Selir BADASS

Selir BADASS
Sebuah Alasan


__ADS_3

Valentino terus termenung di dalam mobilnya sebelum masuk ke apartemen. Dia memejamkan matanya mencoba menyingkirkan bayangan Chanel yang selalu menari-nari di kepalanya.


“Baiklah, kalau itu maumu Chanel!“ gumam Valentino.


Akhirnya dia keluar dari mobil dan menuju unit apartemennya berada. Saat masuk, dia melihat Dior tengah memaksakan diri untuk memasak.


Valentino melihat itu semua dengan gusar tapi Dior malah menampilkan senyum cantiknya. Dia ber-make up tipis supaya wajah pucatnya tidak terlihat.


“Kau sudah pulang, Val? Aku memasak sup iga, aku ingin memakan itu. Tadi suster yang berbelanja!“ ucap Dior sambil mengiris kentang dan wortel.


Valentino mendekat dan mematikan kompor di sana membuat Dior keheranan akan sikap suaminya.


“Sampai kapan kau akan menyembunyikan semua dariku?“ tanya Valentino penuh penekanan.


“Val__ kau__“


“Ya, aku tahu semuanya! Kenapa kau sembunyikan semua dariku? Ini berbahaya, nyawamu taruhannya!“


“Tapi Val__“


Valentino langsung meraup wajah Dior supaya mereka bisa bertatapan setelah itu Valentino menyatukan keningnya dengan istrinya.


“Relakan anak kita!“ ucap Valentino serak.


Dior tidak bisa menahan tangisnya. “Bahkan jika aku merelakannya, gangguan kehamilan seperti ini akan bisa aku alami lagi! Aku tidak akan bisa memberimu keturunan!“

__ADS_1


“Nyawamu lebih penting, Sayang! Demi aku relakan anak kita, jangan berpikir macam-macam. Kita tidak tahu rencana Tuhan untuk kita ke depannya bagaimana!“ bujuk Valentino.


“Aku sudah memutuskan untuk menceraikan Chanel dan aku akan mengurus pernikahan kita. Kau akan menjadi wanita satu-satunya di hidupku!“


Seharusnya Dior senang mendengar itu, tapi dia bisa melihat jika cinta Valentino tidak sebesar dulu padanya. Dan Chanel juga berusaha berkorban perasaan untuknya. Tanpa mereka sadari justru itu semakin menyakiti hati Dior.


“Ayo kita ke tempat orangtuamu untuk membicarakan masalah ini!“ ajak Valentino.


Dior masih bergeming dan tenggelam dalam pikirannya sendiri lalu dia mencoba berbicara lagi. “Val, kau tidak bisa menceraikan Chanel! Sebenarnya Chanel juga tengah hamil!“


Dior ingin melihat reaksi Valentino seperti apa dan mata Valentino langsung membulat seketika.


“Chanel hamil?“ tanya Valentino terbata.


Valentino mengingat percakapan antara Hermes dan Chanel sebelumnya di resto, awalnya dia tidak mengerti tapi sekarang dia mengerti maksud Chanel.


“Aku akan pergi ke mansion!“ pamit Valentino dengan buru-buru.


Dior menatap punggung suaminya yang secepat kilat hilang dari pandangannya. Dior langsung luruh di lantai, dia menyadari jika cinta Valentino lebih besar untuk istri keduanya.


“Kau bahkan tidak berpikir satu dua untuk menemui Chanel tapi kau mau menceraikannya? Kau membohongi dirimu sendiri Valen!“ lirih Dior dengan menahan sakit di dadanya.


*****


Di mansion, Chanel tengah asyik menyantap makanan buatan Amelia dengan begitu lahap ditambah masakan Thailand yang sebelumnya dibungkus dari resto.

__ADS_1


“Ck! Ck! pelan-pelan makannya!“ tegur Amelia dengan mengelap bibir Chanel yang belepotan.


“Aku sangat lapar, Ma!“ sahut Chanel sambil mengunyah makanan.


Sebelumnya Chanel sudah membujuk Amelia agar mau menerima Dior jadi menantunya apalagi Dior yang tengah hamil. Memang Amelia sudah hampir luluh tapi justru sekarang dia kasihan dengan Chanel yang akan menjadi janda muda.


“Lalu apa rencanamu setelah ini?“ tanya Amelia.


“Hm, aku ingin bekerja, cari uang, bertemu jodohku dan kami akan menikah dengan bahagia dengan anak-anak yang lucu! Sesederhana itu!“ jawab Chanel.


“Maafkan mama!“ ucap Amelia yang lagi-lagi merasa bersalah dengan hidup Chanel.


Saat itu, Valentino baru datang ke mansion dan melihat istri dan mamanya di meja makan. Tanpa mau basa basi, Valentino langsung mengangkat tubuh Chanel untuk masuk ke kamarnya yang berada di mansion.


“Kak__ aku belum menghabiskan makananku!“ protes Chanel.


Valentino langsung mengunci kamar dan menurunkan Chanel diatas ranjangnya.


“Kak__“ Chanel ingin protes tapi bibirnya langsung dibungkam dengan bibir Valentino dengan tangan yang menyingkap baju Chanel.


Saat baju Chanel terbuka, Valentino bisa melihat perut Chanel yang membuncit.


“Jelaskan padaku apa itu?“ tanya Valentino menuntut.


“Aku sedang cacingan, Kak!“ jawab Chanel memberi alasan.

__ADS_1


__ADS_2