
Di ruang persalinan, Chanel berusaha menahan rasa sakitnya. Dia menunggu sampai jalan lahir terbuka sempurna barulah bayinya bisa dilahirkan.
“Kak Valen__“ lirihnya memanggil suaminya.
Sementara Valentino di luar ruangan tampak tertunduk dengan keringatnya yang bercucuran. Dia masih sangat trauma dengan apa yang dialaminya sebelumnya.
Amelia yang melihat itu berusaha menenangkan putranya dengan merangkul pundaknya.
“Chanel membutuhkanmu! Masuklah ke dalam, pikirkan jika kau akan melihat putrimu sebentar lagi!“ bujuknya.
“Aku takut Chanel akan seperti Dior, aku tidak sanggup jika itu terjadi padanya juga!“ sahut Valentino lirih.
Hermes yang juga ada di sana menjadi gemas sendiri, orangtuanya tidak bisa ikut karena menjaga baby Louis di rumah. Walaupun ada baby sitter tapi mereka tidak mau ambil resiko untuk meninggalkan baby Louis tanpa pengawasan. Orangtuanya menjaga cucunya seperti sobongkah berlian yang berharga.
“Kalau begitu biar aku saja yang menemani Chanel!“ ucap Hermes kemudian.
Valentino langsung menegakkan badannya mendengar itu. “Itu tidak akan pernah terjadi!“
Lalu dia berjalan menuju ruang bersalin membuat Hermes terkekeh, ternyata rasa cemburu yang bisa membuat adik iparnya berani menyusul Chanel di dalam.
“Kau sendiri kapan akan menikah?“ tegur Amelia.
“Entahlah, ternyata wajah tampan tidak menjamin cepat menikah!“ jawab Hermes lesu.
Di dalam ruang bersalin, Chanel sudah bersiap akan mengejan dan saat itu juga dia melihat Valentino datang membuat air matanya menetes seketika.
“Aku disini, Sayang!“ bisik Valentino dengan berbisik di telinga istrinya.
Chanel meremas lengah kokoh suaminya saat mengejan dan mengeluarkan seluruh tenaganya. Bulir-bulir keringat semakin membasahi pelipis Chanel membuatnya begitu kewalahan.
“Sebentar lagi, Nyonya!“ ucap dokter yang membantu persalinan.
Chanel menatap suaminya sejenak. “Kak, aku tidak kuat lagi!“
“Kau pasti kuat, sebentar lagi kita akan melihat Prada!“
“Jadi, kakak setuju 'kan dengan namanya?“
“Iya aku setuju! Prada pasti akan gemoy sepertimu!“
__ADS_1
Chanel tersenyum tipis dan mulai mengerahkan seluruh tenaganya lagi sampai baby Prada akhirnya keluar dan menangis kencang di ruangan itu.
“I love you!“ ucap Valentino mengecup kening Chanel di mana nafas istrinya itu masih terengah.
Baby Prada
*****
Chanel begitu sibuk dengan dua bayinya ditambah dia harus mengurus butik dan rencana pesta pernikahan. Ditambah dia harus melayani suaminya yang juga sibuk dengan urusan kantor.
“Kak, sepertinya dasinya tidak cocok dengan warna kemejanya!“ ucap Chanel dengan meraih dasi warna hitam dan mengganti dasi yang akan dikenakan Valentino.
Valentino tersenyum tipis saat melihat Chanel memasangkan dasi untuknya. Setelah selesai, dia menarik pinggang istrinya dan mencium bibir istrinya dengan panas.
Keduanya berciuman dengan mesra di mana mereka saling membalas satu sama lain.
“Siap-siap, aku akan menerjangmu malam ini!“ geram Valentino dengan menahan hasratnya karena sejak Chanel melahirkan, dia tidak pernah menyentuh dan bercinta dengan istrinya.
Chanel terkekeh. “Tahan sebentar lagi, Kak. Setelah pesta pernikahan kita. Aku yang akan menerjangmu!“
Dari box bayi terdengar tangisan bayi, ternyata baby Prada bangun tapi baby Louis yang berada di sampingnya masih tertidur pulas.
“Anak mama bangun, haus ya,“ ucap Chanel dengan mengangkat bayi yang usianya hampir dua bulan itu.
Chanel menurunkan resleting baju depannya dan membuka sumber makanan bayinya. Baby Prada langsung mengenyot dengan menghisap sari-sari makanan mamanya yang sudah menjadi susu.
“Gemoy-nya mama habis lari-lari di mimpi sama kakak ya,“ ucap Chanel dengan gemas.
Valentino juga tidak tahan, dia menunduk dan mencium pipi gembul bayi perempuan itu.
“Kau benar Sayang. Prada sangat mirip denganmu!“ ucapnya kemudian.
Tak lama baby Louis juga ikut terbangun dan menangis. Chanel meminta suaminya menggendong baby Prada yang sudah kenyang dan dia bergantian menyusui baby Louis.
“Aduh!“ keluh Chanel merasa baby Louis menggigit ujung buah dadanya.
“Kenapa Sayang?“
__ADS_1
“Louis sepertinya akan tumbuh gigi!“
“Apa sakit? Apa asinya di pompa saja?“
Chanel menggeleng. “Rasanya akan beda, Kak. Aku merasa menjadi ibu sesungguhnya saat menyusui kedua bayiku! Dan momen seperti ini tidak akan bisa kembali terulang!“
Mendengar itu Valentino langsung memberikan kecupan di puncak kepala istrinya yang mulai tumbuh menjadi wanita dewasa.
“Aku beruntung memilikimu, Chanel!“
*****
Hari pesta pernikahan tiba, Chanel memakai baju rancangan yang Dior sebelumnya buat untuknya. Malam itu Chanel tampil cantik dan elegan. Semua orang akan tahu siapa istri dari seorang Valentino.
“Kau gugup?“ tanya mami Dior perhatian.
“Sedikit, Mi,“ sahutnya.
“Itu wajar, iya 'kan Jeng.“ Amelia menimpali dengan melirik besannya. “Jadi ingat dulu saat mau nikah kebelet pipis!“
“Ish, justru kalau gugup aku tidak bisa pipis!“
Perbincangan mereka terhenti karena pintu ruangan rias itu diketuk oleh WO acara dan meminta pengantin wanita keluar karena semua tamu undangan sudah menunggu.
Chanel digandeng dua wanita di sampingnya menuju tempat acara. Di sana Valentino mengumumkan siapa istri dan ibu dari anak-anaknya.
“Dia adalah istri gemoy yang selalu mewarnai hari-hariku, dia selalu melayaniku dan merawat kedua anak kami dengan tulus. Aku sangat bersyukur bisa mempunyai istri sepertinya. Terimakasih istriku, I love you Chanel!“
Chanel meneteskan air matanya, dia menyambut uluran tangan suaminya.
“Aku akan memenuhi amanat dari papaku dan juga Dior, untuk menjagamu seumur hidupku. Memberimu kebahagiaan dan cinta tiada tara!“ sambungnya.
Chanel merasa sangat bahagia, kini hidupnya terasa lengkap. Dia berharap orangtuanya, papa mertuanya dan juga Dior bisa melihat kebahagiaannya sekarang.
“Akhirnya statusku naik dari selir menjadi istri yamaha yang semakin di depan!“
*****
TAMAT
__ADS_1
Terimakasih buat readers yang baca kisah ini sampai ending. 🤗