Selir BADASS

Selir BADASS
Otewe


__ADS_3

Setelah baby Louis minum susu dan kekenyangan, bayi itu mulai mengantuk dan tidur dalam gendongan Valentino.


Valentino mengecup kening bayinya dengan terus menimang sampai baby Louis terlelap. Setelah itu dengan pelan Valentino membaringkan bayinya ke dalam inkubator.


“Papa mencintaimu!“ bisik Valentino.


Valentino merangkul pundak Chanel yang berada di sampingnya, mereka menatap baby Louis yang tertidur lelap di sana.


“Rasanya betah seharian hanya memandangi Louis begini!“ ucap Chanel kemudian.


Valentino hanya tersenyum dengan mengeratkan rangkulannya.


Disaat masih dengan suasana hangat tiba-tiba suara Hermes membuat suasana menjadi dingin.


“Papi, Mami. Menunggu kalian di bawah!“ ucapnya.


“Tenang saja, papiku tidak akan melahap kalian!“ tambahnya.


Dengan erat Valentino menggandeng tangan Chanel untuk turun ke lantai bawah di mana Maheswari dan istrinya menunggu mereka.


Chanel sebenarnya gugup tapi genggaman erat tangan Valentino membuatnya cukup tenang.


“Duduklah!“ ucap Maheswari mempersilahkan keduanya untuk duduk.


Maheswari menatap lekat Chanel dan matanya tertuju pada perutnya sambil mengingat surat yang ditulis Dior untuknya.


“Berapa usianya?“ tanyanya kemudian.

__ADS_1


“Um, 7 bulan,“ jawab Chanel gugup.


“Tidak perlu gugup begitu. Jadi kau ingin menjadi ibu Louis?“


Chanel menatap Valentino sebelum menjawab dan suaminya itu mengangguk perlahan.


“Iya,“ jawab Chanel akhirnya.


Setelah melihat interaksi Valentino dan Chanel serta Louis sebelumnya membuat hati Maheswari luluh, dia menurunkan semua egonya untuk bisa menerima Chanel sesuai keinginan mendiang putrinya.


“Tinggallah disini jika ingin menjadi ibu dari Louis!“ ucap Maheswari kemudian membuat Chanel sampai terbelalak.


“Tinggal disini?“ tanya Chanel tidak percaya.


“Aku tidak bisa membiarkan Louis jauh dari jangkauanku, bayi itu adalah bukti perjuangan Dior! Aku ingin menjaganya dan juga bayimu nanti akan aku anggap cucuku sendiri!“ jelas Maheswari.


Mami Dior mendekati Chanel dan memeluknya seperti dia memeluk putrinya sendiri.


Valentino mendekati papi mertuanya dan juga memeluknya. “Terimakasih, Pi. Maafkan aku tidak bisa menjaga Dior!“


“Dia sudah tenang, mau aku marah padamu seperti apapun itu tidak akan bisa mengembalikan putriku. Jadi yang bisa aku lakukan adalah mengabulkan keinginannya.“


*****


Chanel menatap foto Dior yang tersenyum cantik di atas nakas kamarnya. Atau lebih tepatnya di kamarnya yang berada di rumah Maheswari.


Setelah permintaan Maheswari dua bulan lalu, Chanel dan Valentino tinggal di sana. Sekarang usia kandungan Chanel sudah berusia sembilan bulan lebih tinggal menunggu hari kelahiran.

__ADS_1


“Kau memberiku keluarga, suami dan anak, Kak. Aku sangat bahagia mendapatkan cinta dari mereka,“ ucapnya dengan meneteskan air mata.


Memang keluarga Dior memperlakukannya layaknya putrinya sendiri. Chanel juga mulai mengurus butik pemberian Dior padanya dan Amelia sering datang berkunjung untuk menengok cucu, serta sibuk mengurus keperluan bayi.


Masih hanyut dalam lamunannya, tiba-tiba Valentino masuk kamar dengan menggendong baby Louis. Bayi itu sudah keluar dari inkubator seminggu setelah Chanel tinggal bersama keluarga Dior. Perkembangan baby Louis sangat pesat bahkan badannya sekarang menjadi gembul.


“Mama__ ada yang mencarimu!“ ucap Valentino dengan menggendong baby Louis menghadap depan karena memang bayi itu mulai bisa menyangga kepalanya sendiri.


Chanel mendekati suami dan anaknya lalu memberikan ciuman pada mereka bergantian.


“Kalian dua pria tampan yang membuatku ingin selalu menggigit kalian!“ ucap Chanel gemas dengan menggelitiki pelan tubuh gembul baby Louis.


Bayi itu tertawa diperlakukan seperti itu membuat Chanel juga ikut tertawa sampai dia merasakan mulas.


“Kenapa Sayang?“ tanya Valentino cemas karena melihat Chanel yang meringis dengan memegang perutnya.


“Kak__ sakit! Sepertinya aku mau melahirkan!“ sahut Chanel menahan sakitnya.


Badan Valentino bergetar, bayangan Dior tiada di depan matanya saat melahirkan kembali terngiang dikepalanya.


Chanel menyadari itu, dia mendekati suaminya dan berusaha meyakinkan. “Aku tidak akan meninggalkanmu, Kak!“


“Aku akan melahirkan Prada dengan lancar!“


“Prada?“


“Ya, aku memberi nama putri kita, Prada!“

__ADS_1


Valentino hanya bisa mendengus pelan karena kedua istrinya memberi kedua nama anaknya sesuka mereka.


“Wanita selalu benar Valen, ingat itu!“ batinnya.


__ADS_2