Selir BADASS

Selir BADASS
Hilang


__ADS_3

Valentino terkekeh mendengar alasan Chanel lalu dia menunduk dan berbisik ditelinga istrinya itu. “Kali ini jangan menolakku, Chanel!“


Dan Valentino langsung memeluk Chanel dengan erat, menenggelamkan wajahnya ke salah satu sisi leher istrinya.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Katakan!“


Chanel tidak bisa menjawab, mereka berdua terdiam sampai akhirnya terlelap dengan saling berpelukan.


Menjelang malam, Valentino baru terbangun dan saat dia membuka mata ternyata posisinya masih menindih Chanel. Dengan perlahan dia menjauhkan dirinya karena takut menyakiti kandungan Chanel.


Chanel masih terlelap dengan badan yang setengah bertelanjang. Sebelum Valentino menaikkan selimut, dia mengecup perut Chanel sejenak dan mengusapnya.


Menerima sentuhan seperti itu, Chanel langsung berjingkat karena perut adalah titik paling sensitif bagi dirinya.


“Apa aku mengganggu tidurmu?“ tanya Valentino yang melihat pergerakan Chanel dan melihat matanya terbuka.


Chanel langsung menarik selimut untuk menutupi dirinya dan mengingat kejadian sebelumnya.


“Astaga, apa kita ketiduran?“ pekik Chanel. “Lebih baik kakak cepat pulang pasti kak Dior menunggu kepulanganmu!“


Valentino menghela nafasnya dan menatap Chanel di sana. “Ayo kita pulang bersama!“

__ADS_1


“Pulang? Aku tidak punya tempat untuk pulang!“


“Jadikan aku tempatmu pulang, Chanel! Aku tidak bisa menceraikanmu karena kau hamil sekarang! Itu hasil memperkosaku, 'kan?“


Chanel langsung memalingkan wajahnya karena malu, dia merutuki kebodohannya waktu itu.


“Aku membuatnya sendiri jadi aku mempunyai hak penuh pada bayiku!“


“Dengan memberikannya pada Dior?“


“Hanya itu solusinya!“


Valentino langsung mendekati Chanel tapi istrinya itu masih berusaha menghindarinya.


“Bagaimana jika ada solusi lain? Bagaimana jika kita membesarkan anak kita bertiga?“ tawar Valentino.


Chanel menggeleng. “Tidak akan semudah itu! Bagaimana dengan mama? Bagaimana dengan keluarga kak Dior dan bagaimana dengan kak Dior sendiri?“


“Aku tahu dia sakit hati dan aku bisa merasakannya, Kak!“


Chanel membelai wajah Valentino. “Aku sudah memikirkan semuanya!“

__ADS_1


*****


Sekali lagi, Chanel menolak Valentino. Kedua istrinya sungguh sama-sama keras kepala dan itu membuat Valentino kewalahan sendiri. Tapi setidaknya Chanel dan bayinya sehat sekarang dia harus fokus pada Dior.


Valentino kembali ke apartemen dan dia begitu terkejut saat mendapat laporan dari suster jika Dior pergi tanpa memberitahunya dimana.


“Bagaimana bisa?“ geram Valentino bercampur rasa cemas luar biasa.


Akhirnya dia mencoba menghubungi Hermes untuk menanyakan keadaan Dior pada kakak iparnya.


“Apa Dior ada disana?“ tanya Valentino.


Saat itu Hermes tengah mabuk-mabukan karena ditolak oleh Chanel, jadi dia menjawab secara asal-asalan.


“Kau masih ingat istrimu? Aku bahkan masih jomblo dan kau sudah mempunyai dua istri padahal aku lebih tampan!“ ucapnya parau.


Merasa Hermes ngawur, akhirnya Valentino pergi ke rumah mertuanya berharap Dior menginap disana. Benar kata Chanel, dia telah menyakiti hati Dior ditengah kondisinya saat ini.


Dia akan berusaha berbesar hati untuk melepas Chanel dan memantapkan hatinya untuk istrinya, Dior.


Tapi sayang saat di kediaman Maheswari justru Valentino diberondong pertanyaan bagaimana bisa Dior menghilang?

__ADS_1


“Aku sudah berbaik hati tidak mengusirmu dan membiarkanmu masuk ke rumahku tapi apa ini? Kau menanyakan keberadaan putriku? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Dimana Dior dan bagaimana keadaannya? Aku menahan diriku karena dia sedang hamil!“ ucap Maheswari gusar.


Valentino mengusap wajahnya kasar, jika terjadi sesuatu pada Dior, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


__ADS_2