
"Tapi aku belum melihat Sasori." gumamnya. Ya, Hidan mencoba untuk menampik kematian Sasori. Setidaknya, ia hanya ingin menghibur diri.
Gaara merasa tidak suka dengan respon dari raja Kurosawa itu. Alhasil pria bertato ai itu tidak memedulikan kata-kata Hidan tadi. Gaara mengulurkan tangannya pada Sara, dan itu diterima dengan baik oleh Sara.
Putra mahkota berambut merah itu mengantar mereka untuk berganti pakaian sejenak. Sebelum memberi salam terakhir pada Sasori.
Sedang Yuuren tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga tiba mereka masuk kedalam rumah duka, disana masih ada Temari, Eiji dan Kankurou. Gaara menggenggam tangan Sara erat, tatapannya fokus pada wajah Sasori. 'Nii-sama, aku berjanji akan menjaga dia dengan baik.' ucapnya dalam hati.
Sara menoleh, mendapati suaminya yang tak lepas menatap jasad Sasori yang terbujur kaku disana.
"Ini pasti berat untuknya, juga untukku. Sasori-kun, semoga kamu tenang disana. Aku sudah menerima amanah darimu, aku yakin orang yang kau percaya pasti sebaik dirimu." ucap Sara dalam hati. Gadis bersurai perak itu menyenderkan kepalanya pada lengan Gaara, membuat pria bertato ai itu terkejut awalnya.
Namun Gaara mengukir senyum tipis di bibirnya. Setelah selesai berdoa. Mereka keluar dan para pengawal membawa jasad Sasori ikut serta.
Mereka berjalan beriringan menuju pemakaman khusus untuk anggota kerajaan. Semua anggota kerajaan sudah berkumpul, para petinggi kerajaan juga sudah hadir disana.
Peti yang berisi jasad Sasori pun telah diturunkan untuk dimasukkan pada liang lahat. Mereka menyaksikan semua itu, Sara tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Yuuren tersentak saat sahabatnya memegang erat jemari miliknya. Tanpa kata, Yuuren menarik Sara kedalam dekapannya. Mengusap punggung rapuh yang kian bergetar karena sentuhannya.
"Menangislah jika itu membuatmu tenang." Bisik Yuuren lirih.
Gaara melihat Sara dengan tatapan tidak tega, pasti istrinya begitu terpukul karena kematian kakak sepupunya itu. "Aku bersumpah akan membuat dia tidak terlalu larut dalam kesedihan." janjinya dalam hati.
Upacara pemakaman Takashi Sasori pun sudah selesai, semua orang meninggalkan tempat pemakaman tersebut, kecuali Hidan sang raja dari Kurosawa yang masih enggan meninggalkan pusara sahabatnya.
Ya, ini semua seperri mimpi bagi Hidan. Ia melihat dengan jelas, Sasori memang sudah meninggalkan mereka.
"Aku tidak percaya un, danna telah meninggalkan kita begitu saja." ujar pemuda berambut kuning.
Itona menatap Deidara dengan simpati, karena yang paling dekat dengan sahabat berambut merahnya yaitu Deidara. Pria berambut kuning itu menghela nafas berkali-kali. Sebelum menunduk memberi hormat pada sahabatnya yang kini sudah tenang di alam sana.
__ADS_1
"Aku tetap menghormatimu danna, bagaimana pun kau yang sudah mengajariku banyak hal. Terimakasih, aku akan selalu mengingatmu." ujar Deidara, setelahnya pria berambut kuning itu menegakkan kembali badannya.
Setelah Deidara, mantan putra mahkota Shibuya itu maju. Menatap nama Sasori yang terukir indah di batu nisan. "Pada akhirnya, semua manusia akan mati dan meninggalkan dunia ini. Terimakasih sudah menjadi bagian dari kami. Sasori." ucap Itona dengan nada tulus.
Setelahnya, anggota khusus dari Hidan satu persaru memberi penghormatan terakhir untuk sahabat mereka.
Awalnya mereka mengira bahwa ini hanya sebuah lelucon, mengingat Sasori adalah orang yang tangguh. Tidak mungkin pria berambut merah itu bisa dikalahkan dengan mudah.
Disisi lain, tepatnya kediaman Temari. Yuuren, Sara dan kedua adik Temari berkumpul disana. "Jadi, bagaimana kau akan menjelaskannya wahai adikku tersayang?" ucap Temari memecah keheningan disana.
Gaara menatap Sara, lalu mata jadenya menatap sang kakak. "Temari, aku berkata serius. Mungkin Kankurou sudah memberitahumu, tapi sekarang aku akan mengatakan bahwa aku akan menikah." ujar Gaara panjang lebar.
Yuuren menatap sahabat merahnya, baru kali ini Gaara berbicara panjang seperti itu.
"Heh.. lalu dimana calon istrimu?" tanya Temari dengan nada meremehkan.
Gaara menatap Sara dengan sorot teduh. Semua yang melihat itu terkejut, termasuk Kankurou. "Gaara, jangan bercanda. Kenapa kau menatap putri mahkota Tachibana dengan tatapan seperti itu?" gertak Temari.
Kepala Temari mendadak pening, wanita itu memegang dahinya yang terasa pusing.
"Tatapan seperti apa Temari? Apa aku tidak mempunyai hak untuk menatap istriku sendiri?" tanya Gaara dengan tenang.
Sejenak, Yuuren memutar bola matanya bosan. Ya, Yuuren bosan melihat pertengkaran mereka yang begitu mendrama.
Temari menggertakkan giginya kesal. Ia menatap Yuuren dengan penuh tuntutan untuk penjelasan. Kini Yuuren yang menatap Gaara kesal. Apa susahnya mengatakan kalau Gaara mendapat amanah dari Sasori?!
Menyebalkan!
Yuuren menarik nafas sejenak. Ia menatap Temari dengan memasang senyum tipisnya. "Kalian harus mendengar dengan baik, aku hanya menjelaskan satu kali. Dan tidak akan mengulanginya lagi."
Yuuren menatap semua orang yang ada disini.
__ADS_1
"Gaara mendapatkan amanah dari Sasori untuk menjaga Sara selama hidupnya, dan itu terjadi sewaktu Sasori tengah berada diposisi ujung kematian. Setelah mendapat amanah tersebut, Gaara menemuiku yang kebetulan hari itu hari pernikahanku dengan Sara, Dan sebenarnya, Sara dan Gaara sudah menikah di kerajaan kami." jelas Yuuren.
"Apa!" teriak Temari dan Kankurou.
Yuuren mengabaikan reaksi Temari dan Kankurou, putra mahkota Tachibana itu kembali menjelaskan. "Itu karena aku meminta Gaara untuk menggantikan posisiku." lanjutnya kemudian.
Sekarang Temari paham, ia menghentikan penjelasan dari Yuuren. Pasalnya, Temari takut jika nanti ada yang mendengar percakapan mereka.
"Temari, sebaiknya kita percepat pengesahan pernikahan Gaara dan Sara. Namun aku minta, pernikahan ini dilakukan secara tertutup." pinta Yuuren pada wanita berambut pirang berkuncir empat.
Temari mengangguk kaku, walaupun itu terasa sulit baginya. Namun ia akan melakukannya demi Gaara, adik bungsunya. "Kau jangan khawatir, aku sudah menyiapkan semuanya dengan matang. Dan waktu Gaara sampai disini pun, dia meminta pada kami untuk merahasiakan pernikahannya."
Temari bangkit dari duduknya, ia teringat raja dari kerajaan Kurosawa masih berada disini. Itu membuat rencananya akan gagal, bagaimana mungkin Temari menyuruh mereka pulang lebih cepat.
Itu sangat tidak sopan, terlebih mereka tengah berduka karena kehilangan Sasori.
"Kita akan melakukan upacaranya setelah mereka kembali ke kerajaan mereka." ucap Temari dengan nada tenang.
Mereka sontak menganggukkan kepala, setuju dengan keputusan Temari.
Temari kini mendekati Sara, memeluk gadis pemilik rambut perak. "Akhirnya aku akan punya adik perempuan." gumamnya senang.
Sara tentu merasa senang diperlakukan baik oleh saudari suaminya. "Maafkan aku kelak, karena aku akan merepotkanmu kak." ujar Sara dengan nada lembut.
Temari mengangguk senang. "Tentu saja akuntidak akan masalah dengan hal seperti itu, dan kamu harus membuatnya agar tidak menjadi manusia es lagi!" bisik Temari.
Membuat Sara tertawa karena kelakuan calon kakak iparnya.
Note : Maaf update telat! Semoga kalian tetap suka dengan karya saya. Jangan lupa terus dukung SECRET OF THE KINGDOM terus yaa..
jangan lupa like, komen, share and vote! Selamat Malam!
__ADS_1