
“Dingin?“
Valentino langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang istrinya karena merasa Chanel kedinginan. Sementara Chanel yang kelelahan akan terhanyut dalam mimpinya.
Rasanya sangat berbeda saat dia memperkosa Valentino yang tidak sadarkan diri waktu itu. Dalam keadaan sadar ternyata Valentino bergerak sangat aktif membuatnya memekik kesakitan dan kewalahan tidak bisa mengimbangi permainan suaminya.
“Mau minum? Kau pasti kehausan!“ goda Valentino yang masih terngiang suara-suara Chanel yang menikmati permainannya tadi.
Chanel hanya bergumam dan bersuara lemah menahan malu. “Mau tidur!“
Valentino terkekeh melihat itu, Chanel begitu menggemaskan. Sudah dipastikan dia tidak berpengalaman sama sekali tapi beraninya memperkosanya sampai hamil.
“Aku penasaran, berapa kali kau meniduriku sampai perutmu bisa cacingan begitu?“
Lagi-lagi Valentino menggoda Chanel sementara yang digoda masih samar-samar mendengar suara suaminya yang membuat wajahnya merona. Chanel berpura-pura tidak mendengar sampai akhirnya dia tertidur juga.
Merasa nafas Chanel mulai teratur, Valentino merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya dan menghadiahi kecupan-kecupan kecil di puncak kepala Chanel sembari mengelusnya.
*****
Keesokan paginya, Valentino terbangun dan terkejut karena tidak mendapati Chanel disampingnya. Dia memindai kamar berharap Chanel di sekitar sana tapi wanita hamil itu tidak ada.
__ADS_1
Valentino buru-buru memakai jubah tidurnya untuk keluar kamar. Dan dia bernafas lega karena mendapati Chanel tengah memasak di dapur villa.
Kakinya terus melangkah mendekati istrinya yang sibuk memasak seorang diri dan langsung memeluk tubuh Chanel dari belakang membuat empunya berjingkat kaget.
“Astaga!“ pekik Chanel.
Seketika wajah Chanel langsung merona mengingat percintaan panas mereka semalam. Dia tidak berani membalik tubuhnya jadi dia membiarkan saja Valentino yang memeluknya.
“Apa kau baik-baik saja?“ tanya Valentino tiba-tiba.
“Memangnya kenapa?“ tanya Chanel balik.
Chanel langsung berdehem. “Bayinya baik-baik saja! Menjauhlah, Kak. Aku ingin menyelesaikan masakanku!“
Tapi tanpa Chanel duga, justru Valentino malah mematikan kompornya dan membalik tubuhnya.
Mata Chanel beradu dengan mata Valentino yang berkabut. Dia langsung tertunduk tapi suaminya itu langsung meraih dagunya dengan cepat, Valentino merasa geli dengan sikap Chanel yang malu-malu.
“Aku ingin bercinta lagi!“ ucap Valentino dengan menaikkan tubuh Chanel di pantry dapur.
“Kak__ kita makan dulu!“ tolak Chanel saat Valentino mulai mencumbu lehernya dengan posesif.
__ADS_1
“Kita selesaikan satu permainan!“ sahut Valentino dengan mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya. “Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu bersamamu!“
Setelah itu dia menggigit pelan telinga itu membuat Chanel langsung menggelinjang. Saat Valentino membuka jubah tidurnya, Chanel memalingkan wajahnya.
“Tatap aku Chanel, kita akan membuat kenangan indah disini!“ pinta Valentino.
Benar apa yang dikatakan suaminya, bukankah mereka kemari ingin menghabiskan waktu bersama?
Chanel menghilangkan semua rasa malunya karena sebentar lagi mereka tidak akan bisa seperti ini.
Tangannya meraup wajah Valentino dengan kedua tangannya lalu tanpa ragu Chanel mulai mencium bibir suaminya.
Tentu saja Valentino menyambutnya dengan suka cita, mereka memulai pagi dengan penyatuan yang begitu menggelora.
Erangan terus keluar dari mulut Chanel saat Valentino begitu aktif bergerak menguasai tubuhnya. Walaupun begitu Valentino melakukannya dengan begitu lembut karena memikirkan kondisi Chanel yang tengah hamil.
Tangan Chanel melingkar dilehernya yang kokoh membuat mata mereka beradu.
“I love you kak Valen,“ ucap Chanel yang menikmati setiap hentakan suaminya.
Valentino mengecup bibir istrinya sejenak. “I love you too, Chanel. Keluarkan semuanya karena sekarang hanya dunia kita berdua!“
__ADS_1