
Valentino meraih jubah Chanel dan meminta istri keduanya itu untuk memakainya lagi.
“Pakai dan keluarlah!“ pinta Valentino.
Chanel menulikan telinganya. “Kak Valen tidak suka istri gemoy? Apa aku kurang gemoy?“
“Jangan ngelantur, ayo cepat keluar!“ sahut Valentino berusaha memakaikan jubah Chanel tapi tangannya langsung dipegang erat oleh istri keduanya itu.
“Kak, apa aku tidak punya kesempatan? Setidaknya bersikaplah adil!“ pinta Chanel serius.
Valentino mendengus kasar. “Jangan berharap lebih tentang pernikahan kita, Chanel. Dior sedang hamil, aku tidak ingin menyakitinya. Tidak ada wanita yang mau di madu!“
“Kau masih memiliki masa depan yang cerah dan aku yakin suatu hari ada pria yang tulus mencintaimu!“
Entah kenapa mendengar semua itu, hati Chanel terasa sakit. Yang dia inginkan hanya Valentino bukan yang lain.
“Kalau ciuman boleh? Setidaknya aku ingin merasakan ciuman suamiku!“ pinta Chanel.
“Setelah aku menciummu, apa kau akan keluar dari kamarku?“ tanya Valentino memastikan.
Chanel menganggukkan kepalanya kuat. Dan tanpa dia duga, Valentino langsung menarik pinggangnya supaya mereka bisa dekat.
Jantung Chanel berdebar sangat kencang apalagi saat Valentino memiringkan wajahnya, refleks Chanel memejamkan matanya.
Sepersekian detik dia merasakan bibirnya menyatu dengan bibir suaminya dan Chanel langsung membuka matanya. Matanya beradu dengan mata suaminya dan Valentino mulai memagut bibir Chanel kembali. Pria itu memberikan lumaatan kecil pada istrinya dan Chanel sangat menikmati hal itu.
Chanel mulai membalas ciuman walau terkesan kaku karena ini untuk pertama kali bagi dirinya. Valentino menyambut balasan ciuman dari istrinya, mereka saling bertukar saliva satu sama lain sampai bayangan Dior terlintas di kepala Valentino.
“Cukup!“ ucap Valentino. “Sekarang keluarlah!“
Valentino hampir terbuai, beruntung dia bisa mengontrol birahinya. Sementara Chanel dengan wajah merona keluar dari kamar suaminya.
“Astaga, aku baru saja berciuman!“ pekik Chanel kegirangan saat baru keluar kamar.
*****
Keesokan harinya, Valentino berusaha menghubungi Dior tapi ponsel istrinya itu masih tidak aktif. Dia merasa khawatir dengan keadaan Dior karena biasanya di pagi hari istrinya itu akan mengalami morning sickness.
__ADS_1
Sementara Chanel sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dia merasa menjadi istri seutuhnya pagi ini, semangkuk sup ayam sudah tersedia di meja makan.
“Kak, sarapan dulu. Aku membuat sup ayam, enak loh!“ ucap Chanel saat melihat Valentino keluar dari kamarnya dan sudah rapi dengan setelah jas.
“Aku tidak sarapan!“ tolak Valentino.
Valentino berlalu begitu saja keluar dari apartemen membuat Chanel menghela nafasnya kasar.
“Padahal dari subuh tadi aku sudah ke pasar untuk mempersiapkan ini semua!“ keluhnya.
Akhirnya Chanel bersiap berangkat ke kantor dengan memesan taksi padahal sebelumnya dia ingin satu mobil dengan Valentino.
Apa yang harus aku lakukan
Untuk membuat kau mencintaiku
Segala upaya tlah kulakukan untukmu
Apa yang harus aku temukan
Inilah aku yang memilih kau untukku
Karna aku mencintaimu
Dan hatiku hanya untukmu
Tak akan menyerah
Dan takkan berhenti mencintaimu
Sepanjang perjalanan Chanel bernyanyi sendiri hingga taksi yang dia tumpangi sampai di kawasan Bagaskara Group.
Chanel turun dari mobil taksi itu dan mengadah ke langit pagi yang cerah.
“Langit, bisakah kau turunkan hujan? Aku ingin kak Valen mencintaiku tanpa mantra pelet!“ ucapnya.
Dan saat Chanel masuk ke dalam kantor, dia mendapat kabar gembira jika Valentino akan meninjau proyek di luar kota otomatis dirinya akan ikut juga karena dia sekretarisnya.
__ADS_1
“Beneran, 'kan?“ tanya Chanel pada Yuda sang asisten.
“Tapi untuk peninjauan proyek kali ini bos Valen akan pergi bersamaku saja!“ jawab Yuda yang baru keluar dari ruangan bosnya.
“Kok gitu? Pasti kalian itu akan membutuhkan tenagaku, tenaga cewek gemoy itu tenaga kuda loh!“ ucap Chanel yang tidak terima.
“Itu perintah dari bos Valen, mana mungkin aku bisa melawannya!“ sahut Yuda yang menjawab non formal walaupun Chanel istri dari bosnya.
Chanel merasa gusar, dia tidak terima jika dirinya ditinggal. Akhirnya Chanel mempunyai ide gila, dia kembali menghubungi Icha untuk meminta bantuan.
“Apa lagi kali ini?“ tanya Icha malas.
“Belikan aku obat yang bisa membuat orang terkena diare hebat!“ pinta Chanel.
“Ya ampun rencana apa lagi ini, kenapa aku jadi yang repot!“ protes Icha.
Walau bagaimanapun Icha tetap menurut. Dan benar saja rencana Chanel berhasil dengan menaruh obat yang dia pesan pada minuman Yuda.
Yuda mengalami diare parah dan terpaksa Valentino harus membawa Chanel sebagai penggantinya.
“Aku akan menganggap ini sebagai kencan pertama!“ gumam Chanel dengan sorai gembira.
Chanel mempersiapkan keperluan yang dibutuhkan lalu mereka berangkat hari itu juga karena Valentino yang tidak mau menunda pekerjaan.
“Kak Valen__“ panggil Chanel saat mereka dalam perjalanan.
“Hm!“ jawab Valentino.
“Kakak tahu tidak warna pelangi itu apa?“
“Mejikuhibiniu 'kan!“
“Sekarang udah ganti, mau tahu apa?“
“Apa?“
“Mejikucintakamu!“
__ADS_1