
Hidup Valentino seperti mati segan hidup tak mau, dia kehilangan dua istrinya sekaligus ditambah Amelia yang marah padanya.
Pertama, karena dia diam-diam menikahi Dior. Kedua, karena Chanel yang pergi entah kemana.
“Papa pasti kecewa padamu, Valen. Kau tidak bisa memenuhi amanatnya!“
Kalimat itu yang selalu terngiang dikepala Valentino sekarang. Sudah hampir sebulan hidupnya serampangan. Dia terus pergi ke rumah keluarga Dior tapi selalu diakhiri oleh pengusiran, dia juga mencoba mencari Chanel tapi tak kunjung ketemu.
“Tidak ada jejak apapun, Bos,“ lapor Yuda setiap hari.
Valentino mendesah pelan, seharusnya dia senang Chanel sudah pergi tapi kenapa justru dia mengkhawatirkan istri keduanya itu yang paling gila dia merindukannya.
Valentino meraih berkas di amplop coklat, berkas dimana Chanel menandatangani surat perceraian tapi Valentino enggan membubuhkan tanda tangannya disana.
Bayangan Chanel menggunakan baju haram dan juga cumbuan istrinya itu tidak bisa hilang dari ingatannya.
“Chanel__“ geramnya.
Valentino berusaha mengalihkan pikirannya untuk menemui Dior kembali. Dia keluar dari ruangan kantornya dan pergi ke ruangan Yuda berada. Sebelumnya dia berhenti di ruangan yang biasanya di tempati Chanel yang sekarang diisi oleh sekretaris baru.
“Bos__“ panggil Yuda yang baru keluar dari ruangannya dan melihat Valentino mematung berdiri dengan menatap ruangan sekretaris.
__ADS_1
Valentino langsung tersadar dan berdehem. “Aku akan menemui Dior jadi aku pulang cepat hari ini!“
Setelah berkata seperti itu, Valentino turun ke lantai dasar dan langsung menuju parkiran basement dimana mobilnya berada.
Tapi sayang saat sampai di rumah Dior lagi-lagi dia dihadang oleh para bodyguard disana.
“Maaf anda tidak bisa masuk, Tuan,“ ucap salah satunya.
Dan Dior hanya bisa melihat suaminya dari balkon kamarnya. Semenjak dia diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Dior tinggal bersama orangtuanya.
Valentino tentu saja tidak terima dan berusaha bertemu istrinya tapi pengusiran demi pengusiran yang dia dapatkan. Hingga kini Maheswari menyewa beberapa bodyguard untuk memastikan Valentino tidak lagi menemui putrinya.
Mata Dior berkaca-kaca melihat suaminya, bukan hal itu saja yang dia pikirkan tapi sebuah rahasia besar yang membuatnya bimbang.
Sebelumnya saat Dior akan pulang dari rumah sakit, dokter kandungan yang memeriksanya memberi kabar buruk.
“Maaf Nyonya, saya harus memberitahu hal penting ini!“ ucap Dokter.
“Apa itu, Dok? Bukankah kandunganku baik-baik saja!“ sahut Dior.
“Saya sebenarnya sudah curiga untuk itu saya mengambil sampel darah supaya lebih akurat. Dan__“
__ADS_1
“Dugaan saya ternyata benar, kehamilan anda mengalami Peripartum Cardiomyopathy.“
“Peripartum Cardiomyopathy atau Postpartum Cardiomyopathy (PPCM). PPCM berbahaya bagi ibu hamil maupun ibu yang baru melahirkan. PPCM merupakan gangguan pada otot jantung. Gangguan tersebut mengakibatkan berkurangnya kekuatan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh.“
Dior langsung meremas ujung bajunya karena bayi yang dia kandung harapan untuk pernikahan dengan Valentino mendapat restu.
“Lantas bagaimana cara mencegahnya, Dok?“ tanya Dior bergetar.
“Kalau kehamilan diteruskan itu akan membahayakan ibu dan bayinya. Jadi saya sarankan untuk menghentikan kehamilan!“ sahut Dokter.
“Tapi bagaimana jika aku memilih mempertahankan bayiku, Dok?“
Dokter itu tampak menarik nafasnya dalam. “Maka nyawa Anda taruhannya!“
Kalimat yang membuat Dior merasa seperti memakan buah simalakama.
“Aku mohon rahasiakan kondisiku, Dok!“ pinta Dior.
“Suami dan keluarga harus tahu kondisi anda, Nyonya. Karena ini kondisi yang serius!“
Dior menggeleng. “Aku yang akan berbicara pada keluargaku sendiri!“
__ADS_1