
Qaid sedang berdiri di balkon kamarnya. Memikirkan nasib pernikahannya dengan Seira. Sesungguhnya ia suda merasa muak dengan wanita itu.
Wanita yang mencoreng harga dirinya. Membuat kubangan dendam bersarang di hatinya.
Dulu pernah sangat mencintai Seira, namun setelah fitnah keji yang di lakukan Seira membuat Qaid merasa jijik mengingat kelakuan Seira kala itu.
Dendam yang begitu besar kini menguasai hatinya. Menutupi semua akal sehatnya.
Ia tersadar dari lamunannya, ketika ponselnya berdering.
Meylani teman kerjanya menelpon. Melihat gelagat Meylani yang terang terangan menunjukan rasa suka terhadapnya membuat sebuah ide licik terbesit di benaknya.
Diam diam Qaid menjalin hubungan dengan Meylani. Gadis berparas cantik asal Medan tersebut pun masuk dalam perangkapnya.
Qaid tidak begitu tertarik pada Meylani. Namun ini adalah satu satunya cara agar bisa mengusir Seira dari rumahnya.
Beberapa waktu lalu Qaid sempat menguping pembicaraan Seira dan anaknya Athar.
Bunda kenapa kita nggak pergi saja dari sini.
Ayah jahat sama Bunda.
Kita ke rumah opa saja, biar Bunda nggak sedih lagi. Biar bunda nggak nangis lagi, biar Athar nggak di bentak lagi.
__ADS_1
Athar dengarkan Bunda.
Ayah nggak jahat sama Bunda.
Sebenarnya Ayah sayang sama Bunda dan Athar.
Bunda yang salah, Bunda yang suda buat Ayah kecewa.
Jika suatu saat Ayah mengusir kita maka kita akan pergi dari sini.
Sementara kita di sini dulu ya sayang.
Athar jangan marah sama Ayah ya.
Nurut sama bunda ya nak.
***
Melihat bayangan Seira yang bersembunyi di balik tembok, sedang menguping pembicaraannya, membuat Qaid dengan ide gilanya mengaktifkan spiker ponselnya.
"Sayang aku ingin kita segera menikah." Rengek Meylani di sebrang sana.
Besok datanglah ke rumah ku, untuk bertemu dengan wanita tidak berguna yang aku tampung seperti benalu.
__ADS_1
Sungguh sakit hati Seira, mendengar perkataan suaminya tersebut. Sehina itu kah dirinya ? . Apa yang harus ia lakukan agar suaminya itu bersikap baik terhadap nya.
Seira hanya bisa menangis pilu, selama menikah tak sekalipun Seira keluar dari rumah. Setiap kali ingin berkunjung ke rumah Pamannya Qaid selalu melarang Seira.
Seira terus berpikir. Mencari cara apa yang harus ia lakukan untuk mengakhiri semua penderitaan yang ia alami.
Bahkan Athar anaknya yang tidak berdosa itu ikut terseret oleh perlakuan kasar suaminya.
Aku harus kuat. Aku harus minta penjelasan pada Qaid tentang semua ini, Seira berkata lirih.
Dengan berani Seira masuk kedalam kamar Qaid.
Kak apa belum cukup kau menyiksa ku selama dua tahun ini, sudah cukup kak. Aku sangat mencintai mu. Sungguh sungguh mencintai mu Kak. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ku. Beri aku kesempatan Kak.
Seira terus memohon kebaikan hati suaminya agar mau menerimanya dengan tulus. Ia berharap kali ini suaminya mau memaafkan kesalahannya di masa lalu.
"Kau pantas di perlakukan seperti itu. Itu harga yang harus kau bayar kerena suda merusak nama baik ku." Jawab Qaid dengan nada dingin.
"Kak kita ini suami istri, kau bahkan tidak pernah menyentuh ku. Tolong beri aku satu kesempatan Kak, aku janji akan perbaiki semua kesalahan ku." Cicit Seira lirih.
"Kau ingin aku sentuh ?. Baik lah jangan salahkan aku. " Qaid menarik Seira dengan kasar dan di hempaskan tubuh rapuh itu ke tempat tidurnya.
Dan terjadilah....
__ADS_1