
Chanel segera berlari kecil saat melihat baby Louis dibawa ke ruang bayi. Dia hanya bisa melihat bayi itu di dinding kaca, air matanya tak bisa berhenti menetes saat melihat keadaan bayi yang masih merah dengan kondisi lahir prematur. Tubuh kecil itu bahkan sudah dipasang dengan alat-alat penunjang kehidupan.
“Apa keadaan bayinya baik-baik saja?“ tanya Chanel saat salah satu perawat keluar dari ruangan tersebut. “Bayi yang baru saja dibawa masuk!“
“Keadaan bayi sangat lemah karena sebelumnya ibunya sudah dalam kondisi kritis,“ jelas perawat itu.
Chanel menutup mulutnya dengan kedua tangannya tidak percaya.
“Apa anda salah satu keluarganya? lebih baik berdoa supaya bayi bisa bertahan. Kami akan berusaha memberi penanganan terbaik!“ tambahnya.
Perasaan Chanel semakin tak karuan, bayi itu harus selamat jika tidak pasti perjuangan Dior akan sia-sia. Tunggu, lalu bagaimana keadaan Dior?
Chanel bergegas kembali ke ruang operasi tapi saat kembali, orangtua Dior sudah berada di sana. Hermes merasa orangtuanya perlu tahu keadaan Dior yang kritis, untuk itu dia meminta orangtuanya datang.
Dalam pelukan suaminya mami Dior menangis tersedu setelah mendengar penjelasan dari anak laki-lakinya.
Bersamaan dengan itu, Valentino keluar dari ruang operasi dengan lesu dan matanya yang sembab.
“Bagaimana keadaan Dior?“ tanya Maheswari tidak sabar.
Valentino hanya menggelengkan kepala tanpa kata dan itu sudah cukup sebagai jawaban bagaimana keadaan Dior sekarang.
__ADS_1
Jeritan tangis dari maminya semakin menjadi disusul dengan Hermes dan Maheswari yang juga meneteskan air mata mereka.
Chanel yang melihat itu semua jadi serba salah, dia akhirnya berbalik ingin menjauh tapi baru beberapa langkah dia melihat Amelia yang baru saja datang. Amelia tentu saja kaget melihat Chanel ada di sana.
“Chanel, kenapa ada disini? Dan__“ ucapan Amelia menggantung karena melihat perut buncit Chanel. “Kau hamil?“
Chanel semakin bingung harus bagaimana, keadaan semakin rumit membuatnya posisinya jadi sulit.
“Ma, akan aku jelaskan nanti. Tapi, aku sekarang ingin pulang!“ ucap Chanel kemudian.
Tapi Amelia justru mencekal tangannya dan membawanya mendekat ke arah besannya yang dalam suasana berkabung.
Valentino mengangguk dan pandangannya menatap Chanel di sana. Matanya melihat perut Chanel dan tumbuh perasaan trauma dalam diri Valentino, dia takut jika Chanel akan meninggalkannya seperti yang dilakukan Dior.
Dengan cepat, Valentino memeluk Chanel dengan erat dengan menumpahkan seluruh perasaan yang menyesakkan di dadanya.
“Jangan tinggalkan aku. Aku mohon!“ ucapnya parau.
Tangan Chanel mengusap punggung suaminya berusaha menenangkan dan berkata. “Aku disini, aku tidak akan meninggalkanmu, Kak!“
Dan interaksi keduanya tentu saja dilihat oleh keluarga Dior yang membuat Maheswari tersulut emosi.
__ADS_1
“Putriku bahkan masih di dalam sana tapi kau malah memeluk wanita lain disini!“ pekiknya.
Valentino melepaskan pelukannya pada Chanel lalu menggandeng tangan istrinya itu. Sekarang atau nanti pada akhirnya semua juga akan tahu, jadi Valentino tidak akan pernah menutup-nutupi semuanya lagi.
“Chanel adalah istri keduaku!“ ucapnya lantang.
“Apa-apaan ini! Beraninya kau menikahi wanita lain!“ Maheswari semakin geram.
Hermes yang melihat papinya yang emosi berusaha menenangkan. “Sudah Pi, nanti akan aku jelaskan!“
“Kau tahu semuanya? Kau tahu adikmu dimadu?“
Keadaan semakin tidak kondusif, Maheswari semakin emosi karena merasa putrinya dipermainkan.
Dengan membabi buta Maheswari mendekati Valentino karena ingin menghajarnya habis-habisan.
“Aku pikir kau berbeda dengan Bagaskara tapi ternyata aku salah. Kau sama saja dengan papamu yang brengseek itu!“ ucap Maheswari dengan mengepalkan kedua tangannya.
Saat dia akan melayangkan bogem mentahnya tiba-tiba ada sebuah suara pria yang menggema di sana untuk menghentikan aksi brutal Maheswari.
“Tolong berhenti, Tuan!“
__ADS_1