Selir BADASS

Selir BADASS
Akhir Perjuangan


__ADS_3

Valentino yang seharusnya melakukan rapat penting hari ini akhirnya membatalkan rapatnya untuk menyusul Dior di rumah sakit.


Dia belum tahu apa-apa, Hermes hanya memberi pesan pada asistennya dengan nada perintah yang kental apapun yang terjadi Valentino harus datang ke rumah sakit.


“Kenapa perasaanku tidak enak,“ gumamnya.


Lalu dia mencoba menghubungi Amelia dan menanyakan keadaan istri pertamanya. Dan Amelia berkata jika Dior berpamitan pergi dari pagi setelah Valentino berangkat kerja.


Valentino semakin gusar, dia menghubungi Bi Tuti di villa dan ternyata Bi Tuti ikut ke rumah sakit karena membantu Chanel di sana.


“Ada apa sebenarnya?“ gumam Valentino memijit pelipisnya.


“Tambah kecepatan!“ perintahnya kemudian pada Yuda yang menyetir mobil.


“Di depan macet parah, Bos. Sepertinya ada kecelakaan!“ sahut Yuda mengamati jalanan.


Karena tidak mau menunggu, Valentino keluar mobil dan berlari mencari pengendara motor yang bisa membawanya ke rumah sakit melewati kemacetan.


Dengan sejumlah uang akhirnya ada yang mau mengantar Valentino ke rumah sakit dengan melewati gang-gang tikus.

__ADS_1


“Terimakasih,“ ucapnya saat sampai.


Valentino segera berlari menuju resepsionis untuk menanyakan pasien atas nama Dior. Dan resepsionis memberi informasi jika Dior saat ini sedang berada di ruang operasi.


Jantung Valentino semakin berdebar tak karuan, dengan cepat dia menuju ruangan operasi dimana disana Chanel tengah menangis dipelukan Bi Tuti sementara Hermes yang duduk lesu dengan wajah tertunduk.


“Apa yang sebenarnya terjadi?“ tanya Valentino gusar.


Hermes langsung menegakkan badannya Dan berdiri menghampiri Valentino. “Masuklah ke ruang operasi, Dior membutuhkanmu sekarang!“


Perkataan Hermes seolah menjadi jawaban atas pertanyaan demi pertanyaan di kepalanya. Valentino yakin bahwa selama ini Dior telah menipunya, dia mengingat kenapa setiap malam istrinya itu seolah menjaga jarak darinya. Terkadang Dior lama di kamar mandi pasti sedang menahan rasa sakitnya seorang diri.


“Val__“ panggil Dior lemah saat melihat suaminya mendekat.


Valentino menunduk dan mengecup kening istrinya tanpa satu kata pun terucap dari mulutnya.


“Val, bayi kita laki-laki. Aku memberinya nama Louis, dia pasti akan tampan sepertimu!“ ucap Dior lagi.


Valentino hanya menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


“Apa kau mencintaiku, Val?“ tanya Dior.


“Tentu saja aku mencintaimu,“ jawab Valentino cepat.


“Sekarang berikan cinta itu sepenuhnya pada Chanel, kau tidak perlu membagi cintamu lagi!“


Dior tersenyum dengan meneteskan air matanya, dia tidak mampu berucap lagi karena rasanya dia melihat ada cahaya yang sudah menjemputnya.


“Sayang__“ panggil Valentino saat melihat mata istrinya mulai terpejam.


“Please, bertahanlah! Kau tidak ingin melihat bayi kita?“


Dior sudah memejamkan matanya tapi masih mendengar suara Valentino sayup-sayup. Air matanya terus menetes, dia merasakan sakit yang dia tahan selama ini terlepas secara perlahan.


Saat bayi sudah berhasil keluar, di saat itulah alat pendeteksi jantung yang sebelumnya dipasang ditubuh Dior menampilkan garis panjang menandakan sudah berakhir perjuangannya selama ini.


Suara tangis memenuhi ruangan itu, bayi yang terlahir prematur itu bahkan berat badannya belum sampai 2kg. Setelah dibersihkan, bayi ditaruh kedalam inkubator untuk observasi lebih lanjut.


Dokter dan perawat sudah memberikan penanganan sebaik mungkin tapi Yang Maha Kuasa berkehendak lain.

__ADS_1


Valentino bergeming di tempatnya, dia terus menciumi wajah istrinya yang sudah tiada. Rasanya dia ingin marah tapi bingung marah dengan siapa akhirnya dia berusaha untuk menerima keputusan yang telah diambil Dior. Terakhir dia mencium kening istrinya dan berbisik. “Tenanglah di surga, Sayang. Aku akan menjaga dan merawat anak kita dengan baik. Terimakasih telah berjuang!“


__ADS_2