
Di rumah sakit, Chanel dengan setia menjaga baby Louis yang masih berada di inkubator. Walaupun tidak diperbolehkan masuk, Chanel melihat dari dinding kaca di ruangan bayi tersebut.
“Makan dulu, Chanel!“ bujuk Bi Tuti untuk kesekian kalinya karena Chanel tidak mau makan dan membuatnya khawatir.
“Ingat bayimu!“
Chanel langsung menoleh ke arah Bi Tuti dengan sayu. “Apa Louis akan baik-baik saja?“
“Aku yakin dia adalah bayi yang kuat!“ jawab Bi Tuti mencoba menghibur.
Bayi di perut Chanel mulai menendang, dia langsung tersadar jika dirinya tidak boleh egois. Chanel menyuapkan makanan yang dibeli Bi Tuti untuknya tapi baru beberapa suap dia melihat beberapa perawat yang tampak sibuk di ruang bayi.
“Ada apa?“ tanya Chanel mulai khawatir.
“Lanjutkan makanmu, biar aku yang melihatnya!“ sahut Bi Tuti berdiri dari tempatnya dan berjalan ke ruang bayi.
Bi Tuti menghentikan salah satu perawat dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi karena sepertinya ada keadaan gawat.
“Tidak perlu khawatir, kami hanya akan memindahkan bayi tuan Valentino!“ ucapnya.
“Bayinya sudah boleh dibawa pulang?“ tanya Bi Tuti semakin penasaran.
“Keluarga dari bayi meminta perawatan di rumah dengan dampingan perawatan secara pribadi!“ jelasnya lagi.
Bi Tuti berpikir itu adalah permintaan keluarga Valentino tapi ternyata dia salah karena keluarga dari Dior yang memintanya.
__ADS_1
Setelah dari pemakaman keluarga Dior langsung pergi ke rumah sakit, sebelumnya Maheswari sudah meminta orang kepercayaannya untuk mengurus kepulangan baby Louis.
“Bagaimana?“ tanya Chanel saat Bi Tuti kembali.
“Bayi Louis akan dibawa pulang dan pihak keluarga nona Dior yang memintanya!“ jawab Bi Tuti.
“Apa?“ Chanel langsung berdiri dan mencoba mencegah para perawat.
Tapi sayang baby Louis sudah dibawa ke lantai bawah di mana keluarga Dior sudah menunggunya. Chanel turun menggunakan lift berharap masih bisa mencegah mereka.
Kehamilannya membuat Chanel harus berhati-hati jadi dia tidak bisa berlarian seperti dulu dan akhirnya dia kalah cepat, baby Louis sudah berada di dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah sakit.
“Louis!“ panggil Chanel sekuat tenaga.
“Kak Hermes!“ ucap Chanel saat menoleh dan melihat siapa yang mencekalnya.
“Orangtuaku masih butuh waktu untuk menerima keadaan jadi lebih baik kita tunggu keadaan tenang dulu!“ ucap Hermes mencoba memberi pengertian.
“Aku akan berusaha membujuk mereka!“ tambahnya.
Lalu Hermes semakin mendekati Chanel untuk mengusap air mata yang jatuh di pipi mulusnya. Hermes menyatukan kening mereka dengan memejamkan matanya.
“Sekarang aku benar-benar tidak mempunyai kesempatan lagi, Chanel!“ ucapnya.
Chanel tidak bisa menjawab apapun, dia hanya bisa menatap pria itu dengan mengusap rahangnya.
__ADS_1
“Aku belum bisa membalas budi padamu, Kak!“
“Kau bisa membalasnya dengan merawat Louis, aku akan memastikan jika Louis akan berada di gendonganmu!“
Chanel mengangguk dan percaya sepenuhnya pada pria itu.
“Sekarang aku akan menyusul orangtuaku! Kau tunggulah disini pasti sebentar lagi Valen akan menjemputmu!“ ucap Hermes saat akan pergi meninggalkan rumah sakit.
Dan benar kata Hermes saat pria itu sudah meninggalkan rumah sakit tak lama kemudian Valentino datang untuk menjemput Chanel.
Saat melihat Chanel yang menunggunya, Valentino langsung keluar dari mobil. Dia berdiri dengan merentangkan kedua tangannya.
Sementara Chanel masih bergeming dengan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya.
Kak Valen jadi suaminya seutuhnya sekarang? Apa dia pantas bahagia diatas pengorbanan Dior?
Tapi, ini yang diinginkan oleh Dior bukan?
Chanel mendekati Valentino perlahan, kedua tangan kekar itu langsung mendekap tubuhnya membuat Chanel membalas pelukan suaminya.
“Kau istriku satu-satunya, Chanel!“ lirih Valentino.
“Kau suka istri gemoy 'kan, Kak?“
“Hm, aku suka istri gemoy!“
__ADS_1