
“Kau melupakan janjimu padaku, Valen?“ sela Hermes yang melihat adik iparnya itu tampak kebingungan menjawab pertanyaannya.
Hermes mengingat saat Dior dan Valentino datang kepadanya untuk membujuknya menikahkan mereka. Kala itu Valentino berjanji akan membahagiakan dan menjaga Dior seumur hidupnya. Tapi sekarang?
“Jangan membuat janji yang tidak bisa kau tepati!“ tambah Hermes dengan memandang sinis pada Valentino.
Lalu Hermes kembali menatap Chanel yang terdiam. “Akan aku pastikan Dior menghentikan kehamilannya. Tapi berjanjilah setelah itu, kau akan membuka hatimu untukku!“
Chanel semakin bingung, dia melirik kearah Valentino dan kembali menatap Hermes. “Mmm__ sepertinya aku tidak bisa membuat janji yang tidak bisa aku tepati!“ ucap Chanel yang membalik kalimat Hermes sebelumnya.
Bersamaan dengan itu, pelayan resto datang dan mengantar pesanan makanan. Pelayan itu menyusun makanan di meja tapi karena kurang hati-hati dia tidak sengaja menyenggol mangkok berisi tom yam panas dan mengenai kaki Chanel.
“Argh!“ pekik Chanel merasakan panas di kakinya.
Tidak ingin istrinya disentuh oleh Hermes lagi, Valentino dengan sigap mendekat dan langsung menggendong Chanel untuk keluar ruangan.
Valentino tanpa malu menggendong Chanel yang saat itu mereka jadi pusat perhatian pengunjung resto.
“Kak, turunkan aku! Aku malu!“ pinta Chanel.
__ADS_1
Tapi seakan tidak mendengar permintaan Chanel itu, Valentino terus saja menggendong istrinya itu menuju toilet resto untuk membasuh kaki Chanel ke wastafel.
“Ugh!“ keluh Chanel merasakan kakinya saat tersiram air dingin.
“Sudah, Kak!“
Chanel meminta diturunkan dari gendongan Valentino, suaminya itu masih setia menggendongnya. Dan itu membuat Chanel tidak nyaman karena merasa berat badannya yang bertambah.
“Apa masih sakit?“ tanya Valentino kemudian. “Apa perlu kita ke rumah sakit?“
“Tidak perlu, aku baik-baik saja! Turunkan aku, Kak.“
“Sepertinya kau hidup dengan makmur dua bulan ini!“ ucap Valen yang melihat Chanel tampak berisi.
“Ten__ tentu saja makmur! Jadi biarkan aku pergi dan aku mohon urus perceraian kita, Kak!“ sahut Chanel memohon karena dia ingin mempunyai status yang jelas.
“Kau tidak ingin bertanya bagaimana keadaanku?“ tanya Valentino tanpa mau menanggapi permohonan Chanel.
“Keadaan kak Valen pasti baik-baik saja, 'kan!“
__ADS_1
Valentino menggeleng. “Keadaanku tidak baik, apalagi setelah kau menolak untuk aku tiduri!“
Wajah Chanel langsung merona mengingat kejadian dua bulan lalu di hotel, dimana dia meninggalkan Valentino seorang diri tapi dengan cepat Chanel berusaha menguasai dirinya.
“Sepertinya keadaan kak Dior lebih penting sekarang!“
“Kau tahu keadaan Dior dari awal, 'kan? Sebenarnya apa yang kalian rahasiakan dariku? Apa kalian berdua tidak mempercayaiku sebagai suami?“
Valentino semakin mendekatkan tubuhnya sampai mereka berdua tak berjarak, Valentino sangat merindukan istri gemoynya itu.
“Kak, pilih salah satu dari kedua istrimu! Dan kau harus memilih kak Dior! Walau bagaimanapun juga kak Dior adalah istri pertamamu! Setelah ini, aku akan mencoba berbicara pada mama!“ ucap Chanel mencoba mengalihkan perhatian Valentino yang memandangnya dengan berkabut.
“Untuk saat ini, aku tidak bisa memilih, Chanel!“ geram Valentino yang hatinya seperti dipermainkan oleh kedua istrinya.
“Anggap aku serakah! Tapi aku benar-benar menginginkan kalian berdua!“ tambahnya.
Valentino mencoba menjangkau bibir Chanel tapi sebelum itu, dia berbisik. “Jadilah istriku yang sesungguhnya, Chanel!“ pintanya.
“Kak__“ Chanel mencoba mendorong tubuh suaminya. “Kita berada di toilet!“
__ADS_1