
Semuanya sudah diperhitungkan oleh Dior sebelumnya, pasti saat dirinya tiada nanti keluarganya akan kembali menyalahkan keluarga suaminya.
Untuk itu, Dior menulis surat untuk keluarganya dan menjelaskan semuanya agar Chanel dan Valentino tidak akan di salahkan. Dior menitipkan semua itu pada pengacaranya, dia berharap tidak akan ada salah paham dan permusuhan lagi.
Pengacara itu sudah dihubungi oleh dokter supaya datang ke rumah sakit, karena sebelumnya dokter juga membantu Dior untuk menutupi semuanya tentu saja dia tidak mau dituntut. Hal itu juga sudah diperhitungkan oleh Dior sebelumnya.
“Tolong berhenti, Tuan!“
Beruntung pengacara itu datang tepat waktu, kalau tidak pasti masalah akan tambah rumit lagi.
Semua yang ada di sana menoleh ke arah pengacara dan Maheswari sangat mengenal pengacara itu.
“Hendra!“ panggilnya.
“Iya Tuan, saya kesini untuk menyampaikan pesan yang ditinggalkan nona Dior!“
Hendra membuka tas yang dia bawa, ditas itu berisi beberapa lembar surat. Hendra memberikannya pada semua orang di sana sesuai nama yang ada di amplop surat itu.
Dior menuliskan beberapa surat untuk orang yang dia sayangi, dia menuliskan rasa sayangnya kepada mereka dan juga alasan kenapa dia memutuskan untuk tetap melanjutkan kehamilan ditambah foto-foto USG yang dia selipkan disetiap surat.
Setiap kata yang ditulis Dior yang mereka baca membuat hati siapa saja tersentuh.
__ADS_1
“Kau pasti Chanel, 'kan?“ tanya Hendra saat akan memberikan surat pada Chanel, punya Chanel lebih special karena amplopnya lebih besar.
“Iya,“ jawab Chanel.
“Nona Dior berpesan memberikan ini padamu!“
Chanel menerima amplop besar itu dan mulai membaca surat yang ditinggalkan Dior untuknya.
Dear : Chanel
Saat kau menerima surat ini mungkin aku sudah pergi dan tak akan kembali. Aku menitipkan suami dan anakku padamu, kau tidak boleh menolak. Karena mereka adalah masa depanmu, buang jauh-jauh keinginanmu pergi ke Jepang. Aku akan menghantuimu seumur hidupmu jika kau tetap melakukannya.
Berbahagialah Chanel, aku menyayangimu seperti adikku sendiri.
Chanel terus menangis dan memeluk surat itu. “Kau memang keren, Kak!“
Di lembaran berikutnya, ada sebuah sertifikat kepemilikan butik Dior yang diganti kepemilikannya dengan Chanel. Dan juga ada rancangan baju pengantin yang di gambar oleh Dior sendiri untuk Chanel.
“Itu semua pemberian dari nona Dior untuk anda dan tidak ada penolakan!“ ucap Hendra lagi.
*****
__ADS_1
Dior dimakamkan di pemakaman keluarga Bagaskara, semua datang ke pemakaman kecuali Chanel karena dia menjaga baby Louis di rumah sakit.
Keluarga Maheswari sudah menerima kepergian Dior dengan ikhlas setelah membaca surat yang ditinggalkan Dior untuk mereka.
Semuanya masih berdiri memandang makam Dior yang masih basah dimana di sana Valentino yang masih setia berlutut dan memegangi pusara istrinya.
“Sudah Val, sekarang ada Louis yang harus kita jaga. Kita ikhlaskan Dior!“ bujuk Amelia.
Hermes yang melihat orangtuanya yang masih berdiri mematung juga berusaha membujuk mereka.
“Mi, Pi. Ayo kita pulang, hari akan hujan!“ ucapnya.
“Kita kembali ke rumah sakit untuk mengambil Louis, kita rawat di rumah! Papi akan meminta pihak rumah sakit mempersiapkan semua keperluan Louis!“ sahut Maheswari tegas.
“Tapi Pi__“
“Aku memang sudah mengikhlaskan Dior pergi tapi tidak dengan dia yang dimadu!“
“Chanel juga berusaha membujuk Dior untuk menghentikan kehamilan dan akan memberikan anaknya. Bahkan dia memilih mundur, Pi. Tapi Dior yang memilih jalannya sendiri!“
Hermes masih berusaha membujuk papinya dan hal itu tentu saja di dengar oleh Valentino.
__ADS_1
“Biarkan Louis bersama kami, Pi,“ timpal Valentino.
“Bukankah kau akan mendapat anak dari istri keduamu? apa itu tidak cukup?“ tanya Maheswari dengan gusar.