
Hubungan Meylani dan Karan akhir akhir ini makin dekat. Karan suda mengenalkan anak anaknya pada Meylani.
Pagi hari Queen putri kedua dari Karan, terlihat sangat rewel.
Mengapa Queen tidak berhenti menangis sus. Tanya Karan pada pengasuh yang membantunya merawat Queen.
"Saya kurang tau pak, suda saya coba seperti biasanya ketika non Queen menangis, tapi tetap tidak mau berhenti." Jawab Sadhia sang pengasuh.
Karan lalu meraih Queen dalam gendongannya.
"Cup cup cup sayang jangan nangis ya... Lihat ini Dady bawa apa ?." Sambil menunjukan boneka frozen yang ada di tangannya.
Namun tetap saja Queen tidak berhenti menangis.
Karan menghubungi Meylani karena khawatir anaknya suda hampir dua jam belum berhenti menangis.
Meylani bergegas ke rumah Karan, setelah mengirim pesan pada suaminya.
"Mas aku ke rumah teman ada keperluan mendadak."
Meylani melajukan mobilnya menuju kediaman Karan. Setelah tiga puluh menit Meylani tiba di rumah Karan. Langsung meraih Queen dalam gendongannya.
"Cup cup cup sayang. Ini tante Meylani sayang. Masi ingat kan sama tante. Jangan nangis lagi ya sayang. Queen anak Sholehah, anak pintarnya tante."
Belum sampai lima menit Queen langsung berhenti dari tangisnya dan memeluk Meylani erat.
" Anak cantik kangen ya sama tante?." Tanya Meylani sambil membelai rambut panjang putri kesayangan Karan tersebut.
__ADS_1
Karan yang menyaksikan itu tersenyum, ia berpikir dalam hati, andai Meylani belum menikah. Pasti saat ini ia suda menikahi Meylani untuk menjadi ibu sambung dari kedua anaknya.
Meylani menidurkan Queen di kamarnya, sambil menyanyikan lagu Nina Bobo untuk Queen. Setelah Queen tertidur pulas, Meylani keluar untuk menemui Karan.
"Karan, Queen suda tidur, nanti cek suhu AC kamar anak anak ya. Takutnya anak anak kedinginan. Udara di luar lumayan lembab." Cicit Meylani seraya duduk di samping Karan.
"Terimakasih Meylani. Suda membantuku, Queen mungkin merindukan mu." Jawab Karan sambil menatap lekat Meylani.
" Sama sama Karan. Kalau kamu kerja bawa saja anak anak kerumah ku. Biar aku yang menjaga mereka.
"Bagaimana dengan suami mu Meylani ?." Tanya karan lagi.
"Nanti aku akan izin sama Mas Qaid. Dia tidak akan keberatan Karan. Kamu tenang saja."
Setelah selesai berbicara dengan Karan Meylani pun berpamitan pulang.
***
Melihat tas kantor suaminya di tergeletak begitu saja di lantai, ia lalu meraih tas itu dan menaruhnya di atas meja. Kemudian bergegas menutup tubuh suaminya dengan selimut. Ia lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Meylani keluar dari kamar mandi, ia lalu melangkah menuju meja rias, untuk mengoleskan cream malam ke wajahnya.
Langkahnya terhenti ketika melihat amplop putih yang tergeletak di lantai. Ia lalu memungutnya dan kembali meletakan di atas meja.
Meylani terus menatap amplop itu, di sana terdapat logo salah satu rumah sakit di kota Batam.
Karena merasa ngantuk Meylani mengurungkan niatnya untuk membuka amplop tersebut.
__ADS_1
"Ahhh, besok pagi saja aku akan membaca isinya."
Pagi hari setelah sholat subuh, Meylani langsung bergegas menyiapkan sarapan pagi untuk ia dan suaminya.
Ia teringat akan amplop yang ia letakan di atas meja semalam.
Perlahan mulai membuka dan membaca isi amplop tersebut.
Air matanya jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang rapuh, luruh, terjatuh ke lantai.
Athar...
Seira...
Ia tidak siap menerima kenyataan itu. Sambil terus memegangi dadanya yang terasa sakit akibat sesuatu yang baru saja ia ketahui.
Apa suaminya menyembunyikan semua ini darinya. Mengapa tidak memberitahukan ini semua kepadanya. Meylani sungguh merasa sangat kecewa terhadap suaminya. Ia lalu meraih tasnya dan meninggalkan rumah itu begitu saja.
Qaid kaget mendapati hasil tes DNA tergeletak di lantai kamarnya.
Mungkinkah Meylani suda mengetahuinya. Ia lalu bergegas turun mencari istrinya. Namun tak kunjung ia temukan.
Mungkin kah Meylani marah kepadanya.
Entahlah...
Setelah selesai sarapan ia pun bergegas ke kantor.
__ADS_1
Sedangkan Meylani duduk melamun di sebuah taman. Pikirannya kosong. Seolah semuanya buntu. Ia tidak tau harus berbagi kepada siapa.
Terbesit dalam pikirannya sebuah nama. Ia lalu melajukan mobilnya menuju tempat tujuan yang ia maksud.