
Dior mulai membuka matanya perlahan, salah satu tangannya sudah terpasang selang infus yang ternyata dirinya sekarang berada di rumah sakit.
Refleks dia langsung meraba perutnya. “Bayiku!“ lirihnya.
“Bayimu baik-baik saja!“
Tiba-tiba suara itu terdengar di telinganya dan matanya melebar karena yang berbicara adalah papinya dengan tatapan nyalang padanya. Bukan hanya papinya tapi mami dan juga kakaknya ada disana.
“Pa-pi, Ma-mami__“ Dior terbata.
Beruntung saat Dior pingsan, orang suruhan Hermes langsung sigap membawa adiknya itu ke rumah sakit. Saat Dior kembali ke apartemen, orang suruhan Hermes meretas cctv unit apartemennya yang mana membuatnya mengetahui apa aja yang terjadi di dalam sana.
Itu semua atas perintah Hermes karena dia curiga adiknya sedang ada masalah yang ditutupi. Dia tidak bisa banyak bertanya saat Dior berada di rumah orangtuanya.
Tapi karena sekarang sudah ketahuan dengan terpaksa Hermes menjelaskan semuanya kepada orangtuanya.
“Papi kecewa pada kalian!“ ucap Maheswari menatap kedua anaknya.
Hermes hanya bisa tertunduk karena memang dirinya salah begitu juga dengan Dior yang menangis tergugu di atas ranjang pasien.
“Bagaimana jika mami tidak menyuruh orang untuk mengikuti Dior? Pasti dia akan keguguran, 'kan!“ timpal maminya berkaca-kaca.
“Ini semua bukan salah kak Hermes tapi salahku. Aku yang memaksa kak Hermes jadi wali saat aku menikah,“ ucap Dior terisak. “Aku mencintai Valen!“
“Cinta? Lantas dimana suamimu sekarang!“
__ADS_1
Maheswari semakin gusar, dia seperti dikhianati oleh anaknya sendiri. Bukan tanpa alasan dia bisa bermusuhan dengan Bagaskara, mereka dulu bersahabat tapi karena kesalah pahaman membuat mereka bermusuhan dan saling membenci.
Tapi justru sekarang putrinya diam-diam menikah dengan anak musuhnya.
“Papi tidak akan merestui kalian!“ ucapnya tegas.
“Pi__ kami saling mencintai dan sekarang ada buah cinta diantara kami! Papi tega memisahkan bayiku dengan papa kandungnya!“ sahut Dior.
“Papi masih bisa mengurus cucuku sendiri!“
Setelah berkata seperti itu, Maheswari meninggalkan ruangan dimana Dior dirawat dengan istrinya yang mengikutinya.
Kini tertinggal Dior dan Hermes di ruangan itu. Hermes mendekati adiknya dan memeluknya supaya Dior tenang.
“Papi dan mami pasti akan luluh seiring berjalannya waktu, sekarang mereka masih syok menerima kenyataan!“ bujuk Hermes.
“Dimana dia? Ada apa? Cerita sama kakak!“ pinta Hermes yang merasa adiknya merahasiakan sesuatu.
“Valen ada di luar kota, Kak.“
Dior masih enggan memberitahu masalahnya pada kakaknya yang dia butuhkan sekarang adalah suaminya. Dia menekan semua egonya, Dior memang sakit hati saat mengetahui suaminya ke luar kota bersama madunya tapi perasaan itu kalah oleh rasa cintanya.
“Baiklah!“ ucap Hermes meraih ponselnya dan mencoba menghubungi adik iparnya.
Saat itu Valentino masih dalam perjalanan pulang dan tak lama kemudian dia menerima panggilan dari Hermes. Dengan cepat dia menerima panggilan itu karena ponsel Dior tidak aktif membuat Valentino cemas.
__ADS_1
“Hallo. Apa Dior ada disana?“ jawab Valentino tanpa basa basi.
“Ck, aku ini kakak iparmu!“ ketus Hermes.
“Maafkan aku, Kak. Tapi aku sangat mengkhawatirkan Dior.“
“Dior ada di rumah sakit sekarang.“
“Rumah sakit?“
Pikiran Valentino semakin tidak karuan. Dia mempercepat laju mobil supaya cepat sampai di rumah sakit dimana istrinya dirawat.
Saat sampai ternyata Hermes sudah menunggunya di lobi rumah sakit.
“Dimana ruangan, Dior?“ tanya Valentino.
Hermes berdiri dari tempatnya duduk dan mulai mengancam.
“Aku mau menikahkan kalian karena aku yakin kau bisa menjaga adikku dengan baik! Aku tidak tahu ada masalah apa diantara kalian tapi jika kau menyakiti adikku, aku tidak akan tinggal diam!“ ancamnya.
“Orangtuaku sudah mengetahui pernikahan kalian jadi bersikaplah seperti laki-laki!“
*****
Hermes
__ADS_1