Seira , Belenggu Cinta

Seira , Belenggu Cinta
Merindukan Ayah


__ADS_3

"Paman siapa ?." Tanya Athar tegas.


Athar ganti baju dulu sayang. Seira menuntun Athar agar masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Bunda siapa paman yang di luar tadi.?"


Itu ayah mu sayang.


Setelah mendengar bahwa laki laki yang sedang bersama adiknya itu adalah ayahnya dengan cepat memakai baju dan berlari keluar.


Athar terlihat menahan rasa harunya. Sambil berjalan ke arah Qaid.


Qaid melihat raut wajah Athar yang terlihat sedih ia pun harap harap cemas, takut Athar tidak bisa menerima dirinya.


"Ayah..."


Athar lalu memeluk Qaid sangat erat.


"Jangan pergi lagi." Pinta Athar.


Qaid merasa sangat terharu, tadinya ia berpikir Athar akan menolaknya. Ternyata putranya itu menerimanya dan bahkan memeluknya erat.


Seira yang berdiri menyaksikan itu semua hanya bisa menangis terharu. Ternyata anak anaknya sangat merindukan sosok ayah. Ia tidak boleh egois, biarkan Qaid berperan sebagai ayah bagi anak anaknya, dia berhak atas darah dagingnya sendiri. Namun tidak dengan dirinya yang masi menyimpan banyak luka di hati yang di sebabkan oleh ayah dari anak anak nya itu.


Kenapa ayah baru pulang. Athar pikir ayah suda melupakan Athar. Ucap Athar sambil terus memeluk Qaid.


Tidak sayang, ayah tidak akan pergi lagi. Maafkan untuk semua kesalahan ayah, mulai hari ini dan seterusnya ayah akan selalu ada untuk Athar dan juga Dede Alea.


Perjalanan menuju rumahnya Erik tempuh dengan waktu sepuluh menit. Langsung di sambut oleh istri tercintanya.


"Sayang aku baru tau ternyata orang yang menawarkan kerja sama dengan Cafe kita itu temannya Seira." Ucap Erik sambil meraih secangkir kopi yang telah di siapkan Istrinya.


Bunyi seruputan itu membuat Maira tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya. Erik memang penikmat kopi yang luar biasa.


"Kopi rasa sayang, rasanya memang juara sayang." Ucap Erik sambil tersenyum.


"Karena itu suami ku menikmatinya dengan cara yang unik." Jawab Maira lalu duduk di samping Suaminya.


"Siapa nama teman Seira itu sayang."


"Qaid Arkana, Kelihatannya sangat mirip dengan Alea dan waktu aku ke sana tadi dia sedang main sama Alea." Ucap Erik yang kini mengusap lembut perut istinya.

__ADS_1


"Apa Qaid Arkana ?, Sayang itu mantan suaminya Seira. Aku jadi paham sekarang kenapa dia menawarkan kerja sama dengan Cafe kita. Apa dia kesini untuk mencari Seira."


Tanya Maira pada sang suami.


"Mungkin sayang. Biarkan saja kita cukup pantau aja, kalo sampai dia menyakiti Seira, maka aku tidak akan tinggal diam. Biarkan Seira menentukan jalan hidupnya sendiri."


Ucap Erik yang kini mulai menyingkirkan satu persatu yang melekat pada tubuh istrinya.


"Sayang masi siang hari, tidak enak nanti di cari Chaira." Maira berusaha mencari alasan agar tidak di mangsa oleh suaminya.


Erik pun menyerah.


Ia lalu mengakhirinya dengan ciuman yang memabukkan.


"Candu ku. Nanti malam kita akan program sembilan bulan lagi. Aku ingin ada E junior di sini."


Maira hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya.


Cinta Erik pada Maira sangatlah besar, sampai rela menunggu 6 tahun lamanya untuk bisa kembali memiliki Maira, setelah suami pertama Maira meninggal dunia, dan menitipkan Maira kepada Erik.


"Aku akan interogasi Seira tentang perasaannya terhadap mantan suaminya itu." Ucap Maira membuat Erik kembali tertawa.


Waktu suda menunjukan pukul empat sore.


Seira segera membereskan semua peralatan sekolah dan seragam sekolah Athar untuk di bawa kembali ke rumah.


"Ayo Athar kita pulang sayang" Pinta Seira seraya meraih Alea dalam gendongannya.


"Terus Ayah bagaimana bunda, apakah ayah akan ikut kita." Tanya Athar polos.


"Tidak, ayah suda punya kehidupan sendiri. Ayah akan berkunjung sesekali apabila merindukan kalian." Jawaban Seira berhasil membuat raut wajah Athar berubah kecewa begitu sebaliknya dengan Qaid.


" Ayah akan mencari cara agar bisa bersama kalian setiap hari." Ucap Qaid sambil melirik ke arah Seira.


"Apa ayah belum menikah sama bunda, soalnya kata Uma hanya orang yang suda menikah, anak, saudara kandung, dan orang tua yang boleh tinggal dalam satu rumah."


"Iya sayang , ayah dan bunda belum menikah. Tapi ayah janji sama Athar secepatnya ayah akan menikahi bunda biar kita bisa sama sama terus. Ucap Qaid meminta persetujuan Seira.


"Mau ya bunda. Apa bunda tidak sayang sama ayah ?. Biarkan ayah tinggal bersama kita." Ucap Athar dengan nada memohon.


"Tidak Athar. Bunda tidak akan menikah dengan ayah. Sekalipun bunda tidak menikah sama Ayah, bunda tidak melarang kalian untuk bertemu ayah." Ucap Seira tegas dan Qaid saat itu merasa sangat kecewa dengan jawaban Seira.

__ADS_1


"Tidak apa apa, aku akan terus berjuang. Dia pasti akan luluh." Ucap Qaid hanya dalam hati.


"Athar dan Alea ikut ayah pake mobil, Bunda naik motor aja. Takutnya mobil ayah kotor."


Qaid merasa sedih ketika mendengar Seira menyindirnya. Ia menyesal telah menghina dan merendahkan Seira dulu.


"Jangan menyerah Qaid terus berusaha, dia pasti akan luluh." Qaid terus menyemangati dirinya dalam hati . Ia ingin meminta maaf lagi pada Seira, tapi tidak enak karena takut anak anak mendengarnya. Lain waktu ia akan mengajak Seira berbicara dari hati ke hati. Saat ini Seira Masi menyimpan amarah terhadapnya, biarkan Seira tenang terlebih dahulu.


Fajar sang asisten yang merangkap sopir itu suda menunggu di depan Toko pakian milik Seira.


"Fajar masukan semua barang barang anak anak saya ke dalam mobil." Pinta Qaid.


"Baik pak." Dengan sigap Fajar membawa semua barang barang yang suda di siapkan Seira.


"Seira bisa kita jalan jalan sebentar, Aku ingin jalan jalan bersama anak anak." Pinta Qaid lagi.


"Bawa saja mereka. Aku akan tunggu di rumah, jangan sampai anak anak ku kenapa napa. Kau taukan pengorbanan ku untuk mereka. Jangan pernah mencoba menghasut anak anak ku pada hal yang tidak tidak. Atau kau akan melihat sendiri apa yang akan aku lakukan terhadap mu nanti." Ucap Seira tegas.


" Mereka harus suda pulang sebelum Magrib." Ucap Seira lagi sambil meraih tuas gas.


"Assalamualaikum.Jaga anak anak ku baik baik." Ucap Seira dengan tatapan membunuh ke arah Qaid dan Fajar.


Seira lalu melajukan motornya.


" Galak, sekali istrinya pak. Lagi marahan ya." Ucap Fajar saat mereka suda berada di dalam mobil.


Qaid melotot tajam, setelah mendengar ucapan Fajar.


" Itu wanita yang aku cintai. Kau harus bersyukur karena dia kau bisa bekerja dengan ku. Doa kan aku agar bisa rujuk dengannya." Ucap Qaid dari belakang kemudi.


" Ini ceritanya mengejar cinta mantan istri pak ?." Tanya Fajar polos dan Qaid melotot tajam, seolah akan menguliti Fajar hidup hidup.


**Hai Readers setia ku


Terus dukung aku dengan follow aku untuk bisa membaca karya karya ku selanjutnya.


Yang suda membaca harap tinggalkan jejak vote, like, favorit , reting 5 dan komen.


Dukungan kalian sangat berarti untuk mamacu diri ku agar lebih semangat lagi.


Terimakasih salam sehat selalu ❤️🥰**

__ADS_1


__ADS_2