
Qaid terbangun dari tidurnya, ia baru saja memimpikan Athar yang berteriak minta tolong padanya.
"Ayah tolong Bunda. Bunda sakit, Bunda terus berteriak karena Adik akan keluar dari perut Bunda."
Dalam mimpi itu ia melihat Seira menangis memanggilnya.
Seira.... Athar...
Teriak Qaid. Meylani yang tidur di sampingnya pun ikut terbangun, sedih hatinya mendengar setiap malam suaminya selalu menyebut nama mantan istrinya.
Dulu ia berpikir Qaid mencintainya, namun nyatanya, pada malam pertama mereka, Qaid menyebut nama Seira saat pelepasan itu terjadi.
Meylani kini menyesal, mungkin ini dosa yang harus ia bayar. Setelah apa yang ia lakukan terhadap Seira. Karena rusaknya rumah tangga Seira juga akibat perbuatannya yang mengikuti keinginan Qaid. Nyatanya ia terperangkap dalam permainan suaminya, yang kini di rundung rasa bersalah terhadap mantan Istri yang suda ia campakkan dengan kejamnya.
"Mas sebaiknya kita cari Seira. Kita pastikan apakah dia baik baik saja atau tidak. Aku hawatir kau terus memimpikannya akhir akhir ini." Cicit Meylani dengan suara lirih.
Qaid hanya terdiam. Ia masi memikirkan mimpi itu, seolah nyata. Satu ingatan terbesit dalam otaknya.
Ia mengingat tanda lahir yang di bagian punggung Athar, sama persis dengan yang ia punya.
__ADS_1
Ia mengingat kejadian 6 tahun lalu, persisnya tiga bulan sebelum kabar kehamilan Seira.
Ia dan Seira menghabiskan waktu bersama, karena Qaid akan berangkat ke Singapura.
Satu Minggu Seira menginap bersama Qaid. Seira berbohong pada Bu Aini, bahwa ia menginap di rumah salah satu temannya.
Qaid mengingat ia adalah orang pertama yang menyentuh Seira, melihat noda darah yang tergores di seprei putih miliknya.
"Mungkin kah Athar anaknya?."
Qaid langsung menuju rumah sakit untuk melakukan tes DNA terhadap Athar. Waktu itu Qaid menyimpan rambut Athar, setelah melihat tanda lahir itu. Walaupun belum yakin Athar anaknya, namun Qaid tetap melakukan tes DNA tersebut. Untuk memecahkan semua misteri hidup Seira.
Ia suda mendatangi rumah pamannya Seira. Namun tak satu pun yang memberitahunya di mana Seira berada. Tentu saja karena rasa kecewa. Seira suda cukup menderita. Sekarang ia suda bahagia. Berhenti mencari keberadaannya. Fokus ke rumah tangga mu saja. Agar tidak ada Seira lain lagi yang terluka.
Jawaban dari pamannya Seira seolah menjadi pukulan telak bagi Qaid.
Hampir sembilan bulan bercerai dari Seira, kini di rundung rasa bersalah. Ia merasa sangat hampa tanpa adanya Seira.
Meskipun suda menikahi Meylani yang berparas cantik , tetap saja tidak membuat hatinya goyah. Semakin ia mencoba melupakan Seira, semakin banyak yang ia ingat tentang Seira. Kenangan demi kenangan terus menghampirinya. Ia seperti orang gila selama kurang lebih sembilan bulan ini.
__ADS_1
Ia merindukan Seira, teringat kembali isak tangis saat ia mengambil haknya, dengan tidak manusiawi ia perlakukan Seira malam itu.
Air mata demi air mata yang Seira tumpahkan atas perlakuannya. Dua tahun Seira hidup dalam ketidak adilan. Hanya karena fitnah yang pernah Seira lakukan.
Kini ia sadar bahwa Seira melakukan itu karena terlalu menderita. Seira hanya ingin keluar dari berbagai cobaan hidup yang ia alami. Seira sangat mencintainya, dan hanya ingin hidup dengannya.
Namun selama pernikahan mereka berlangsung, Seira terus di buat menderita olehnya.
Qaid mengutuk dirinya sendiri, dulu di kuasai dendam hingga kini penyesalan pun tiada akhir menyiksanya.
Ia juga merasa kasihan pada Meylani yang ikut masuk kedalam perangkapnya. Bukan tidak mungkin jika Meylani juga kecewa terhadapnya.
"Laki laki macam apa aku ini,yang terus membuat istri ku menderita."
Gerutu Qaid dalam hati.
Melajukan mobilnya menuju sebuah rumah sakit di kota Batam, ia menemui dokter untuk tes DNA terhadap Athar.
Hasilnya akan ia dapat setelah 1 bulan.
__ADS_1