
"Kena!" Batin Yuuren saat berhasil menagkap tubuh Sara. Yuuren memeluk tubuh sahabatnya, lalu ia kembali berenang ke tepi.
"Bertahanlah Sara! Aku mohon!" teriak Yuuren dalam hati.
Setelah berhasil membawa Sara ke daratan, Yuuren menggendong Sara dan menyenderkannya di tubuhnya. "Sarah.. bangun, aku mohon!" ujarnya panik. Yuuren beberapa kali menepuk pipi sahabatnya agar tersadar.
Para pelayan yang melihat itu menundukan kepala, tidak berani melihat wajah Raja dan Permaisuri. Beberapa ada yang menatap kasihan, baru pagi tadi mereka bahagia karena dinobatkan menjadi Raja dan Permaisuri. Namun kejadian nahas menimpa Permaisuri baru mereka.
Yuuren jelas sangat ketakutan karena wajah Sara begitu pucat.
Raja muda itu terpaksa membaringkan istrinya di tanah. Ia memeriksa denyut nadi Sara. "T-Tidak, kenapa denyut nadinya lemah sekali?" pekik Yuuren tertahan. Yuuren semakin panik. Ia melirik kesal pada sahabatnya yang mematung melihat Sara.
Sang raja muda menatap tajam pada sahabat merahnya. "Gaara! Tolong bantu aku cepat!" teriaknya keras. Dan teriakan Yuuren mampu membangunkan Gaara dari ketakutannya.
Pria berambut merah itu dengan cepat menghampiri sahabatnya, ia menelan ludah melihat wajah istrinya pucat pasi. Gaara menaruh telapak tangannya pada dada Sara, menekan pelan untuk mengeluarkan air yang masuk kedalam tubuh gadis itu. Beberapa kali Gaara mencobanya, dengan rasa takut yang mendera dihati.
Pria berambut merah itu mendekatkan telinganya pada tubuh Sara.
Gaara terpaku, menatap jasad Sara yang terbaring di tanah. Terlambat, ia datang terlambat untuk menyelamatkan istrinya. Air mata pria berambut merah itu jatuh membasahi pipi.
Rasa penyesalan pun datang, mengapa ia tidak menyadari saat Sara diam-diam pergi meninggalkannya dengan Yuuren. "Sara, katakan padaku jika ini hanyalah mimpi!" ucapnya dengan nada parau.
Mendengar ucapan sahabatnya Yuuren merasa langit seakan runtuh dan menimpa dirinya. "Gaara, apa yang kau katakan?" Tubuh sang raja muda menegang, ia menatap Sara yang diam di pangkuannya.
"Tidak mungkin Sara meninggalkan kita bukan?" Yuuren bertanya dengan nada lemah. Ia menatap sahabat merahnya sayu, kedua tangannya merengkuh tubuh Sara. Memeluknya erat.
"Sara tidak mungkin mengingkari janjinya." Yuuren pun menangis, mengapa ia tidak bisa melindungi sahabat baiknya.
__ADS_1
Pria berambut merah menggelengkan kepala, ia tidak bisa memberikan harapan pada sahabat baiknya. Secara ia pun merasa sedih kehilangan istrinya, baru mereka menikah. Namun ia harus kehilangan Sara untuk selamanya.
"Tidak! Kau bohong Gaara!" teriak Yuuren frustasi. Tangisan Yuuren menyayat hati. Baik pengawal maupun pelayan ikut bersedih kehilangan Sara.
Pria berambut merah tidak mengelak, ia ingin sekali mendekap erat tubuh istrinya. Namun Gaara sadar, statusnya disini hanyalah sebagai sahabat Yuuren jiga Sara. Tidak mungkin ia bisa melakukan hal itu.
Namun kedatangan Genma membuat para pengawal dan pelayan kebingungan. Karena pria itu datang dengan penuh amarah yang akan meluap begitu saja. "Yang mulia."
Sang raja muda mendongak, menatap pamannya yang kini berdiri angkuh dengan wajah dingin menatapnya. "Saya ingin meminta sebuah keadilan pada anda yang mulia raja." ujarnya dengan wajah datar.
Yuuren mendecih, dalam hati ia mengutuk kedatangan sang paman disaat seperti ini. "Keadilan seperti apa yang kau inginkan paman? Kau sendiri tahu aku tengah berduka saat ini." balas Yuuren tak kalah dingin.
Lelaki berambut cokelat menurunkan tatapan matanya kearah pangkuan sang raja muda. Ia merasa puas melihat Sara terbaring kaku disana. Namun sama halnya dengan Hayate.
Pria itu kehilangan putra satu-satunya, ini yang membuatnya marah dan ingin memberi pelajaran pada keponakannya.
"Hayate terbunuh, dan saya ingin yang mulia memberi keadilan pada penjahat tersebut!"
Dan percayalah, Yuuren tidak mau tahu sebenarnya. "Paman, anda tahu saya sedang berduka. Saya kehilangan istri saya, permaisuri kalian! Dan kasus pembunuhan pada adik Hayate, biarlah Guren yang mengurusnya!"
Genma tidak tidak setuju, ia tidak mau wanita berambut gelap itu mengurus kematian anaknya. "Saya tidak mau tahu, saya tidak mau jika kasus pembunuhan Hayate diserahkan pada Guren."
Sang raja muda menahan kesal didadanya. Ia memberikan Sara pada sahabat merahnya. "Lalu, apa masalahmu paman?" Yuuren mendekati Genma dengan wajah dingin, aura mengintimidasi miliknya menguar menekan Genma.
"Bukankah Guren-sensei cukup untuk menguak siapa dalang dibalik pembunuhan adik?"
Pria yang lebih tua mundur, ia sangat ketakutan melihat wajah Yuuren yang begitu dingin bagai es. "Baik, saya ingin anda menemukan pelakunya dengan cepat! Agar Hayate tenang di surga sana."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Genma berbalik meninggalkan Yuuren yang masih menatapnya tajam. Tapi tatapan tajam itu tidak berlangsung lama, karena Yuuren menelan ludah pahit saat Kakashi datang ke tempat kejadian.
Pria berambut perak tersebut melewatinya begitu saja, membuat Yuuren berbalik melihat sang guru yang selama ini mendidiknya dengan baik. Yuuren menahan sakit didadanya. Sungguh sekarang ia merasa tidak berguna. Ia merasa malu karena gagal menjaga Sara.
"A-Ayah mertua." panggilnya lirih.
Namun Kakashi masih dalam kesedihan, ia memeluk tubuh Sara. Ia memang diam saja, namun Kakashi begitu sedih kehilangan putri semata wayangnya.
Dalam sekejap, suasana di kerajaan Tachibana berubah duka. Kematian dua orang dari keluarga kerajaan membuat mereka bersedih.
Yuuren duduk bersimpuh menghadap kearah jasad istrinya. Setelah mengganti baju dengan Hakama Putih, Yuuren menemani Sara dirumah duka. Ia tidak sendiri, disampingnya ada sahabat berambut merah yang tetap menemaninya dalam suka maupun duka.
Belum juga mereka terbebas dari duka kehilangan Sasori, namun kejadian ini terjadi. "Gaara, apa kau akan menyalahkan aku? Atas kematian Sara?" bisik Yuuren lirih, suaranya serak karena lama menangis.
Pria bertato ai disampingnya menoleh, jujur ia memang kehilangan Sara. Walaupun baru sebentar mengenal istrinya, namun ia tidak bisa menyalahkan Yuuren. Karena disini pun ia salah, ia tidak bisa melindungi istrinya dengan baik. Ia merasa gagal menjadi seorang suami.
"Aku tidak mungkin menyalahkanmu, karena kematian seseorang sudah ditakdirkan oleh Kami-sama." pria berambut merah terlihat menghela nafas berat.
"Karena aku pun merasa gagal, aku tidak bisa menjaganya. Aku lalai dengan janjiku, walaupun aku sudah bersumpah akan melindunginya dengan nyawaku."
Yuuren terdiam mendengar penuturan sahabatnya, ya mereka tidak bisa menyalahkan satu sama lain. Karena takdir kematian seseorang tidak bisa mereka hindari.
Kemana pun mereka lari, mereka akan tetap kembali pada Kami-sama. Yang telah menciptakan mereka.
Yuuren menarik napas berat, ia mencoba untuk merelakan kepergian sahabatnya walaupun berat. Kemudian ia teringat dengan putra mahkota kerajaan Shibuya. Ia menatap sahabat merahnya. "Gaara, aku rasa ini ada hubungannya dengan dia." ucap Yuuren dengan yakin.
Gaara menaikan sebelah alisnya. "Dia?"
__ADS_1