
VISUAL PARA PANGERAN/PUTERI
Tachibana Yukatta & Kurosawa Hidan
Kurosawa Hidan __ Raja dari Kurosawa
Tachibana Yukari __ puteri mahkota kerajaan Tachibana (Ini Yuuren versi cewek ya 😅)
Tachibana Yuuren ____ Putera Mahkota kerajaan Tachibana
Takahashi Gaara__ Putra Mahkota kerajaan Takahashi
(anggap aja babang Gaara rambutnya merah)
Hinata Sara___ Putri Mahkota kerajaan Tachibana__ Tunangan Yuuren
Tachibana Yukatta___ putri kerajaan Tachibana__saudara kembar Yukari/Yuuren
Sampai disini dulu ya... 😉
***
Yuuren menarik tangan adiknya pelan ketika matanya tak sengaja melihat pengawal kerajaan Nakamura yang tengah berpatroli.
Ia bahkan menutup mulut Yukatta agar tak berteriak dengan menggunakan sebelah tangannya.
Yukatta hanya bisa pasrah diperlakukan begitu, ia yakin kakaknya pasti punya alasan melakukannya.
"Syukurlah mereka sudah pergi." Gumam Yuuren pelan. Matanya menatap ke sekeliling, mencoba mencari sosok pengawal yang lain. Ia hanya ingin memastikan disana sudah aman atau belum.
"Cepat tunjukan jalannya." Bisik Yuuren dengan nada rendah.
Yukatta mengangguk, lalu berjalan lebih dulu didepan sang kakak.
Tak berapa lama, mereka menemukan pintu kecil dipojok tembok, letak pintu itu jauh dari gerbang utama belakang. Sehingga takkan ada yang menyadari jika si kembar kabur melewati pintu tersebut.
__ADS_1
"Aku pernah keluar lewat pintu ini." Ujar Yukatta memberi tahu. Yuuren membuka pintunya perlahan, takut kalau ia menimbulkan suara maka tamatlah riwayat mereka.
Yuuren dan Yukatta berhasil melewatinya, ia kembali menggandeng tangan sang adik dan mengajaknya berlari menjauhi kerajaan Nakamura.
Yukatta tersenyum, ini baru pertama kali setelah mereka beranjak dewasa Yuuren menggandengnya sambil berlari. Ia jadi teringat dulu saat mereka masih kanak-kanak.
Yuuren memutuskan berhenti sejenak, nafas mereka tersengal karena terus berlari.
Pandangan Yuuren menyapu ke segala arah. Semuanya memang gelap karena ini malam hari, tapi Yuuren yang sudah biasa hidup di luar melihat ini biasa saja. Berbeda dengan Yukatta yang semakin menempel pada kakaknya.
Yuuren mengambil sikap waspada, karena mereka kini berjalan di tengah hutan.
Sedari tadi ia tak melepas genggaman tangannya pada sang adik. Juga pegangan pada pedangnya semakin mengerat.
Kruukk.. kruuk..
Yuuren menoleh mendengar suara burung tersebut, ia mengulurkan tangan dan burung itu langsung hinggap ditangannya.
Yukatta memperhatikan sang kakak yang tengah merobek sedikit bajunya setelahnya Yuuren mengikatkan robekan tersebut pada burung itu. Tak lupa ia memberi secarik kertas yang sudah ia siapkan untuk memberi kabar pada para sahabatnya.
"Sampaikan ini kepada pangeran Gaara. Kalau kau tak mendapatinya. Kau serahkan pada menteri Sasori. Apa kau mengerti?" Ucap Yuuren pada burungnya.
Burung itu tampak mengangguk, Yuuren menerbangkannya. Ia menoleh kepada Yukatta, "Ayo, perjalanan kita masih panjang." Ajaknya.
"Emm.. iya."
*
*
Saat Deidara beranjak dari kursi, beberapa pasang mata memperhatikannya. Tapi Deidara tak perduli, ia melirik Sasori dan Gaara. Memberi kode pada mereka untuk keluar dari ruang perjamuan ini juga.
Gouken yang melihat rajanya akan beranjak pergi segera menghampiri Deidara. "Yang Mulia, apa anda tidak menyukai perjamuannya?"
Deidara melirik sinis, tapi dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi kalem. "Saya hanya ingin beristirahat. Bukannya saya tidak menyukai perjamuan yang kau buat kan untukku."
Deidara memasang raut kelelahan, agar Gouken percaya dengan kata-katanya. Tepat sekali, pria tua itu percaya dengan cepat.
"Maaf sudah menahan anda disini dengan waktu yang lama. Silahkan anda beristirahat yang mulia." Ujar Gouken dengan wajah bersalah dan menyesal.
Deidara segera pergi dari ruang perjamuan. Tak berapa lama, Sasori juga Gaara menyusul kepergiannya.
Tapi langkah Gaara terhenti saat melihat burung kesayangan Yuuren. Ia mengulurkan tangannya dan burung itu segera mendarat dengan mulus di tangan Gaara.
Mata jadenya melihat kain juga secarik kertas pada leher burung tersebut. Segera Gaara melepas ikatannya dan membaca isinya.
Gaara!
Aku dan Yukatta sudah pergi dari kerajaan Nakamura. Tolong susul kami segera, ku tunggu di perbatasan esok nanti.
__ADS_1
Jangan terlambat sahabatku!
Yuuren.
Gaara tersenyum tipis, membuat Deidara dan Sasori menaikan alis mereka bingung.
"Aku akan pergi besok. Dia sudah pergi." Ucapnya lirih sambil menunjukan kertas kecil tadi.
"Heh.. aku tak menyangka dia bergerak secepat itu." Sindir Deidara. Ia duduk di kursi yang ada dikediaman Temujin.
"Jadi.. seharusnya kita juga melakukan hal yang sama seperti dia bukan?" Kini Sasori yang bersuara.
Ya, mereka harus cepat pergi sebelum ada yang menyadari jika Deidara menyamar sebagai raja mereka. "Bagaimana dengan si pirang yang asli?" Dahi Gaara berkerut. "Apa keadaannya sudah membaik?"
"Tumben kau menanyakan keadaan orang lain." Celetuk Sasori.
"Terserah kau saja." Gumam Gaara.
Kini ketiga pria itu berjalan ke ruang rahasia. Rencananya mereka ingin melihat keadaan Temujin. Dan.. memang keadaannya cukup membaik setelah mereka tinggal beberapa jam yang lalu.
"Kami meminta maaf karena perbuatan kami tadi. Tapi percayalah, kami melakukannya karena terpaksa. Ini demi menyelamatkan seseorang." Ujar Sasori.
"Minta maaf katamu? Apa kata maaf semudah itu kau ucapkan?! Nyawaku hampir melayang!" Temujin memukul meja didepannya.
Sasori berdehem pelan sebelum,
Dahi pria itu mengerut, ia menempatkan diri duduk di ranjang Temujin.
"Aku yakin kau pasti terjebak juga. Tidak mungkin kau ingin bermusuhan dengan saudaramu kan?"
Temujin menipiskan bibir, ia memang tidak bermaksud untuk menyerang Kurosawa. Tapi..
"Aku yakin kau dijebak, anda jujur saja yang mulia. Kalau anda jujur, setidaknya kami akan memberimu kesempatan kedua." Ujar Sasori yakin.
Temujin tampak berpikir keras, ia melirik Sasori dengan ragu. "Sejujurnya aku tak yakin jika aku mengatakannya padamu." Hela nafas Temujin terdengar berat. "Aku menyukai Yukatta."
Mereka terdiam, tak dipungkiri. Yukatta memang cantik. Itu sebabnya banyak pangeran dari kerajaan lain berebut ingin memilikinya. Namun, bukan hanya itu. Alasan mereka saling berebut juga dikarenakan mereka ingin memperkuat kerajaan mereka. Terlebih Tachibana adalah salah satu kerajaan terbersar.
Sasori memijit pelipisnya. Mendadak pening seketika. "Tapi anda tahu, tuan puteri Yukatta adalah calon istri dari sepupu anda sendiri." Ujarnya kalem.
Temujin tahu, sangat tahu. Tapi ia sudah menyukai Yukatta sejak lama. Apakah ia tak berhak memperjuangkan cintanya?
"Aku tahu kalian pasti akan lebih memihak Hidan dari pada aku. Tapi aku sudah jujur pada kalian. Lalu apa maksudmu aku akan mendapat kesempatan kedua?" Tanyanya pada Sasori.
"Setidaknya, anda bisa mengatakannya secara baik-baik dengan yang mulia raja Hidan." Sasori merasakan tatapan menusuk dari belakangnya. Tapi ia mengendikkan bahu tak perduli.
"Mungkin kalian bisa membicarakan masalah ini dengan sesama pria, bukan kedudukan kalian sebagai seorang raja." Sambung Sasori memberi saran.
Ia berharap jika sarannya diterima baik oleh kedua raja tersebut.
__ADS_1
Mungkin ide Sasori tidak buruk juga. Pikirnya.