
Makasi ya sayang untuk jamuan makan malamnya, cicit Meylani dengan tangan yang bergelayut manja bertautan dengan tangan Qaid.
Seulas senyum manis terpancar di bibir Qaid ketika mendengar perkataan Meylani.
Sedangkan di sebrang sana Seira sedang membersihkan sisa sisa makanan suami dan kekasihnya. Sakit hati Seira namun sedemikian mungkin ia tahan laju air yang suda menggenang di pelupuk mata.
Seira kemari lah
Panggil Qaid dengan nada dingin.
Seira dengan langkah gontai berjalan menghampiri suaminya.
Duduk !.
Perintah Qaid dengan tatapan tajam.
Meylani membola ketika melihat banyak lebam di bagian leher Seira dan juga mata yang masi sembab. Ada sedikit rasa sedih di hatinya. Namun ia hempaskan teringat egonya ingin memiliki Qaid seutuhnya.
Seira lalu duduk bersila di lantai tepat di depan Qaid dan Meylani.
Seira berapa usia pernikahan kita?.
Tanya Qaid dengan tatapan tajam, seolah akan menguliti Seira hidup hidup.
"Dua tahun kak." Jawab Seira lalu menundukkan wajahnya.
Apa kau masi ingin menyiksaku ?. Apa tidak cukup bagi mu hidup tanpa kekurangan di rumahku ini ?.
__ADS_1
Seira tidak bisa menjawabnya serasa keluh lidahnya, sekaligus sesak di dadanya. Sungguh bagai menelan pil pahit, mendengar perkataan suaminya itu.
Seira ayo kita berpisah. Aku ingin hidup dengan pilihan ku sendiri.
Bagai tersayat belati, hatinya terasa tercabik cabik. Perih sungguh terasa perih mendengar perkataan suaminya itu.
Apa tidak bisa kak, beri aku kesempatan untuk perbaiki semua yang aku lakukan. Aku sungguh mencintai mu Kak.
Seraya bersujud di kaki suaminya.
Namun Qaid tidak bergeming , ia tetap pada pendiriannya ingin menceraikan Seira.
Seira berusaha menenangkan dirinya. Mungkin ini saatnya untuk memulai kehidupan baru bersama putranya. Ia tidak ingin Putranya terus merasa sedih.
"Baik lah jika itu bisa membuat mu bahagia maka ceraikan aku kak." Jawab Maira tidak bisa menahan tangisnya.
"Seira Azahra dangan di saksikan Meylani aku Qaid Arkana menjatuhkan talak satu terhadap mu. Dengan begitu mulai hari ini kau bukan istri ku lagi." Ucap Qaid dengan lantang.
Membuat Seira menangis meraung tak bisa membendung air matanya. Sakit sangat sakit namun ia lega.
"Semoga kau bahagia dengan pilihan mu kak."
Seira lalu melangka menuju kamarnya dan mengemasi semua barang barangnya.
Qaid ingin membeli sebuah rumah sederhana untuk Seira. Mengingat wanita suda tidak punya siapa siapa selain paman dan bibinya.
Di depan pintu kamar Seira Qaid berdiri.
__ADS_1
"Seira ku pastikan besok aku sudah mendapatkan tempat tinggal untuk mu, sebaiknya kau tinggal di sana."
Cicit Qaid.
Tidak perlu Kak, selama ini aku dan anak ku banyak merepotkan mu.
Maafkan untuk kesalahan ku yang dulu kak.
Maafkan aku, dulu aku tidak bermaksud untuk mempermalukan dirimu kak.
Aku hanya tidak tahan atas penderitaan yang terus terus menghampiri ku. Semua terlihat baik baik saja, namun tidak dengan hati ku. Aku tidak punya tempat untuk bersandar, hingga terbesit niat buruk terhadap mu.
Aku pikir dengan berbuat seperti itu hidupku akan bahagia.
Aku berpikir kau akan dengan mudah memaafkan ku. Mengingat hubungan kita dulu.
Aku sangat mencintai mu kak, hingga aku tidak ingin kau di miliki orang lain.
Sekarang aku sadar, semua telah berubah. Mungkin cinta ku yang tidak.
Maafkan aku Kak, aku akan kembalikan nama baik mu setelah ini.
Terimakasi telah menampung aku dan anak ku selama dua tahun ini. Sekali lagi maaf untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan.
Qaid merasa sedih mendengar
Itu, namun segera ia hempaskan. Ia tidak ingin menaruh sedikit rasa kasihan pun terhadap Seira.
__ADS_1
Seira ingin menginap di rumah paman nya dulu selama proses perceraian itu berlangsung. Mungkin ia butuh teman untuk menumpahkan semua kesedihannya.