
"Athar di mana ?." Tanya Qaid pada Seira yang kini kembali duduk di meja kerjanya.
"Sedang sekolah. "Jawab Seira singkat.
"Siapa yang menjemputnya ? "
"Kakak ku."
"Kenapa jawabannya singkat sekali, padahal aku ingin dia berbicara banyak, bercerita tentang kedua anak ku." Tentu saja Qaid tidak berani berkomentar, karena Seira pasti akan memarahinya.
"Apa yang kau pikirkan Qaid, kau berharap dia menerima mu, itu butuh perjuangan Qaid, hatinya telah kau hancurkan karena ego mu. Setidaknya kau berpikir bagaimana Seira melewati semuanya seorang diri. Tidak mudah untuk tetap berdiri tegak tanpa penopang. Tapi Seira begitu kuat dan tegar. Mulai saat ini kau yang harus berjuang untuk Seira dan anak anak mu." Qaid terus terlarut dalam pikirannya sendiri.
"Kamu suda makan Seira ?." Tanya Qaid sambil menatap wajah Seira.
Seira menatap ke arah Qaid, seketika pandangan mereka bertemu, dengan cepat Seira mengalihkan pandangan itu.
"Aku tidak boleh menatap matanya. Terlalu sakit apa yang dia lakukan terhadap ku di masa lalu, ia bisa bersama anak anaknya tapi tidak dengan ku."
"Sudah." Jawab Seira lalu bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya.
Qaid pun ikut keluar menyusul Seira.
"Tika berikan Alea pada ku." Lalu meraih Alea dalam gendongannya.
Fajar yang saat itu duduk di sebuah kursi yang di sediakan oleh Tika tepat di samping meja kasir, menatap bosnya heran.
"Fajar kau boleh pulang, aku akan menghubungi mu jika suda selesai. Aku masi ingin bersama anak anak ku. Pulang lah dan istrahat." Pinta Qaid pada Fajar.
"Baik pak." Fajar lalu keluar menuju parkiran mobil.
Setelah Fajar keluar Qaid kembali mendekati Seira.
" Alea sini sama Ayah." Pinta Qaid sambil merentangkan kedua tangannya pada Alea.
"Bunda apakah paman itu Ayah Lea ?." Tanya Alea pada Seira.
Seira hanya diam tidak mampu berkata kata lagi.
Qaid menunggu jawaban dari Seira, namun wanita itu tak kunjung menjawab pertanyaan anaknya.
"Iya sayang ini Ayah." Qaid kembali merentangkan kedua tangannya untuk menggendong putrinya.
__ADS_1
"Alea mau, tapi apa Ayah akan tetap ada di sini setiap hari ?." Tanya Alea pada Qaid.
"Tentu saja, mulai saat ini Ayah akan terus berada di sini untuk Alea dan Abang Athar untuk Bunda juga." Jawab Qaid melirik ke arah Seira.
Sontak saja, Alea berlari dan memeluk Ayahnya, langsung di sambut Qaid dengan pelukan erat serta mencium putri cantik yang sangat mirip dengannya itu bertubi tubi.
" Alea tidak mau Ayah pergi lagi, Alea sayang sama Ayah, Jangan tinggalin Alea lagi yah."
Qaid tak bisa menahan laju air matanya, sedangkan Seira kembali masuk ke ruangannya dan menguncinya, ia bersandar di balik pintu sambil terus menyeka air matanya dengan kedua tangannya.
Apakah ia akan membiarkan Qaid tetap bersama anak anaknya. Ia sendiri bingung dengan hidupnya di saat suda ingin melupakan masa lalu, kini masa lalu itu hadir kembali.
Biarkan saja Qaid bersama anak anaknya, ia akan menjadi jahat apa bila memisahkan mereka dari ayahnya. Qaid berhak untuk itu.
Setelah benar benar tenang Seira kembali membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Ia lalu keluar untuk menemui Alea, sebentar lagi Athar pulang sekolah. Seira harus bersiap untuk menyambut putra semata wayangnya itu.
Qaid dan Alea terlihat sedang bermain di luar ruangan. Lihatlah putrinya itu terlihat sangat akrab dengan sang ayah padahal baru pertama kali bertemu.
Terlihat Qaid dengan penuh kasih sayang menggendong Alea sambil menyusun mainan lego di tangannya. Sesekali laki laki itu mencium gemas pipi putri kecilnya.
Andaikan Qaid tidak egois dulu mungkin saat ini hidup mereka akan sangat bahagia. Kenapa laki laki itu kembali setelah menghancurkan hatinya. Namun Seira tidak bisa membohongi dirinya bahwa di dalam hatinya hanya terpatri satu nama yang terlukis indah di hatinya.
Seira menatap Tika dengan wajah sendu.
"Seperti yang kau dengar Tika. Kenapa sekarang dia kembali, setelah hati ku benar benar suda hancur." Sambil menitihkan air matanya.
"Jangan sedih kak, mungkin ini jawaban dari doa doa orang orang terdekat kakak, Kakak tidak boleh egois, Athar dan Lea sangat butuh sosok ayah, aku harap kakak bisa bijak dalam memutuskan semuanya. Setiap manusia tidak ada yang sempurna, mungkin saat itu dia lagi khilaf. Tapi jika dia kembali dengan niat baik, kenapa kita tidak memaafkannya saja kak. Dia berhak mendapatkan kesempatan kedua. Aku yakin kak dia benar benar menyesali semuanya." Ucap Tika bijak.
"Makasi ya Tika, aku akan memikirkan semuanya." Jawab Seira.
"Iya kak, Bagaimana kalo kakak uji kesabarannya dulu, sekuat apa dia berjuang untuk mendapatkan cinta kakak kembali, aku yakin dia tidak akan menyerah begitu saja."
Seira hanya tersenyum mendengar ocehan Tika.
"Akan ku pikirkan Tika."
Tak lama berbincang Seira melihat mobil Erik suda terparkir di depan Toko. Seira lalu keluar untuk menyambut putranya.
Melihat Seira keluar Athar segera berlari ke arah Seira.
__ADS_1
"Bundaaaa....
Athar pulang..."
"Bunda Seira tadi lihatlah tadi aku menggambar di sekolah, aku tidak mengijinkan Athar menggambar aba ku lagi. Aku suruh aja dia gambar Ayahnya sendiri. Kenapa sih Bunda Seira harus cari Ayah yang tinggalnya jauh, Kan kasihan Atharnya."
"Chaira tidak boleh bicara seperti itu nak. Aba juga Abanya Athar, saling berbagi oke ?."
Chaira mengangguk patuh, sedangkan Athar terlihat sedang memarahi Chaira.
"Lihat aja kalo ayah ku pulang nanti."
"Lho Seira, Alea sedang bersama siapa."
Tanya Erik penasaran, setelah melihat Alea di gendong seorang pria asing, yang terlihat sedang asik bermain di dalam toko.
"Teman kak. iiiyaa maksudnya ttemaan Seira."
Erik mengangguk dan tersenyum, setelah melihat Seira salah tingkah, ia lalu melangkah masuk ke dalam toko.
"Pak Qaid Arkana...."
Sapa Erik sopan.
Hallo Pak Erik, apa kabar..?
Setelah menanyakan kabar dan sekedar basa basi, Erik pun langsung pulang, karena di telpon Maira agar cepat pulang setelah mengantar Athar.
"Athar..." Panggil Qaid..
"Kemari nak, kau suda melupakan ayah mu ?."
" Ya tentu saja Athar melupakan ayah kejam yang selalu kasar dan sering membentaknya, kau pantas di lupakan Qaid." Qaid hanya bisa berbicara dalam hati.
Sedangkan Athar memandang laki laki di depannya sedang menggendong adik perempuannya.
" Paman siapa ?. Tanya Athar tegas.
BERSAMBUNG
Jangan lupa tinggalkan jejak ya , author sangat membutuhkan support dari kalian. novel ini bisa menemani hari kalian yang bosan karena ppkm.
__ADS_1
selamat membaca Jagan lupa vote aku ya