
Pagi di Kerajaan Tachibana.
Para pengawal dan dayang yang ditugaskan untuk mengawal putra mahkota sudah menunggu didepan kediaman. Mereka berbaris sambil menunggu saat junjungan mereka lewat.
Yuuren menggenggam tangan Sara, menggandengnya sampai masuk ke dalam kereta. Sara mengernyit lantaran suami sekaligus sahabatnya tidak masuk ke kereta.
"Yang mulia, anda tidak masuk?" tanya Sara heran.
Yuuren tersenyum tipis, ia mengusap kepala sahabatnya. "Kamu tahu sendiri kan putri? Aku lebih suka naik kuda." jawab Yuuren dengan tenang.
Ah, Sara hampir saja melupakan hal tersebut.
"Kau tenang saja putri, aku akan selalu ada disampingmu. Jadi jangan khawatir, jangan takut." ujar Yuuren, putra mahkota pun menutup pintu kereta, ia berjalan menuju kudanya yang kini tengah dipegang oleh kasim.
Aoki Shikamaru menatap putra mahkota, pria berkuncir nanas itu menunggu titah darinya.
"Shikamaru, aku titip kediaman ku. Jangan sampai dia masuk kedalam." ucapnya.
Shikamaru mengangguk pelan, pria berkuncir nanas itu tahu apa yang dimaksud putra mahkotanya. "Baik, yang mulia."
Yuuren pun menyuruh kusir untuk menjalankan keretanya, ia segera berangkat. Dan Yuuren tidak lupa bahwa ia sudah mempunyai janji dengan Hidan. Dari yang ia dengar dari kasim, Hidan sudah berangkat pagi-pagi tadi. Mungkin Hidan sudah sampai duluan disana.
Yuuren memacu kudanya pelan, ia menunggangi kuda disamping kereta Sara. Sesuai janjinya tadi, ia akan selalu berada disamping Sara.
**
Berbeda dengan Yuuren, Gaara telah bersiap untuk mengunjungi raga Sasori di rumah duka. Pria berambut merah itu sudah mengenakan pakaian putih untuk menghormati Sasori.
Bukan hanya Gaara, semua orang yang berada di kerajaan Takahashi pun memakai Yukata putih beserta ikat kepalanya.
Gaara melangkah pelan, keluar dari kediamannya. Saat di perjalanan akan ke rumah duka. Gaara berpapasan dengan Temari dan Eiji, namun Gaara tidak berniat menyapa kakak sulungnya itu. Ia malah menatap datar pada kakak dan kakak iparnya.
Perempatan siku-siku muncul di pelipis Temari, ia geram dengan sikap dingin dari adik berambut merahnya. Ingin sekali Temari memberikan pukulan di kepala adiknya. Namun Temari terpaksa menahan keinginannya tersebut.
Akhirnya mereka bertiga berjalan bersama menuju rumah duka. Sedang Kankurou sudah tiba di rumah duka, pria berambut cokelat itu kini tengah berdoa dengan khusyu.
__ADS_1
Temari yang melangkah masuk terlebih dahulu ke dalam rumah duka. Ia duduk didekat Kankurou, setelahnya Eiji lalu Gaara. Mereka sama-sama berdoa.
'Nii-sama, aku memohon restumu. Aku ingin menikahi Sara secara resmi.' ujar Gaara dalam hatinya. Lalu kelopak matanya terbuka, menatap lukisan Sasori.
Setelah memberi penghormatan, Gaara keluar dari rumah duka. Pria berambut merah itu menatap kearah langit, ia berharap rencananya akan berhasil.
**
Dari kejauhan, Yuuren melihat rombongan Hidan tepat di perbatasan. Ia melirik Sara, sahabatnya itu tidak tau jika dirinya akan bertemu dengan Hidan. Yuuren melajukan kudanya lebih ke depan, menghampiri Hidan yang sudah menunggunya.
"Maafkan saya membuat anda menunggu yang mulia." ucap Yuuren setelah mereka beriringan.
Hidan hanya mengangguk dan sedikit mengernyit melihat kereta kuda dibelakang Yuuren. Namun itu hanya sebentar, Hidan kembali menatap putra mahkota Tachibana tersebut.
"Kenpa putra mahkota meminta untuk bertemu disini.?"
Yuuren menatap Hidan tenang, walau hatinya resah. "Saya hanya ingin menyampaikan kabar pada anda, yang mulia." ujarnya dengan nada tenang.
"Perdana mentri, Takashi Sasori telah tiada."
Namun ia harus memastikan, kenapa putra mahkita Tachibana melakukan hal ini.
Yuuren menghela nafasnya pelan, ia tahu akan sulit berbicara dengan Hidan mengenai Sasori. Namun ia tidak punya waktu banyak. Upacara pemakaman Sasori akan dipercepat, karena mungkin tubuhnya busuk terkena racun.
"Yang mulia, mungkin anda tidak mempercayai saya. Jika anda tidak segan, mari ikut saya ke kerajaan Takahashi." Yuuren memimpin kembali pasukan dari kerajaannya.
"Itu pun kalau anda mau melihat sahabat anda yang mulia." ucapnya sebelum pergi.
Hidan membeku, batinnya sibuk mencari jawaban. Apakah ia harus mengikuti Yuuren, atau berdiam diri kembali ke kerajaan Kurosawa.
Sedang Sara mendengar semuanya, ia tidak memyangka Yuuren memberitahu Hidan di tengah perbatasan seperti ini.
Yuuren memegang erat pelana kudanya, ia merasa kesal karena Hidan tidak mempercayai ucapannya. 'Kenapa juga aku harus berbohong padanya? Itu sama sekali tidak menguntungkanku juga. Apalagi ini soal kematian seseorang, ia tidak mungkin membiarkan ini menjadi sebuah lelucon bukan?
"Mengesalkan sekali." gerutunya.
__ADS_1
Jauh dibelakang, setelah Hidan berpikir keras. Akhirnya raja dari kerajaan Kurosawa itu mengikuti Yuuren. Ia juga ingin memastikan, apakah yang dikatakan Yuuren benar atau tidak. Karena belakangan ini Hidan memang sulit untuk memghubungi sahabat merahnya.
"Biarlah untuk saat ini aku mengikuti perkataan putra mahkota Tachibana." pikirnya.
Setelah mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di Kerajaan Takahashi.
Gaara yang saat itu tengah berjalan ke arah kediamannya mendadak berhenti melihat kedatangan rombongan Yuuren dan Hidan. Pria bertato ai itu menatap kereta kuda dibelakang Yuuren.
"Itu pasti Sara." gumamnya.
Yuuren turun dari kudanya, lalu menghampiri kereta Sara. "Sara, kita sudah sampai. Turunlah, dia sudah menunggumu." ujar Yuuren dengan nada lirih.
Tubuh Sara menegang, gadis itu beberapa kali menarik nafas lalu membuangnya dengan perlahan. Setelah dirasa dirinya sudah relaks, Sara membuka pintu keretanya.
Yuuren tersenyum kearahnya, Sara tahu. Yuuren pasti memberi semangat untuknya.
Untuk itu Sara memantapkan hatinya, ia harus bertemu dengan Sasori. "Ini untuk terakhir kali Sara, kamu harus kuat." ujarnya dalam hati.
Sara menerima uluran tangan dari Yuuren, gadis itu turun dari kereta. Sosoknya yang cantik dan anggun mampu membuat semua tidak berkedip saat memandangnya.
Pandangan Sara terpaku pada pria bertato ai yang tengah berdiri menanti kedatangan mereka. Sara menatap pakaian yang dikenakan Gaara, juga para pelayan serta pengawal.
Mereka tampak memakai Yukata berwarna putih, sedang mereka yang baru datang memakai pakaian warna-warni.
Yuuren menyampaikan pada pengawal serta pelayannya untuk ikut serta menghormati kematian Sasori. Dan setelah Yuuren memberitahu mereka, dengan tergesa mereka berganti pakaian.
"Apa kita juga perlu berganti pakaian yang mulia?" tanya salah satu pelayan Hidan.
Hidan yang tengah marah pada dirinya sendiri menatap tajam para pelayannya. "Bukankah putra mahkota Tachibana Yuuren sudah mengumumkan tadi? Kalian harus mengganti pakaian juga. Sasori masih menjadi perdana mentri saat ia kehilangan nyawa."
Mendengar hal tersebut mereka kompak menundukkan kepala, dengan cepat para pelayan Hidan pergi untuk mengganti pakaian mereka.
Hidan menghela nafas berat, ia sempat marah dan menyesal karena tidak mempercayai Yuuren.
"Tapi aku belum melihat Sasori." gumamnya, ya kemungkinan Sasori masih hidup. Hidan berusaha untuk menyangkalnya.
__ADS_1