
Setelah Yuuren berhasil kembali dari kediaman Hinata, Yuuren segera berjalan menuju kediamannya.
"Yang mulia.."
Yuuren menghentikan langkah kakinya, ia berbalik menatap gadis bersurai perak yang kini tengah menunggunya. Yuuren tertegun, bagaimana bisa tunangannya berdiri disamping kediamannya di tengah malam begini?
"Sara, kenapa kau berdiri disini? Masuklah, diluar sendirian begini tidak aman untuk keselamatanmu."
Sara, tunangan sekaligus sahabatnya itu mendekat padanya. "Saya merasa tidak aman ketika saya berada dikediaman saya yang mulia." Sara sedikit menunduk. Namun Yuuren mendongakkan kepala sang sahabat.
"Kau seorang putri mahkota Sara, kau tidak pantas menundukan kepalamu. Kecuali didepan Rajamu." Ucap Yuuren dingin.
"Kalau kau memang tidak merasa aman saat tinggal disana, maka pindahlah."
Sara tersenyum, lalu dirinya mengikuti langkah Yuuren yang berada didepannya. "Yang mulia.."
"Ssshh.. diamlah Sara." Yuuren menyuruh Sara diam bukan tanpa alasan. Pemuda itu menarik Sara kedalam kediamannya.
"Mulai sekarang, kau akan tinggal bersamaku Sara. Kau akan aman disini. Aku janji." ujar Yuuren tak dapat dibantah.
Sara tersenyum tipis, sahabatnya ini selalu mengerti akan perasaannya. Bukannya Sara tidak tahu diri, hanya saja Sara benar-benar ketakutan setelah kejadian para pemberontak yang masuk kedalam kamarnya tadi.
Mereka berdua pun memutuskan untuk istirahat, karena malam sudah larut.
**
Sedang di Kerajaan Shibuya, sang putra mahkota membanting gelas yang tengah dipegangnya beberapa menit lalu. Sasuke, menatap marah pada bawahannya.
"Jadi.. mereka tidak berperang lagi? Sial.. bagaimana caranya agar aku bisa merebut Yukatta dari Hidan." gumam Sasuke pelan.
"Tidak masalah soal tahta itu, aku sudah tidak menginginkannya."
"Sekarang, yang kuinginkan hanya Yukatta seorang." ucap Sasuke. Putra mahkota dari Shibuya mengepalkan tangannya erat.
Lalu, tiba-tiba saja, bibir sang pangeran mengukir seringaian menakutkan. "Aku akan kesana besok pagi, sayangku... kau akan ku dapatkan." Mata sang putera mahkota berkilat penuh ambisi, Sasuke bukan hanya tertarik dengan kerajaan Tachibana maupun Kurosawa. Tapi Sasuke lebih tertarik dengan Yukatta.
Mikoto menatap putra bungsunya dengan tatapan khawatir. Ia akan berusaha untuk membujuk putra bungsunya itu. Sebelum semuanya terlambat, ia tidak mau kehilangan seorang putra lagi.
"Putraku, Sayang, di beberapa kerajaan masih banyak seorang putri yang belum bertunangan. Ibu mohon nak, Kamu jangan mencari masalah."
__ADS_1
Sasuke melirik ibunya dengan tatapan kosong. "Tapi Ibu, aku hanya ingin Yukatta."
Mikoto menggeleng keras, ia tidak setuju dengan kata-kata putranya.
"Jangan putri Yukatta, Sasuke. Ibu mohon, ia sudah punya calon suami. Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik, lebih cantik juga lebih sempurna darinya." ucap Mikoto dengan nada lemah.
Sasuke menatap ibunya lemah, putra mahkota menggenggam telapak tangan sang ibunda. "Tapi bagaimana jika hatiku hanya menginginkan dia Ibu?"
Mikoto terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sasuke yang seperti ini membuatnya begitu lemah.
"Sudah malam Sasuke, kamu harus istirahat. Ibu juga akan pergi sekarang." ucap Mikoto sebelum meninggalkan kediaman putranya.
"Yukatta, aku pasti mendapatkan mu!" ujar Sasuke setelah sang ibu meninggalkan kediamannya.
**
Temujin yang tengah sibuk membaca ulang perkamen yang ditangani Deidara dulu. Meski Deidara cukup bijaksana, membantunya saat bertukar peran dengannya. Hanya saja, pria pirang dengan mata safir itu tetap tidak bisa dipercaya olehnya.
"Huh.. sampai kapan ini semua selesai?"gumam Temujin lemah.
tok tok tok
"Yang mulia.." Sapa Gouken saat sudah berhadapan dengan Temujin.
Temujin menatap bawahannya, lalu menutup perkamen yang berada ditangannya. "Ada apa?" tanyanya tanpa basa basi. Karena Temujin tahu, apa yang bisa menyeret Gouken pergi ke kediamannya malam-malam begini.
Gouken cukup terkejut saat melihat reaksi dari Temujin yang begitu dingin, namun pria paruh baya itu merilekskan tubuhnya kembali. "Maaf sudah mengganggu malam Anda, Ini soal Gen..ma Tachibana." ucap pria itu lirih.
Mendengar nama dari kerajaan Tachibana, kini Temujin mengerutkan alisnya bingung. "Kenapa dengan mereka?"
"Mereka kabur yang mulia." celetuk Gouken. Raut kesal tercetak jelas diwajahnya.
Tanpa sadar Temujin berdiri sambil menggebrak meja kerjanya. "Apa!"
Gouken berjengit kaget, ia tidak menyangka reaksi Temujin.. akan seperti itu. Gouken pikir, Genma beserta anaknya tidak terlalu penting untuk Temujin. Namun berbeda dengan Raja dari Nakamura itu, ia tampak marah mengetahui sekutunya telah kabur dari kerajaannya.
"Yang mulia? Anda baik-baik saja?" tanya Gouken ragu-ragu.
Temujin menatapnya dingin. "Bagaimana aku baik-baik saja, saat penghianat kabur dari wilayahku?" kalimatnya sungguh sarat akan sindiran. Namun Gouken tidak ambil pusing, pria paruh baya itu malah sibuk memikirkan bagaimana cara memperluas kerajaan Nakamura.
__ADS_1
Meski kerajaan Nakamura salah satu kerajaan terbesar, tapi Gouken tidak sabar untuk.mengambil alih semuanya dari Temujin.
Brak!
Gouken kembali tersadar dari pikirannya. Ia menatap Temujin yang memasang wajah garang. "Kenapa kau masih disini? Kau tidak mendengar perintah dari ku?" tanyanya dengan nada mengintimidasi.
"Gawat, dia marah."ucap Gouken dalam hati.
Temujin menggertakkan giginya. "Cepat pergi dan cari mereka!"
"Aku tidak mau tau! Pokoknya kau harus membawa dia kembali kemari." Temujin menekan nada bicaranya. "Dapatkan dia, baik hidup atau pun Mati."
Gouken menganggukkan kepalanya kaku. Pria paruh baya itu tanpa permisi meninggalkan ruangan Temujin.
Sedang Raja berambut pirang itu sekali lagi memukul meja kerjanya. Temujin sangat kesal dengan cara kerja Gouken yang semakin berantakan. "Bagaimana aku bicara pada Sasori dan Gaara nanti?" gumamnya pelan.
Temujin sudah berjanji untuk menangkap Genma demi membantu calon kakak iparnya.
Meski status Yukatta masih jadi tunangan Hidan, tapi Temujin sudah berjanji. Dan janji tetaplah janji yang harus ia patuhi.
**
Keesokan harinya, Yuuren sudah bangun terlebih dahulu dari Sara. Alasannya, Yuuren selalu menghindari saat para dayang akan ikut membantunya mandi. Setelah selesai berpakaian, Yuuren membangunkan sahabatnya.
"hei hei, bangun pemalas." ucap Yuuren sambil mengguncang sedikit tubuh sahabatnya.
Perlahan Sara membuka matanya, ia terkejut saat melihat wajah Yuuren yang begitu dekat. Sara mendorong wajah Yuuren untuk sedikit menjauh darinya.
"Maaf yang mulia, wajah anda terlalu dekat." ucap Sara merasa bersalah.
Yuuren berdecak pelan. "Lain kali aku tak usah membangunkanmu lagi Sara." gerutunya. Seringai jahil terbit di bibir sang putra mahkota. "Atau, kau memang suka padaku?" godanya.
Sara merasa tidak enak, ia segera bangun dan bersiap. Sara agak malu karena ia bangun terlambat, bukannya terimakasih. Ia malah memukul wajah Yuuren. Benar-benar tak tahu malu. gerutunya. Sara mengabaikan godaan Yuuren padanya.
"Maaf yang mulia, saya akan segera bersiap." ucapnya sambil.berlari secepat kilat.
"Aku tidak mau menungumu." candanya.
"Aku akan bersiap secepatnya!" teriak Sara kesal.
__ADS_1