Secret Of The Kingdom

Secret Of The Kingdom
Teror


__ADS_3

Setelah acara perjamuan makan malam selesai, Yuuren mengantar Sara ke kediamannya. Putra Mahkota tersebut kini berjalan menuju ruang belajar. Pemuda itu duduk dikursi sambil membaca isi perkamen satu-persatu yang ada dimeja.


Malam kian larut, namun Yuuren tidak perduli sama sekali.


Yang dipikirkan olehnya saat ini adalah pertemuan para calon raja yang sebentar lagi akan dilaksanakan dengan seluruh kerajaan di bawah pimpinan kerajaan Kurosawa.


Yuuren tidak mau melewatkan hal sekecil apapun untuk setiap pergerakan hidupnya. Pangeran itu menghela nafas. "Mengapa pertemuannya berlokasi di Kurosawa lagi?" ujarnya pada diri sendiri.


Lama berkutat pada gulungan perkamen, Yuuren beranjak berdiri. Berniat untuk pergi beristirahat. Namun saat ia akan melewati kediaman Sara. Ada beberapa pengawal yang hendak masuk kedalam kamar Sara.


Melihatnya membuat Yuuren mengepalkan telapak tangannya.


Yuuren bergegas masuk kedalam ruangan disamping kediaman Sara. Putera mahkota menyelinap melewati jalan rahasia, kini sang putra mahkota berada dikamar Sara. Yuuren sengaja mematikan beberapa lilin di kamar tunangan sekaligus sahabatnya.


Yuuren duduk bersandar dikasur Sara. Sedang si putri mahkota telah terjatuh kealam mimpi.


Samar-samar Yuuren mendengar percakapan mereka.


"Kau lihat kan tadi? Puteri Mahkota sangat cantik diacara perjamuan. Hah.. Jiwa muda ku sangat bersemangat untuk memilikinya." ujar Salah satu pria.


"Hahaha.. Ya, ku pikir juga pangeran terlalu beruntung mendapatkan putri mahkota. Selain karena wajah cantiknya, putri juga memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus." timpal yang lain. Dengan semangat, ia membicarakannnya dengan nada menggebu.


"Iya kau benar, aku pernah melihatnya ketika sedang mandi dikolam pemandian air panas." celetuk yang lain*.


Amarah Yuuren langsung naik ke ubun-ubun, bagaimana mungkin mereka bisa sesantai ini membicarakan hal kotor tentang putri mahkota..?


Yuuren mengambil pedanngnya, menatap padang itu dengan penuh emosi. Lalu sang putra mahkota pun menyembunyikan diri dengan lihai. Sebisa mungkin Yuuren harus bersikap tenang.


Genggaman pedang ditangan Yuuren kian mengerat saat mereka bertiga berhasil memasuki kamar Sara.


Sebelum mereka menyentuh Sara, Yuuren melayangkan ayunan pedang pada ketiganya.


Darah keluar dadi pakaian merka.


"Pu-putra mahkota!" ujar ketiganya serentak. Mereka bertiga langsung bersujud memohon ampun.


Namun sudah terlambat, wajah Yuuren sudah berubah menjadi gelap.


"Kalian... mati lah!" geramnya sambil membunuh mereka secara bersamaan. Bau anyir memenuhi kamar Sara.


Yuuren memanggil pelayan pribadinya, Aoba dan Shikamaru. "Urus mayat mereka." titahnya.

__ADS_1


"Baik yang mulia." jawab Aoba, setelahnya. Aoba membawa mereka bertiga keluar dari kamar Sara.


Yuuren melihat penjaga yang tertidur lelap. "Ini pasti ulah dari mereka." batinnya.


Yuuren membersihkan kamar Sara sendirian. Bau darah sudah tidak tercium lagi. Namun Yuuren mengkhawatirkan keselamatan sahabatnya. Mereka sengaja datang untuk melecehkan Sara.


"Berani sekali mereka."


Setelah Sara bangun nanti, Yuuren berjanji akan memindahkan Sara ke kediamannya. Sang pangeran pin keluar dari kamar Sara. Yuuren kali ini bisa tenang. Karena ia sudah menaruh dua penjaga untuk mengawasi gerak gerik dikediaman Sara.


Kini Yuuren pergi menuju gerbang utama istana kerajaan. Yuuren segera menumpangi kuda yang sudah disiapkan untuknya.


"Aku harus membicarakan ini dengan ayah mertua." gumam Yuuren lirih.


Yuuren pun meninggalkan istana.


Dikediaman Sara, tepatnya dikamar pribadi putri mahkota. Sang puteri sudah terbangun sejak Yuuren menginjakkan kakinya disampingnya.


"Yang mulia.. menghabisi mereka demi aku." gumam Sara lirih.


Sebenarnya Sara sudah terbangun saat mendengar suara orang yang memasuki kamarnya. Namun, ia tidak tahu saat Yuuren tiba disana. Padahal tadi Sara sangat ketakutan. Apalagi ketika Yuuren membunuh mereka bertiga.


"Yang mulia, terimakasih." batin Sara.


Diperjalanan, Yuuren menangis dalam diam. Yuuren berpikir, Karenanya Sara dalam posisi yang bahaya. Jika saja, Yuuren tidak datang tadi. Mungkin masa depan Sara sudah hancur.


Yuuren menahan pelana kudanya agak keras, untuk menghentikan perjalanan mereka.


Sang pangeran pun turun dari kudanya. Menyerahkan kudanya pada penjaga rumah. "Terimakasih.." ucapnya.


Naomi yang tidak sengaja melihat kedatangan sang putra mahkota, juga calon menantunya berjalan menghampiri Yuuren.


"Yang mulia." sapa Naomi ketika sudah berada di depan Yuuren.


Yuuren hanya mengangguk. "Apa Kakashi-sensei ada dirumah..?"


Naomi mengira bahwa ada keadaan genting, sehingga putra mahkota datang di jam selarut ini. "Ada yang mulia, silahkan masuk."


Naomi berjalan lebih dulu, pikirannya berkecamuk.


Yuuren mengekori Naomi dari belakang. Kemudian ia dipersilahkan duduk diruang tamu.

__ADS_1


Naomi pergi memanggil suaminya. "Kakashi-san, yang mulia putra mahkota datang mengunjungimu." ucapnya setelah masuk ke ruang baca Kakashi. Pria berambut perak itu menatap istrinya heran, lalu beranjak berdiri.


"Malam-malam begini?" tanyanya.


Naomi mengangguk pelan. "Sekarang yang mulia ada diruang tamu."


"Baiklah, aku kesana sekarang. Kau buatkan minum untuk kami." titahnya sebelum pergi.


Naomi mengangguk.


Dengan langkah lebarnya, Kakashi pergi menemui Yuuren. Pria berambut perak itu duduk dikursi setelah sampai diruang tamu.


"Yang mulia, ada hal penting apakah sampai yang mulia putra mahkota datang menghampiri saya malam-malam begini?" Kakashi memberi salam sambil bertanya.


Yuuren menghela nafas, kemudian ia mentap sensei-nya. "Sensei, tadi aku membunuh tiga orang yang mencoba melecehkan Sara." ujarnya setengah berbisik.


"Aku ingin, sensei.. membantuku membinasakan mereka. Mereka sangat keterlaluan! Bahkan mereka berani menyelinap ke kamar Sara."


Kakashi terkejut dengan penjelasan Yuuren, tangan pria itu terkepal karena mendengar putrinya hampir menjadi korban pelecehan seksual.


"Lalu, bagimana keadaan Sara sekarang?" tanya Kakashi dengan nada khawatir.


Yuuren menggelengkan kepalanya. "Sara tidak apa apa, karena aku lebih dulu sampai dikkamar Sara."


"Sensei, aku mau Sara dipindahkan saja dikediaman ku." ujar Yuuren dengan nada serius. "Aku tidak mau kalau sampai hal ini terjadi lagi. Aku tidak mau membahayakan keselamatan Sara." sambunvnya kemudian.


Kakashi menganggukkan kepalanya. Benar, jangan sampai kejadian ini terjadi lagi. Bisa saja sekarang mereka hanya berniat melecehkan Sara. Tapi Kakashi tidak yakin dengan keselamatan putrinya lain kali.


"Besok saya akan datang ke istana, dan membicarakan hal ini dengan Raja."


Kakashi meremas Hakamanya. "Yang mulia putra mahkota tidak perlu khawatir, saya akan membantu anda."


Yuuren tersenyum, kemudian beranjak dari duduknya. "Aku pamit pulang sensei, maaf menggangu anda malam-malam begini."


Kakashi menggaruk belakang kepalanya, mata Pria itu menyipit. Membentuk senyuman. "Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan menantuku."


Yuuren tersenyum, kemudian pergi dari kediaman Hinata.


Sang pangeran menaiki kudanya, lalu menuju ke istana.


"Sara, aku berjanji aku akan melindungimu." Yuuren merasa bersalah karena Sara dalam bahaya. Sahabatnya itu sudah baik dengan membantunya berada disampingnya. Yuuren tidak bisa tinggal diam saja. Ia harus bertindak.

__ADS_1


"Lihat saja, kalian pasti akan mati ditanganku jika kalian menyakiti Sara..!" janjinya. Yuuren memegang pelana kudanya erat.


Dendam dihati Yuuren sudah tumbuh. Ia tidak bisa menolak lagi. Perang yang sebenarnya sudah dimulai.


__ADS_2