Selir BADASS

Selir BADASS
Kedua Restu


__ADS_3

Ternyata Dior tidak berusaha kabur, dia menjalani rawat inap di rumah sakit untuk memastikan kondisinya.


Sengaja Dior tidak memberitahu siapapun dan mematikan ponselnya karena dia tidak tahan dengan orang-orang terdekatnya yang berusaha membujuknya untuk menghentikan kehamilan.


Tangan rapuhnya berusaha mengelus perut yang kelihatan masih rata. Saat mendengar detak jantung anaknya di dalam ketika diperiksa dokter, entah kenapa membuat Dior menjadi ibu yang jahat jika merenggut janin tak berdosa itu untuk lahir ke dunia.


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya, saat Dior menoleh ke arah pintu kakak dan kedua orangtuanya yang datang.


“Dior!“ pekik maminya dengan menghambur memeluk putrinya.


“Mami__“ lirih Dior membalas pelukan maminya.


Maheswari melihat keadaan putrinya dan itu membuat hatinya luluh, dia mendekati Dior dengan mengelus rambutnya.


“Papi merestuimu dengan Valen!“ ucapnya kemudian.


Perasaan Dior semakin tidak karuan, entah dia senang atau justru bersedih. Dan hal itu memang sengaja dilakukan oleh Hermes. Dia akan membuat adiknya tidak punya pilihan selain menghentikan kehamilan dan menerima bayi Chanel.


Saat kedua orangtuanya mengurus administrasi rumah sakit dan kepulangan Dior, disitu Hermes mendekati adiknya yang masih tampak kebingungan.

__ADS_1


“Dengarkan kakak, restu sudah kau dapatkan dan Valen lebih memilihmu! Sekarang kau harus menghentikan kehamilanmu dan setelahnya kau harus tetap berpura-pura hamil sampai Chanel melahirkan!“ jelas Hermes.


Dior tak kuasa menahan tangisnya, apakah itu semua adil?


*****


Valentino menghembuskan nafasnya kasar setelah menerima laporan jika kini Dior sudah berada di kediaman Maheswari. Menurut laporan Hermes akan mengurus secara diam-diam proses pengangkatan janin Dior nantinya.


Sebagai seorang ayah kandung dari janin itu, tentu saja membuat Valentino terpukul. Tapi nyawa Dior lebih penting sekarang.


Tapi ada satu orang disini yang lebih tersakiti, seorang wanita yang akan menyerahkan bayi yang dia kandung selama 9 bulan nanti untuk menggantikan janin Dior yang diangkat.


“Dimana Chanel, Ma?“ tanya Valentino pada Amelia.


“Ada di kamarnya. Kita perlu bicara berdua sebelum kau menemui Chanel!“ sahut Amelia tegas.


Kini keduanya berada di ruang kerja Bagaskara, tempat itu masih sama saat ditinggal oleh pemiliknya. Di atas meja ada sebuah bingkai foto dimana Bagaskara, Amelia, Valentino dan Chanel tergambar di sana.


“Setelah papamu yang tidak sengaja menabrak orangtua Chanel dan membuat gadis itu kehilangan orangtuanya, papamu menyesalinya seumur hidup. Dia membesarkan Chanel layaknya putrinya sendiri dan saat dia menderita kanker, papamu tahu hidupnya tidak akan lama lagi! Dia menyerahkan tanggung jawab itu padamu!“

__ADS_1


“Tapi papamu mungkin lupa, jika sebuah ikatan tidak bisa dipaksakan. Kau bahkan telah menikah di belakang kami dan sekarang Chanel lagi-lagi menjadi korbannya!“


“Jadi mama harap, jika memang kau tidak bisa memenuhi amanat papamu lebih baik lepaskan Chanel buat statusnya jelas. Biarkan dia bahagia!“


Amelia berkata dengan lambat-lambat supaya setiap katanya bisa dicerna oleh anaknya. Dia sudah berusaha berdamai dengan semuanya.


“Mama merestuimu dengan Dior dan akan menerimanya jadi menantu dan mama juga menerima anakmu!“ tambahnya.


Valentino tidak mampu berkata-kata lagi, kalau saja Dior tidak mengalami gangguan kehamilan dan Chanel tidak memperkosanya pasti semua tidak akan serumit sekarang. Bahkan mereka harus melakukan drama pertukaran bayi.


Valentino keluar dari ruangan itu dengan gusar, dia menuju kamar dimana Chanel berada. Beruntung kamar itu tidak dikunci, pria itu masuk dan melihat Chanel yang tertidur dengan damai.


Dengan pelan, Valentino ikut masuk kedalam selimut yang membungkus setengah badan Chanel. Setelah itu dia melingkarkan tangannya ke pinggang Chanel dengan jemari yang mengusap perut buncit wanita itu.


“Eugh!“ Chanel melenguh karena mendapat sentuhan di perutnya yang selalu dia jaga dengan pakaian longgar supaya tidak ada yang mengetahui jika dia tengah hamil.


Chanel membalik tubuhnya dan membuka mata, dia terkejut mendapati Valentino yang menatapnya penuh kasih.


“Kak Valen!“ panggil Chanel dengan tangan meraba pipi pria itu untuk memastikan jika ini adalah nyata.

__ADS_1


Valentino memberikan senyum tipis dan berkata. “Selama satu bulan ini, aku milikmu Chanel!“


__ADS_2