satu hal lagi." Yuuren menatap tajam Sasuke.


Sedang pria itu menunggu kata-kata selanjutnya dari Yuuren dengan hati berdebar.


Sasuke membelalakkan matanya tak percaya, Yuuren menyebutkan seluruh perbuatannya yang tercela. Bagaimana pemuda itu tau kalau yang melakukan semua itu dirinya?


"Kau terobsesi pada adikku, hingga jalan apapun kau menempuhnya dengan cara kotor sekali pun." Yuuren tak habis pikir dengan kelakuan putra mahkota Shibuya ini. Apa semua laki-laki itu sama?


Yuuren menghela nafasnya, ia melirik Gaara. "Kau saja yang melakukannya, aku tidak mau tanganku kotor." ucap Yuuren dengan nada dingin. Ia mendekati Sasuke, melirik tangan dan kaki pria itu yang terikat.


Bukan tanpa alasan Yuuren datang sendiri untuk menghukum pemuda itu.


Ia sudah menyuruh salah satu pelayan pribadinya untuk memberikan Sasuke obat, yang bisa membuat pria itu lemah.


Yuuren memakaikan sarung berwarna Hitam pada kepala Sasuke. Karena tangan dan kakinya terikat, Sasuke tidak bisa menolak apa yang dilakukan Yuuren padanya.


Pria berambut merah sendiri sudah bersiap dengan pedangnya. Ia melihat sahabatnya mengangguk. Gaara semakin mencengkeram genggaman dipedangnya. Pria berambut merah menghitung dalam hati sebelum...


*Zraaashhh

__ADS_1


Brukkk*!


Yuuren memalingkan wajahnya ketika kepala Sasuke menggelinding jatuh.


"Yuu, aku sudah..." ucapan Gaara terpotong.


"Aku tau Gaara, sekarang bebanmu sudah berkurang. Kau sudah menepati janjimu pada Sasori." gumam Yuuren linglung.


"Tapi bagaimana dengan adikmu?" tanya Gaara lirih.


Yuuren berbalik, menatap mata sahabatnya. "Gaara, aku bahkan.. sudah bisa memikirkannya dengan jernih. Siapa yang pantas untuk bersanding dengan adikku." ucap Yuuren lirih.


Ya, Yuuren masih memiliki kandidat untuk calon suami dari adiknya. Pria yang benar-benar tulus menerima Yukatta dengan apa adanya. Jika memang Hidan tidak mau menikahi adiknya, Yuuren akan mendatangi orang itu untuk menikahi Yukatta.


Gaara menghela napas lalu melirik jasad Sasuke. "Lalu bagaimana dengan dia? Kalau kita kirim kembali ke kerajaan Shibuya, kita dalam masalah."


"Apa kau takut Gaara? Bukankah kita sudah pernah berperang sebelumnya?" tanya Yuuren balik. Ia melihat Gaara menggeleng pelan.


"Penjahat bukannya memang harus dihukum mati?" jawabnya lirih.


Yuuren tertawa hambar, "Ya, mereka pantas mati."


Sasuke jelas harus menerima, karena perbuatannya sendiri. Saat ingin memanggil kedua pengawal yang membukakan pintu untuk mereka, Yuuren dikejutkan dengan kedatangan adiknya.


Yukatta menatap nanar pada jasad Sasuke, pupus sudah harapannya yang berusaha ia bangun beberapa hari lalu. Gadis itu memeluk perutnya yang masih rata, Yukatta merasa linglung. Sekarang kemana lagi ia akan mencari pertanggung jawaban. Sedang dirinya telah membatalkan pernikahannya dengan Hidan. Kini putra mahkota dari kerajaan Shibuya telah mati, kerajaan Sasuke pun telah hancur karena Gaara.


Ya, diam-diam Gaara mengirim seseorang untuk menyerang kerajaan Sasuke. Yukatta menatap nyalang pada pria berambut merah didepannya. "Kau, kau sudah merusak semuanya! Apa kau puas sekarang?!" teriak Yukatta didepan Gaara.


Yuuren terkejut, ia menarik adiknya kedalam dekapannya. "Yukatta, kau tidak boleh memarahinya. Semua ini perbuatanku! Aku yang menyuruh Gaara!"


Mendengar pembelaan kakaknya Yukatta menatap Yuuren dengan derai air mata. "Kenapa Nii-sama? Kenapa kau melakukannya? Bagaimana dengan aku nantinya?"


Sang kakak mendekap erat, hatinya ikut terluka melihat Yukatta seperti ini. Namun sekali lagi, ia seorang raja yang harus menegakkan keadilan. Dan Sasuke, dia sudah membunuh banyak orang disekitarnya. Termasuk Hayate.


"Imouto, tolong jangan marah Nii-sama. Aku melakukan ini untuk kebaikanmu. Aku akan menjelaskan semuanya padamu, aku berjanji." Yuuren merangkum wajah adiknya. Menghapus air mata yang masih mengalir dipipi gadis itu.

__ADS_1


"Nii-sama, kau tau. Mungkin pemuda tidak akan mau menikahi aku yang sudah rusak." gumam Yukatta lirih.


__ADS_2