
Sore hari sepulang kuliah dengan cepat Dika menarik tuas gas, melajukan motornya dengan membawa sebuah amplop pemberian Agatha.
Agatha pernah tinggal di kamar indekos milik Bu Aini. Wanita asal Medan tersebut adalah teman kecilnya Qaid. Sejak kecil bersama membuat Agatha jatuh cinta pada Qaid, pernah menyatakan cinta namun di tolak oleh Qaid karena suda menganggap Agatha seperti adiknya.
Kecemburuan semakin menjadi jadi saat Qaid menjalin hubungan dengan Seira. Agatha kembali ingin merebut hati Qaid saat Seira di kabarkan hamil benih adik angkatnya sendiri. Saat itu hubungan Qaid dan Agatha semakin dekat, sakit hati kembali terjadi saat Qaid menikahi Seira, namun saat tahu rumah tangga Qaid dan Seira hancur Agatha adalah orang yang paling bahagia, berpikir bahwa Qaid akan kembali ke pelukannya. Harapan itu kembali pupus lantaran Qaid lebih memilih menikahi Meylani. Tidak berhenti di sana Agatha tidak pernah menyerah untuk mengejar Qaid, beberapa bulan yang lalu saat tahu Meylani dan Qaid akan bercerai, seolah tidak pernah menyerah Agatha kembali berniat mendekati Qaid. Namun wanita itu terlihat sangat frustasi saat tahu Qaid kini telah resign dari pekerjaannya dan memilih menyusul Seira ke Flores.
Agatha bekerja sebagai dokter spesialis forensik di salah satu rumah sakit di Batam, ia adalah orang yang Qaid minta bantuan untuk melakukan tes DNA Athar saat itu.
Berpikir Qaid akan melupakan Seira ternyata tidak. Yang jelas Agatha ingin semuanya kacau saat Bu Aini, ibu angkatnya Seira mengetahui bahwa benih yang Seira kandung dulu bukanlah anak Dika melainkan Qaid.
Agatha tau persis apa yang terjadi saat itu. Kini sebaik mungkin ia manfaatkan agar Qaid kembali kepadanya, termasuk menyusul Qaid ke Flores pun ia siap, kali ini tidak akan ia biar kan Seira untuk memiliki Qaid kembali.
Dika yang kini duduk di ruang keluarga bersama ke dua orang tuanya.
"Ma, Pa Dika bawa bukti bahwa benar dugaan Dika kalo Seira hamil dengan laki laki lain, lihat ini , hasil tes DNA menunjukan Athar bukan anak aku."
Dengan cepat Bu Aini meraih amplop putih tersebut dan segera membukanya.
"Lihat pa, anak angkat kesayangan mu itu, telah memfitnah keluarga kita, Ya Allah... akhirnya Allah mendengarkan doa kita semua . Lihat saja anak sialan yang keluar dari perut binatang itu. Tega sekali dia memfitnah anak ku." Ucap Bu Aini yang sedang terbakar emosi.
Pak Andre suami Bu Aini hanya diam, sebenarnya pak Andre sangat menyayangi Seira. Namun ia takut Bu Aini akan marah jika pak Andre terus membelanya.
__ADS_1
"Ayo Dika kita harus kerumah paman mu, Reza dan Farah harus di beritahu, biar tidak terus terusan menyudutkan mu." Ucap Bu Aini lagi, lalu menarik tangannya Dika agar ikut dengannya.
Setelah sampai di rumah Reza. Bu Aini langsung melempar surat hasil tes DNA itu di hadapan Reza dan Farah yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Lihatlah anak sialan itu berani sekali fitnah anak ku." Ucap Bu Aini dengan wajah yang penuh amarah.
Reza dan Farah yang melihat kakaknya datang hanya mengelus dada sambil baca Istighfar.
"Assalamualaikum, tau kakak lagi kesal tapi jangan sampai lupa memberi salam ketika masuk rumah orang. Kakak ini adalah panutan jangan bertindak seperti ini , apa lagi di depan Dika. Anak bisa mencontohkan perilaku buruk orang tuanya, apa lagi ibu adalah madrasah pertama bagi anak anaknya." Reza berusaha menasihati kakaknya itu. Sedangkan istrinya Farah langsung ke dapur untuk membuatkan minum.
" Tidak usa ceramahin aku Reza, aku benar benar kesal dengan anak itu. Itu akibat kalian terlalu memanjakannya, sekarang apa jadinya dia malah meninggalkan aib untuk keluarga ku. Lihat saja setelah ini aku akan pulang ke Flores, aku akan minta pada Kak Aisya dan juga Maira agar tidak menampung perempuan iblis itu di sana. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi." Ucap Bu Aini tegas.
"Ayo kak minum dulu, nanti tidak ada tenaga untuk omelin Seira." Ucap Farah sambil tersenyum.
Bu Aini langsung meraih segelas Orange Juice buatan Farah , dan meneguk habis minuman itu.
"Kakak haus ?." Tanya Reza.
"Ma buatkan satu gelas lagi, sepertinya kakak sangat haus sekali." Pinta Reza pada Farah sambil tertawa geli melihat kakaknya.
"Heh adik sialan, aku dari rumah uda kesal sama anak itu, mengomel terus membuat tenggorokan ku kering. Untung saja tensi ku tidak naik. Anak itu harus aku kasi pelajaran biar kapok dia." Ucap Bu Aini.
__ADS_1
"Makanya itu kak berhentilah mengomel. Mulut itu di pakai untuk berdoa, berzikir, jangan sampai di gunakan untuk memarahi orang."
"Heh Reza, kenapa dari dulu kamu tidak jadi ustadz saja." Ujar Bu Aini sedikit emosi.
Reza hanya tertawa mendengar ocehan kakaknya.
"Kak bukannya Reza mau mengajari kakak, bisa kah kita tidak perlu menyalahkan Seira atau menyudutkannya. Lupakan semuanya kak, itu hanya masa lalu. Jangan menaruh dendam pada Seira, dia hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa." Ucap Reza sambil mengelus punggung kakaknya.
"Aku heran sama kalian sebenarnya Seira pake sihir apa sih, kalian Masi saja belain dia. Suda jelas dia fitnah keponakan kandung mu sendiri, seharusnya kalian berada di pihak Dika. Kamu sama saja dengan kakak ipar mu."
Bu Aini lalu berdiri dan berpamitan dengan Reza dan juga Farah.
"Aku pulang dulu, bulan depan aku akan pulang, aku mau usir anak sialan itu dari rumah Kak Aisya. Heran aku sama Maira mau aja bantuin anak tidak tahu diri itu. Bu Aini dan Dika melangkah pergi.
Di perjalan Dika mendapat pesan dari Agatha.
"Suda kamu beri tahu ibu mu, aku harap kita bisa bekerja sama baik."
Dika yang membaca pesan itu dengan segera menghapus tanpa membalas.
" Semoga dia bukan seorang psikopat." Ucap Dika dalam hati.
__ADS_1