
Apa ini hanya kebetulan?" Temujin sinis.
"Mungkin.. buktinya tanpa ada rencana kita bertemu disini." Gaara menimpali.
Pandangan Temujin jatuh pada pasukan elite Gaara.
"Kau mau berkunjung?" Tanya Temujin. Gaara menggelengkan kepala merahnya.
"Lalu?"
"Itu bukan urusanmu. "
Temujin menatap Gaara jengkel, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Tapi sebuah suara menghentikan perjalanan mereka.
"Tunggu!" Suara itu terdengar lantang di pagi buta. Apalagi ini dihutan. Suasana yang sunyi membuat sekecil suara apapun bisa terdengar jelas.
Gaara dan Temujin menoleh ke sumber suara.
Sasori menghentikan langkah si kuda kesayangan. Diikuti Deidara dibelakangnya.
"Sasori?"
"Gaara?!"
Ujar mereka serempak.
Temujin mengernyitkan alis.. kemudian setelahnya ia mengangguk samar ketika melihat warna rambut mereka.
Ia menatap was-was pada Sasori yang kini sudah turun dari kudanya.
"Kenapa kau malah membiarkannya pergi hah?!" Ucap Sasori pada Gaara.
"Aku tadi ingin menahannya! Tapi kalah cepat, kau berteriak terlebih dahulu!" Balas Gaara kesal.
Sasori menghampiri Temujin, ia menatap dingin.
"Katakan! Dimana kau menyembunyikan putri Yukatta!" Ucap Sasori geram. Ia menarik kerah baju yang di pakai Temujin. Sasori tak takut sedikitpun! Meski dihadapannya kini adalah seorang raja sekalipun.
"Aku tidak tahu.." sahut Temujin pelan. Ya dirinya memang tidak tahu. Yukatta berada dimana sekarang, yang dia tau Yukatta di bawa oleh Genma dan Hayate.
"Danna, sabarlah dulu. Ditanya begitupun dia takkan menjawabnya." Ujar Deidara malas.
"Katakan dimana Yukatta.. atau kau akan merasakan.. bagaimana rasanya kematian." Ujar Gaara dingin.
Temujin bergidik ngeri, namun karena wibawanya sebagai seorang raja. Ia menatap datar pada iblis yang sesungguhnya.
"Sudah kubilang.. aku tidak tahu." Balasnya datar.
__ADS_1
Gaara mencengkeram bahu yang terdapat luka, Temujin meringis merasakan sakitnya. Luka itu baru saja diobati, tapi dengan seenak jidatnya Gaara malah membuat luka itu terbuka kembali.
"Lepaskan aku badebah sialan." Temujin mendesis disela ringisan.
"Katakan dulu dimana Yukatta berada." Cengkeraman Gaara bertembah kencang. Membuat tulang belulang Temujin terasa ngilu. Darahpun keluar, merembes membasahi tangan pucatnya.
Tapi Gaara tak perduli.
Sasori melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah baju Temujin. Kini dirinya malah membiarkan sang sepupu mengintrogasi, dibumbui dengan kekerasan.
"Aku punya racun, apa kau membutuhkannya?" Ucap Sasori tiba-tiba membuat kedua sosok yang tengah berdebat itu menoleh kearahnya.
"Wah.. sepertinya aku butuh. Tapi menyiksanya begini. Entah kenapa, membuatku merasa senang." Sahut Gaara enteng. Tak memperdulikan sang sandera melotot tajam padanya.
Ingin rasanya Temujin melawan, namun tenaganya sudah terkuras habis saat melawan Hidan di peperangan tadi.
"Kau masih mau hidup kan?! Cepat beritahu brengsek!"
Jduk!
Gaara membenturkan kepalanya sendiri pada kepala Temujin. Dipelintirnya lengan Temujin kebelakang hingga bunyi retakan tulangpun terdengar.
Jeritan memilukan Temujin menggema di hutan.
Deidara menatap Gaara ngeri.
'Dia sudah gila.' Batin Deidara.
"Hanya segini saja nyalimu hn? Dasar lemah." Cibir Deidara.
Sasori menyeringai. Kemudian ia berbisik pada Deidara. Kedua manusia itu merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Gaara.
"Ayo danna.." ujar Deidara.
Sasori merebut paksa tubuh Temujin yang masih disiksa oleh Gaara kemudian ia membawa Temujin ke tandu yang Gaara bawa disusul Deidara.
Gaara hanya menatap keduanya dan menunggu sang sepupu menjelaskan rencana mereka tadi.
Sasori kembali pada Gaara setelah berhasil memasukan Temujin ke tandu.
"Kita habisi mereka." Ujar Sasori pelan.
Gaara melirik seluruh prajurit kerajaan Iblis yang tersisa.
"Kau yakin?" Tanya Gaara sesikit ragu.
"Ya. Sangat. Setelah ini akan ku beri tahu. Bagaimana selanjutnya." Jawab Sasori pelan.
Gaara mengangguk paham, ia pun memerintah pasukan elitnya untuk membunuh seluruh prajurit yang tersisa.
__ADS_1
Hingga Sasori kini berhadapan dengan Morino Hidate, panglima kerjaan Nakamura.
Sosok yang mengikuti Sasori dari Kurosawa hanya berdiam menyaksikan semuanya. Ia tak mau ikut campur. Tubuhnya lelah, ia akan mengikuti dan mengawasi apa yang akan merela lakukan nanti.
'Sebenarnya mereka merencanakan apa lagi?!' Batinnya penasaran.
__________________________________
Hayate masih menatap wajah Yukatta. Berkali-kali Hayate mengagumi kecantikan saudarinya.
'Pantas saja para pangeran dari kerajaan lain mengincarmu Yukatta.' Batin Hayate.
Yukatta yang tidak tahan dengan kelakuan saudaranya segera membuka mata dan menatap tajam pada Hayate.
"Apa yang kau lakukan Hayate." Itu bukan pertanyaan.
Hayate yang terkejut karena kepergok nyaris saja terjatuh dari tempat tidur.
Menghela nafas pelan, Hayate menatap datar Yukatta.
"Jadi sedari tadi kau terbangun?" Tanya Hayate.
"Kau belum menjawab! Kemana kau membawaku pergi badebah." Ucap Yukatta geram.
Hayate terkekeh. Yukatta memang selalu kasar padanya.
"Sebenarnya.. ada tempat lain yang ingin ku junjungi dengan dirimu. Hanya saja kita malah terjebak di tempat terkutuk ini." Ujar Hayate sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Cepat katakan saja dimana kita sekarang!" Ucap Yukatta penuh penekanan.
"Kerajaan Nakamura.."
Yukatta membuka mulut, namun tak ada kata yang keluar dari sana.
Suara langkah kaki membuat mereka terkejut. Dengan segera Hayate berpindah ke belakang tubuh Yukatta dan mencekal kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan brengsek!" Ucap Yukatta tertahan.
"Mari kita bermain drama sedikit." Balas Hayate pelan.
Pintu itu terbuka, menampakkan sosok Genma dan dua orang pelayan.
"Oh.. ternyata tuan puteri sudah bangun." Ujar Genma dengan nada pura-pura terkejut.
"Lalu kenapa kau.." kalimatnya terputus.
"Dia mencoba kabur Ayah." Sela Hayate. Genma mengangguk pelan, kemudian terkekeh.
"Coba saja kalau kau bisa. Yang mulia puteri." Ujarnya sambil menyeringai.
__ADS_1
'Tua bangka ini..' umpat keduanya.
_______________