Seira , Belenggu Cinta

Seira , Belenggu Cinta
Permintaan Qaid 1


__ADS_3

Qaid dengan sigap berjalan menghampiri Seira dan meraih jari telunjuk Seira yang tergores lalu menghisap habis darah yang mengalir dengan mulutnya.


Jantung berdegup kencang, keduanya hanya terpaku oleh tatapan masing masing tanpa suara.


Beberapa detik kemudian dengan cepat Seira menarik tangannya dari mulut Qaid.


"Tangan mu berdarah Seira, kenapa kamu sangat ceroboh, bagaimana kalo lukanya besar."


Seira hanya diam membasuh tangannya dengan air mengalir yang ada di wastafel.


Qaid menarik tangan Seira dan menuntunnya di duduk di meja makan.


"Duduk disini, aku akan mengobati luka mu."


Qaid lalu meraih kotak P3K yang letaknya tidak jauh dari dapur. Dengan sigap kini kembali duduk didepan Seira.


"Lain kali hati hati, kalo kamu kenapa napa kasihan anak anak. Pokoknya harus hati hati dan tidak boleh memotong sesuatu sambil menghayal, bahaya tau." Ucap Qaid sambil meletakan plester pada luka di jari telunjuk Seira.


"Terimakasih, aku akan lebih hati hati lagi." Seira lalu meninggalkan meja makan dan kembali ingin melanjutkan kegiatan memasaknya.


"Mau ke mana, duduk saja biar aku yang masak." Ketika tangan Seira di tarik oleh Qaid, ia hanya diam memandangi Qaid dan memperhatikan gerakan dari bibir Qaid yang sedang berbicara.


"Andai saja dari dulu saat kita menikah kau bersikap manis seperti ini, mungkin aku tidak akan pernah merasa sesedih ini." Tak bisa ia ungkapkan hanya bisa berkata dalam hatinya.


Seira kembali duduk di meja makan dan Qaid pun melanjutkan pekerjaan Seira.


Duduk diam tanpa sepatah kata pun, Seira merasa seperti orang bodoh.


"Tidak aku tidak boleh lemah, tidak boleh menerimanya lagi, suda cukup dia menyakiti ku dulu. Aku hanya butuh anak anak saja. Apa yang aku cari darinya ?" Seira terus bergelut dalam pikirannya sendiri. Hingga wangi masakan yang menggugah selera membuyarkan lamunan Seira.


Ternyata benar Qaid suda menyelesaikan semuanya, proses masak yang sangat cepat. Dulu ketika masi pacaran tak sekalipun Qaid memasak, kenapa sekarang mendadak bisa masak. Seira kembali berpikir keras.


"Paling masakannya tidak enak." Gerutu Seira dengan suara yang sangat kecil.


"Aku dengar lho." Teriak Qaid membuat Seira kaget, dan hanya menunduk dan menyumpahi dirinya sendiri.


"Dengar apa, aku tidak bilang apa apa."


"Kalo masakan ku enak bagaimana ?." Tanya Qaid dengan senyum smirk nya.


"Hmmmmmm akan aku kabulkan satu permintaan." Jawab Seira spontan dan lantang.

__ADS_1


"hahahahaha, aku suka. Baik lah kita lihat nanti." Qaid lalu menata semua masakannya di atas meja.


"Ini spesial untuk anak anak ku, dan wanita yang sangat aku cintai, Camer, serta calon adik ipar."


Seira yang mendengar itu hanya menarik Nafas


" Duh bagaimana kalo masakan dia enak, terus dia minta yang aneh aneh, bagaimana ini." Seira nampak gusar.


" Tunggu di sini ya sayang , aku akan panggilkan mereka semua untuk makan." Pinta Qaid seraya pergi meninggalkan Seira.


Kini semua duduk di meja makan. Qaid pun memimpin doa.


Seira yang paling terakhir menyedokan makanannya.


"Wah Ayah ini enak sekali Athar suka." Puji Athar pada masakan ayahnya, dan jangan di tanya tentang Seira yang mulai pucat dan lemas.


"Senjata makan tuan ini namanya kalo masakannya benar benar enak." Pikir Seira dalam hati.


"Alea juga suka, Ayah pintar masak." Celoteh Alea lalu memasukan sesendok nasi lengkap dengan lauknya ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan cepat.


"Nak Qaid pintar masak ya. Masakannya enak ." Puji Bu Aisya.


"Kak Qaid dulu pernah ikut kursus masak."


"Tidak Rangga, aku belajar resep dari Instagram, beberapa makanan aja si, yang mudah di olah dan sehat untuk di konsumsi, itu aja." Jawab Qaid.


Seira hanya diam memandangi makanan yang ada di depannya.


"Makan atau tidak ya, atau aku pura pura aja bilang tidak enak." Pikir Seira dalam hati.


"Ayo di makan sayang, jangan coba coba mencari cari alasan biar bisa bebas dari permintaan ku, Semua mengomentari enak, tinggal kamu aja." Bisik Qaid yang duduk di samping Seira.


" Ehemmmm, Lho Seira kenapa tidak di makan, ayo di makan kita suda mau selesai lho." Ucap Qaid sambil tersenyum.


"Ayo di makan nak, tidak baik hanya memandangi makanannya saja, mama tau itu kesukaan kamu, di makan jangan di lihat saja."


Seira pun mulai menyedokan makan ke mulutnya dan benar saja rasanya benar benar enak.


" Bodoh ah, yang penting kenyang dulu, masalah permintaan nanti bisa aku pikirkan, yang paling penting sekarang adalah mengisi perut. " Pikir Seira dalam hati.


Dalam sekejap Seira suda menambah porsi makannya dua kali, membuat Qaid tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Kau tidak akan bisa lari dari ku kali ini sayang." Bisik Qaid sambil tersenyum penuh kemenangan.


Seira yang baru selesai dengan makanannya pun hanya tersenyum kecut.


"Apa yang akan ia lakukan nanti, jangan jangan dia mau meminta ku untuk menjadi istri ke duanya. Ihhhhhh Amit amit, harus bersaingan dengan wanita ular itu."


Qaid yang mendengar ocehan Seira hanya tersenyum.


Setelah membereskan semua piring kotor dan membersihkan meja makan. Qaid dan Seira memilih untuk menidurkan anak anak.


Kali ini Alea dan Athar akan tidur di ruang tamu bersama Ayah mereka.


Qaid mulai membacakan dongen dan Seira hanya diam memandangi anak anaknya yang akan terlelap.


Setelah selesai membacakan dongen, anak anak suda terlelap, Seira kemudian bergegas masuk ke kamarnya.


"Pergilah bersama ku besok pagi, kita akan piknik bersama anak anak." Pinta Qaid saat melihat Seira melangka menuju kamarnya.


"Jadi itukah permintaan mu." Tanya Seira penasaran.


"Bukan sayang, kenapa terlihat tidak sabaran menunggu permintaan ku." Ejek Qaid.


"Sayang, sayang. Sayang mata mu !, Baiklah aku harap bukan sesuatu yang membuat ku terpaksa melakukannya." Jawab Seira.


"Aku tak masalah jika kamu terpaksa. Bukankah dulu kita juga pernah ada dalam keterpaksaan."


Jawab Qaid sambil tersenyum.


" Ya, akan berujung menyakitkan, ku pastikan kali ini bukan aku yang sakit tapi kau .!"


Jawab Seira tegas dan lantang, namun di balas Qaid dengan senyum manis.


"Tidur lah siapkan dirimu untuk besok. Selamat tidur sayang, mimpi kan aku ya, hahahahaha."


Seira Semakin di buat kesal oleh Qaid, lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Bu Aisya tersenyum di balik pintu kamarnya melihat tingkah lucu Qaid dan Seira.


Qaid tidur di tengah di antara kedua anaknya.


Ia tersenyum bahagia saat Athar dan Alea memeluk erat dirinya.

__ADS_1


"Terimakasih telah mempercayakan aku memiliki mereka, jika di beri kesempatan aku tidak akan mengecewakan Seira lagi, akan ku tebus semua penderitaan yang suda aku buat di masa lalu." Ucap Qaid.


Seira yang ada di balik dinding mendengar ucapan Qaid menitihkan air mata, baginya kebahagiaan anak anaknya adalah yang paling utama, tapi hatinya belum ingin menerima Qaid dalam kehidupannya lagi.


__ADS_2