
Seira terhanyut dalam duka. Menangisi dirinya di perlakukan sangat hina oleh laki laki yang sangat ia cintai.
Malam pertama yang romantis yang ia bayang kan, nyatanya kini hanya menjadi angan saja. Bahkan ia rela menunggunya hingga hampir 2 tahun lamanya.
Waktu kini menunjukan pukul 03:00 pagi namun matanya sangat sulit untuk ia pejam.
Setelah percintaan itu, bukan percintaan melainkan pemerkosaan, dan ironisnya itu di lakukan oleh suaminya sendiri. Bahkan beberapa jam yang lalu Seira di usir, hanya berbalut kain usang milik suaminya. Ia di seret dan dan di dorong hingga jatuh tersungkur di depan kamar suaminya.
Hancur hati Seira. Ia terus menangis hingga anak semata wayangnya bangun, dan memeluk dirinya.
Bunda jangan menangis lagi, masi ada Athar di sini, Athar sayang sama bunda.
Kini hanya Athar putranya lah yang menjadi tujuan hidupnya. Ia ingin segera terlepas dari pernikahan sialan ini.
Seira terus berpikir, kali ini Seira menyerah demi putranya, jika terus bertahan maka mental putranya yang akan terganggu karena perlakuan kasar sang suami .
__ADS_1
Seira menangisi kemalangan nasibnya, terasa perih, seluruh badannya terasa sakit oleh perlakuan kasar Qaid semalam. Bahkan hatinya pun ikut terkoyak hancur berantakan.
Teringat kembali saat malam pengantin mereka dulu, Qaid yang terang terangan menghina dirinya. Tidak ingin menggauli tubuh perempuan rendahan seperti Seira. Bukan tidak mungkin jika Seira pernah tidur dengan banyak laki laki. Mengingat licik nya Seira menjebak dirinya.
Seira beranjak ke kamar mandi segera membersihkan diri. Berendam dengan air hangat, ia tuangkan sedikit aroma terapi ke dalam air. mungkin akan lebih relaks untuk menghadapi semua masalah yang telah ia lewati.
Setelah selesai mandi, Seira kemudian menunaikan sholat subuh. Isak tangis tak tertahankan hanya mampu ia tuangkan dalam doa, semua keluh kesahnya. Berharap suatu saat Allah membuka hati suaminya, dan mau menerima dirinya dengan ikhlas, tanpa ada dendam sama sekali.
Dengan langkah gontai, Seira berjalan menuju dapur untuk membuatkan sarapan.
Impas bukan?. Bukannya dulu ia ingin aku perkosa, dan lihatlah sekarang aku benar benar memperkosanya semalam. Dendamnya terbayar suda, tinggal menunggu menceraikan Seira, dengan begitu hidupnya akan lebih tenang tanpa melihat wajah perempuan yang memfitnah dirinya dengan kejam.
Walaupun terbesit sedikit rasa kasihan dalam hatinya, mengingat tangis Seira yang mengiba kepadanya semalam. Namun hati kecilnya terus berteriak untuk tidak luluh degan tangis wanita iblis itu.
"Ya dia hanya seorang iblis, jika bukan iblis mengapa dengan teganya Seira memfitnah dirinya." Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Besok ia akan mengajak Meylani makan malam di rumahnya. Ia ingin membuat Seira semakin sakit. Dengan begitu ia bisa segera menyingkirkan Seira dari kehidupannya dan juga dari rumahnya.
Di dapur Seira menyuapkan makanan untuk Athar, anaknya terlihat lebih pendiam, membuat Seira merasa bersalah.
Niatnya menjebak Qaid, memfitnah Qaid agar bisa keluar dari kehidupan kelam yang ia rasakan. Kini hidupnya bagaikan keluar dari kandang Buaya dan masuk kembali ke kandang Macan. Seira terus memaki dirinya, mengapa begitu bodoh.
Banyak yang Seira pikirkan, setelah nanti di ceraikan oleh Qaid. Kemana ia dan anaknya akan pergi. Di mana ia bersama anaknya akan tinggal. Jika pulang ke Flores apa yang akan ia kerjakan di sana. Jangan sampai kepulangannya membebani Neneknya.
Seira sangat menyesal, jika saja ia tahu hidupnya akan serumit ini, maka ia tidak akan melakukan hal memalukan itu.
Berpikir mungkin Qaid akan memaafkannya dengan mudah, namun ternyata Seira salah.
Justru membuat Qaid sangat membencinya.
Bahkan dengan tega menyiksa fisik dan juga batinnya.
__ADS_1