
"Kamu...
Untuk apa kamu di sini Mas."
Tanya Seira bingung, ia juga takut semua yang ia sembunyikan akan terbongkar.
"Seira boleh aku bicara sebentar." Pinta Qaid yang terus menatap Seira penuh arti.
"Silahkan Mas, bicaralah."
"Seira, bagaimana kabar mu ?."
"Aku baik baik saja mas seperti yang kamu lihat. Langsung saja, apa yang ingin kamu bicarakan, aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan dongeng mu." Ucap Seira ketus.
Qaid tersenyum getir.
"Seira di mana putra ku ?." Tanya Qaid tegas.
"Putra ?. Siapa yang kamu maksud mas ?."
"Athar. Dia putra ku, Aku punya bukti yang kuat untuk itu."
Qaid lalu mengeluarkan sebuah amplop dan di sodorkan pada Seira.
"Masuk ke ruangan ku mas. Tidak enak jika di dengar orang lain."
Ucap Seira sambil berjalan masuk ke ruangannya.
Qaid melangkah kan kakinya dan masuk ke ruangan Kerja Seira. Ruangan itu terlihat rapi, di sana banyak Mainan anak anak yang berserakan di atas karpet. Serta tempat tidur berukuran sedang. Terlihat seorang anak perempuan yang sedang memainkan ponsel, dengan posisi tengkurap, terdengar juga lagu baby shark mengalun indah membuat anak perempuan itu menggelengkan kepala ke kiri dan kanan.
"Duduklah Mas."
Pinta Seira lalu mendorong pintu agar sedikit terbuka, mengingat mereka bukan suami istri lagi seperti dulu.
"Mau minum Mas."
Tawar Seira pada Qaid yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
"Boleh. " Jawab Qaid datar.
Seira lalu mengeluarkan teh kemasan dan beberapa cemilan dari lemari pendingin yang ada di ruangannya.
"Silahkan di minum mas."
Pinta Seira, dalam hati ia sangat takut, apa yang akan terjadi. Apa dia datang untuk membawa anak ku pergi dan tinggal bersama istrinya.
Tidak, tidak akan aku biarkan siapapun mengambil anak anak ku. Hanya mereka yang aku punya.
Hening tanpa kata, Seira lalu membuka amplop yang di berikan Qaid padanya. Sejenak ia membaca.
"Tidak mungkin, Athar bukan putra mu , ini pasti bohong, semua ini bohong. Aku tidak percaya dengan surat ini."
Qaid terus memandang ke arah Seira.
"Apakah aku terlalu buruk di mata mu, hingga kau tidak ingin mengakui Athar sebagai putra ku. Mengapa kau malah mengakui anak itu adalah darah daging adik tiri mu."
Jawab aku Seira.
Mendengar suara Qaid yang lumayan tinggi, Alea menangis ketakutan.
Qaid yang menunduk sambil terus memijit keningnya pun mengangkat wajahnya.
Deg...
Seira...
"Bunda Alea takut. Paman itu teyus melihat Alea."
"Seira apa kau suda menikah."
Tanya Qaid penasaran.
Belum juga menjawab pertanyaan Qaid, kini ia mendapat pertanyaan lain yang keluar dari mulut mungil putrinya.
"Bunda apakah dia ayah Alea. Kata Abang..."
__ADS_1
"Alea Paman itu bukan Ayah mu. Dia teman bunda." Dengan cepat Seira menjawab pertanyaan anaknya.
"Bunda kapan ayah pulang, kenapa tidak pernah menelpon Alea."
"Seira, apa dia Putri ku ?."
Seira tidak sanggup menjawab ia hanya menangis dan memanggil Tika untuk membawa keluar Alea.
"Dia Putri ku Mas, dia tidak punya ayah karena ayahnya tidak menginginkan Bundanya."
Qaid merasa frustasi, ia meninju dinding ruang kerja Seira sampai tangannya memerah.
Ia merasa bodoh.
"Mengapa tidak mengatakan pada ku, aku mungkin bisa mempertahankan rumah tangga..." Belum selesai Seira langsung memotong perkataan Qaid.
"Sampai anak itu lahir dan kau akan menceraikan ku mas ?. Apa bedanya mas dengan anak ku kehilangan ayahnya sejak dalam kandungan dan setelah lahir. Bagi ku sama saja mas. Semuanya hanya akan menyiksa ku. Jika saja aku memberitahukan mu tentang kehamilan ku waktu itu, mungkin saja anak ini tidak bisa terselamatkan. Bagaimana bisa di selamatkan sedangkan ayahnya menyiksa batin bundanya. Pergi lah mas, semua ini terjadi karena aku yang berulah. Pergi lah aku tidak ingin istri mu salah paham dengan ku."
Qaid berlutut di hadapan Seira.
"Maafkan atas semua kesalahan ku. Maafkan aku Seira. Maafkan aku. Hukum aku Seira , siksa aku asal jangan menyuruh ku pergi. Aku ingin bersama anak anak ku."
"Tidak Mas, Pergi lah. Kau masi bisa mencetak seratus anak dari perempuan lain, Pergi lah. Mereka anak anak ku. Aku memperjuangkan hidup ku untuk melahirkan dan membesarkan mereka. Aku mengorbankan masa muda ku untuk jalan jalan demi membesarkan mereka. Tidurku bahkan tidak nyenyak hanya untuk menjaga mereka agar tetap terlelap sampai pagi.
Mereka tidak membutuhkan mu mas. Hanya aku yang mereka butuhkan. Tolong pergi dari kehidupan kami." Ucap Seira tegas.
Hati yang terlalu sakit membuat Seira tidak bisa lagi menangis, entah ke mana air mata yang sering ia tumpahkan saat merindukan dan mengingat perlakuan buruk Qaid dulu terhadapnya. Kini hanya ada sakit yang ia sendiri tidak tahu kapan bisa melupakannya.
"Seira, tolong izinkan aku menebus semua kesalahan ku. Tolong biarkan aku bersama anak anak ku, aku janji tidak akan menyakiti mu. Kasi aku kesempatan terakhir, aku hanya ingin bersama kalian." Pinta Qaid yang kini tengah bersimpuh di hadapan Seira.
"Tidak semudah itu mas. Jika saja kau tau dan kau rasakan bagaimana menjadi aku, bagaimana hancurnya hati ku. Kau perlakukan aku seperti sampah. Aku memang mencintai mu mas, sangat mencintai mu, tapi untuk kembali bersama mu itu adalah hal yang tidak mungkin aku lakukan, terlalu sakit. Luka yang bertahun tahun lalu kau torehkan belum sepenuhnya sembuh. Pergi lah aku tidak ingin melihat mu."
Qaid menggelengkan kepalanya ia tetap diam dan duduk bersimpuh di lantai.
"Aku tidak akan pergi dari sini, jika pergi maka aku akan kembali setiap hari untuk melihat anak anak ku. Tolong kasi aku kesempatan sekali saja untuk merasakan bahagianya sebagai seorang ayah. Qaid masi terus memohon berharap kebaikan hati Seira untuk menerimanya, membiarkan dia berperan sebagai seorang ayah."
"Itu terserah kamu mas, aku capek berbicara dengan mu. Terserah jika kau ingin di sini. Jangan pernah ganggu pekerjaan ku. Jangan pernah buat anak anak ku sedih."
__ADS_1
Seketika Qaid merasa senang, meskipun Seira belum menerimanya. setidaknya ia masi di izinkan untuk melihat anak anaknya.