
“Mau minum?“ tawar Hermes pada adiknya yang masih lemah pasca operasi.
Dior menggeleng lemah, saat ini keduanya berada di rumah sakit untuk melakukan proses pengangkatan janin. Semua sudah diatur oleh Hermes agar operasi yang dilakukan Dior dirahasiakan bahkan dihilangkan dari rekam medis.
“Kak__“ panggil Dior lirih.
Hermes mendekat dan mengecup kening adiknya. “Valen dalam perjalanan menuju kemari!“
“Bukan itu tapi__“
“Maaf, kakak tidak sanggup untuk melihatnya. Aku hanya melihatnya sekilas dan bayimu sudah dibawa petugas untuk dimakamkan!“
Hermes memeluk Dior yang saat ini merasa sangat rapuh karena kehilangan bayinya. “Semua akan baik-baik saja!“
“Kau masih dalam tahap observasi, dokter akan terus memantau keadaanmu untuk memastikan semuanya kembali normal!“
Dior tidak bisa berkata-kata lagi, dari sini dia bisa merasakan kasih sayang kakaknya. Tangannya mengelus pipi Hermes dengan lembut dan berusaha tersenyum.
“Aku harap suatu saat ada wanita yang tulus mencintaimu, Kak. Lupakanlah Chanel dan bukalah hatimu untuk wanita lain!“ ucap Dior kemudian.
“Bukan saatnya memikirkan hal seperti itu!“ sahut Hermes yang tidak habis pikir.
“Tapi itu salah satu doaku!“ timpal Dior lagi dengan penuh penekanan seolah ada makna tersirat di dalamnya.
Dan tak lama pintu ruangan Dior dirawat terbuka, Valentino masuk dengan terengah karena saat sampai dia langsung berlarian menuju ruangan tersebut.
Hermes yang melihat itu tidak tinggal diam, dia mendekat dan mencengkram kerah baju Valentino dengan kuat.
“Tepati janjimu untuk menjaga adikku kali ini! Aku sudah banyak membantumu jadi jika kau melanggarnya, habislah kau!“ ancamnya.
Valentino langsung melepas cengkraman Hermes lalu memperbaiki bajunya segera.
__ADS_1
“Kalau aku melanggar tidak mungkin aku kembali kesini!“ ucap Valentino penuh penekanan.
Merasa jika emosinya tak terkendali, Hermes lebih memilih keluar dari ruangan tersebut membiarkan sepasang suami istri menghabiskan waktu mereka berdua.
Saat pintu sudah tertutup, Valentino mendekati Dior yang menatapnya dengan berkaca-kaca. Valentino memeluk Dior dengan lembut dengan mengusap rambut istrinya.
“Aku kembali Sayang! Relakan bayi kita!“ bujuk Valentino kemudian. “Aku akan ke makamnya setelah itu kembali kesini!“
“Disini saja temani aku, Val,“ sahut Dior dengan nada yang lemah membuat Valentino tidak tega.
“Baiklah, tapi cepatlah pulih!“
*****
Chanel kembali ke villa seorang diri tapi saat dia sampai sudah disambut oleh penjaga villa dan seorang asisten rumah tangga yang sudah berumur.
“Perkenalkan saya Bi Tuti yang akan melayani Nona!“ ucapnya memperkenalkan diri.
“Maaf Nona tapi__“
“Apa aku perlu mengadukanmu pada kak Valen?“
“Ja__ jangan!“
Chanel tersenyum kemenangan lalu dia bertanya. “Apa Bi Tuti bisa membuat rujak? Aku tiba-tiba ingin makan itu!“
“Saya bisa Nona, eh maksudnya Chanel. Saya akan siapkan kebetulan tadi saya mengecek kulkas dan ada beberapa buah-buahan yang bisa dijadikan rujak!“
“Aku akan menunggu di kamar!“
Setelah itu, Chanel melangkah menuju kamarnya yang sebelumnya dia tempati bersama Valentino. Saat sampai di kamar Chanel mematung melihat ranjang yang masih berantakan.
__ADS_1
Chanel memejamkan matanya dan berusaha menguatkan hatinya. Bohong kalau sekarang dia baik-baik saja bahkan rasanya begitu menyesakkan dada.
Dia terus melamun di balkon sampai pintu kamarnya diketuk dan Bi Tuti masuk dengan membawa rujak yang sudah jadi.
“Rujaknya sudah jadi!“
Chanel mendekat dan langsung mengelap mulutnya seolah air liurnya menetes. “Aku tidak sabar memakannya!“
Tanpa menunggu Chanel menyuapkan satu sendok ke mulutnya. “Hm, ini sangat enak!“
Bi Tuti tersenyum melihat Chanel yang begitu menikmati rujak dan fokusnya teralihkan ke perut Chanel.
“Usianya 4 bulan!“ ucap Chanel tiba-tiba, seolah dia tahu apa yang ada dipikiran wanita paruh baya itu.
“Ngh, maaf!“ Bi Tuti langsung tergagap.
“Kenapa minta maaf? Aku bukan simpanan kak Valen, aku istri keduanya. Aku disini sampai bayiku siap dilahirkan!“ ucap Chanel lagi.
Bi Tuti semakin terkesiap, dia tidak tahu jika Valentino sudah menikah apalagi mempunyai dua istri.
Chanel terkekeh melihat ekspresi Bi Tuti yang kebingungan. Sampai dia merasakan perutnya bergerak dengan aneh dan dia merasakan satu tendangan di dalam sana.
“Argh!“ pekik Chanel kaget.
“Kenapa?“ tanya Bi Tuti panik.
“Bayiku menendang!“
“Apa itu gerakan pertamanya?“
Chanel mengangguk dan memeluk perutnya, dia masih asing dan timbul perasaan aneh dalam dirinya.
__ADS_1